Metode Penyusutan: Pengertian dan Metodenya

Updated
June 10, 2022
• Waktu baca 4 Menit
Gambar Metode Penyusutan: Pengertian dan Metodenya
Reading Time: 4 minutes

Dalam ilmu akuntansi terdapat istilah yang cukup populer yaitu metode penyusutan. Metode penyusutan atau sering disebut dengan depresiasi digunakan untuk mengalokasikan nilai aset yang berwujud selama penggunaannya.

Dengan penyusutan ini tentunya akan menunjukkan seberapa banyak nilai aset yang sudah digunakan. Hal ini memungkinkan perusahaan dapat memperoleh pendapatan dari aset yang mereka miliki dengan cara membayarnya selama jangka waktu tertentu. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai metode penyusutan, berikut ini penjelasan selengkapnya.

Apa itu Metode Penyusutan?

Penyusutan itu sendiri dapat diartikan sebagai ukuran habisnya usia efektif dari suatu aset karena sebab apapun selama periode tertentu. Penyusutan biasanya dialokasikan untuk memasukan beban ke beberapa dari jumlah aset yang bisa disusutkan dalam setiap periode selama masa penggunaannya.

Penyusutan ini juga dikenal dengan depresiasi yang berasal dari bahasa latin yaitu depretium. Kata depretium ini juga dapat dibagi menjadi dua arti yakni de berarti penurunan dan pretium berarti harga.

Sehingga secara istilah, penyusutan dapat diartikan sebagai penurunan nilai suatu aset. Meski demikian, tidak semua aset tersebut bisa disusutkan. Ada beberapa aset saja seperti bangunan, mesin, pabrik, perlengkapan rumah atau furnitur, dan sebagainya.

Hal ini mengacu kepada penurunan yang terjadi secara bertahap atau kerugian nilai utilitas dari suatu aset yang disebabkan karena kausan dalam penggunaan, penghabisan waktunya atau keusangan aset tersebut.

Baca Juga: Apa Itu ATH Crypto? Berikut Penjelasan dan Contohnya

Faktor yang Mempengaruhi Depresiasi

faktor yang mempengaruhi depresiasi

Perhitungan besarnya beban depresiasi untuk suatu periode akuntansi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi depresiasi atau metode penyusutan antara lain:

Nilai atau Biaya Aktual Aset (Actual Cost of the Asset)

Nilai atau biaya aktual aset merupakan harga perolehan aset yang meliputi seluruh biaya tak terduga yang dibutuhkan untuk membawa aset tersebut ke pemegangnya. Misal, biaya tersebut mencakup biaya pemasangan, pengiriman, hingga biaya tambahan untuk perbaikannya.

Perkiraan Masa Penggunaan Aset (Estimated Useful Life of the Aset)

Perkiraan atau estimasi masa penggunaan aset ini merupakan periode di mana aset tersebut bisa disusutkan dengan harapan dapat digunakan oleh perusahaan. Selain itu, bisa juga jumlah produksi yang diharapkan tersebut didapat dari penggunaan aset oleh perusahaan.

Perkiraan Nilai Residu (Estimated Residual Value of the Asset)

Adapun faktor yang ketiga yaitu perkiraan dari nilai residu. Nilai residu atau lebih dikenal dengan nilai sisa merupakan nilai yang diharapkan bisa direalisasikan ketika aset tersebut dijual pada akhir periode masa penggunaannya.

Saat nilai sisa tersebut signifikan, maka perlu dipertimbangkan untuk menghitung penyusutan. Sebaliknya, jika nilai sisa tidak signifikan maka bisa diabaikan.

Baca Juga: Apa itu Pump and Dump di Cryptocurrency dan Cara Kerjanya

Metode-metode Penyusutan

Terdapat empat metode yang biasa digunakan oleh seorang akuntan untuk menyusutkan atau mendepresiasi aset. Adapun metode-metode penyusutan tersebut sebagai berikut:

Metode Penyusutan Garis Lurus (Straight Line)

Metode ini adalah metode yang paling dasar dan umum digunakan dalam mencatat penyusutan. Dalam metode penyusutan garis lurus, menunjukkan jumlah beban sama setap tahunnya selama masa penggunaan aset hingga semua aset disusutkan ke nilai sisa.

Berikut ini rumus penyusutan metode garis lurus:

Beban Penyusutan = (Biaya – Nilai sisa) / masa penggunaan

Metode Penyusutan Saldo Menurun Ganda (Double Decline Balance)

Bila dibandingkan dengan metode lainnya, metode penyusunan saldo menurun ganda ini dapat menghasilkan jumlah yang lebih besar di mana dibebankan pada tahun-tahun sebelumnya daripada tahun selanjutnya dari masa penggunaan aset.

Selain itu, metode ini juga akan menunjukkan bahwa aset akan lebih produktif di periode awal dibandingkan periode atau tahun-tahun berikutnya. Dengan metode ini, faktor penyusutan merupakan dua kali lipat dari metode biaya garis lurus

Berikut ini rumus penyusutan saldo menurun ganda:

Beban penyusutan berkala = nilai buku awal x tingkat penyusutan

Metode Unit Produksi (Unit of Productions)

Metode ini akan menyusutkan aset berdasarkan pada jumlah waktu yang digunakan atau jumlah unit yang akan diproduksi dengan memakai aset tersebut selama dalam masa penggunaannya. Adapun rumus metode unit produksi yaitu:

Beban penyusutan = (Jumlah unit yang diproduksi / usia dalam jumlah unit) x (Biaya – Nilai sisa)

Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun (Sum of Years Digits)

Metode selanjutnya yang dapat digunakan adalah metode penyusutan jumlah angka tahun. Biasanya beban lebih tinggi pada tahun-tahun awal, sementara beban yang lebih rendah terjadi pada tahun-tahun akhir dalam masa penggunaan aset.

Dengan metode ini, sisa umur aset akan dibagi dengan jumlah tahun dan kemudian dikalikan dengan dasar penyusutan untuk menentukan biaya penyusutannya. Adapun rumus menghitungnya yaitu:

Biaya penyusutan = (Sisa umur / jumlah digit tahun) x (Biaya – Nilai sisa)

Baca juga: Tiga Penyebab Bitcoin Turun

Cara Menghitung Metode Penyusutan

cara menghitung metode penyusutan

Adapun beberapa cara menghitung metode penyusutan sebagai berikut:

Misal, perusahaan A membeli mesin seharga Rp300.000.000. Kemudian nilai sisa aset ini adalah Rp7.000.000 dan masa penggunaannya selama 10 tahun.

Metode Garis Lurus

Beban penyusutan = (Biaya – Nilai Sisa) / Masa penggunaan = (Rp300.000.000 – Rp7.000.000) / 10 = Rp29.300.000

Maka hasil pengurangan pajak tahunan perusahaan A sebesar Rp29.300.000 juta selama penggunaan aset.

Metode Saldo Menurun Ganda

Untuk menghitungnya dengan metode ini maka kita perlu membuat jadwal yakni 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8. Cara mengetahui tingkat penyusutannya kita dapat mengkalikannya dengan dua karena metode penurunan ganda.

Beban = (100% / masa penggunaan aset) x 2 = (100% x 10) x 2 = 20%

Beban penyusutan = Nilai buku awal x tingkat penyusutan = Rp300.000.000 x 20% = Rp60.000.000

Kemudian kurangi nilai buku awal dengan hasil tersebut yakni Rp300.000.000 – Rp60.000.000= Rp240.000.000, sebagai nilai buku akhir tahun pertama. Nilai Rp240.000.000 ini akan menjadi nilai buku awal tahun kedua, begitupun seterusnya hingga akhir masa penggunaan.

Penutup

Kamu sudah paham apa itu metode penyusutan, jangan lupa belajar banyak pengetahuan lain yakni seputar kripto. Kamu bisa pelajari apa itu kripto dan peluangnya bersama Pintu. jangan lupa segera install dan bergabung dengan trader lainnya bersama aplikasi Pintu!

Referensi:

Alicia Touvila, What Is Depreciation, diakses tanggal 12 Mei 2022

Accounttinglearning.com, Depreciation Methods, diakses tanggal 12 Mei 2022

The Investopedia team, Different Ways to Calculate Depreciation, diakses tanggal 12 Mei 2022

Bagikan

Artikel Terkait

Artikel Blog Terbaru

Lihat Semua Artikel ->