Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Peringatan baru dikeluarkan oleh North American Electric Reliability Corporation (NERC) mengenai kemungkinan besar terjadinya blackout (pemadaman listrik) musim dingin di berbagai wilayah Amerika Serikat. Penyebab utamanya? Lonjakan permintaan energi dari data center dan infrastruktur AI yang berkembang pesat, tanpa diiringi peningkatan suplai energi yang memadai.
Dalam laporan resmi yang dirilis 18 November 2025, NERC menyebut bahwa permintaan energi nasional naik 20 gigawatt dibanding musim dingin sebelumnya — setara dengan kapasitas beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir.
Berikut 6 poin penting dari laporan tersebut:
Menurut NERC, permintaan energi nasional naik 20 GW hanya dalam setahun, sebagian besar dipicu oleh ekspansi agresif data center dan sistem AI.
Mark Olson, Manajer Penilaian Keandalan NERC, menyebutkan bahwa lonjakan ini terutama terjadi di wilayah dengan pertumbuhan data center yang pesat sejak musim dingin lalu.
Baca Juga: Emas Mengungguli Bitcoin? Analisis Performa Aset di Tahun 2025

Meskipun konsumsi meningkat pesat, peningkatan kapasitas energi tidak berjalan seimbang. Hal ini menciptakan ketimpangan energi yang mengancam stabilitas jaringan listrik nasional.
NERC mencatat bahwa pembangkit listrik baru tidak berkembang secepat beban yang dibutuhkan untuk menopang beban AI dan data center.
Tidak seperti tahun lalu, wilayah rawan blackout kini mencakup:
Jam sinar matahari yang lebih pendek membuat energi surya tidak optimal selama musim dingin. Di sisi lain, pasokan gas rentan terganggu oleh pembekuan dan masalah pipa.
Faktor ini semakin memperburuk risiko pemadaman saat cuaca ekstrem melanda, seperti polar vortex yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
Menurut laporan, jaringan listrik AS sudah rapuh selama bertahun-tahun, dengan infrastruktur tua yang sering gagal menghadapi badai, kebakaran hutan, dan suhu ekstrem.
Ledakan pembangunan pusat data AI dan cloud computing, setelah dua dekade stagnan, kini memberikan tekanan tambahan signifikan pada sistem kelistrikan nasional.

Analisis Monitoring Analytics memperingatkan bahwa rencana membangun pusat data besar tanpa tambahan pembangkit hanya akan menambah beban biaya kapasitas hingga $5,48 miliar per tahun.
Studi ini juga menyoroti bahwa klaim data center bisa fleksibel dalam konsumsi energi saat krisis adalah tidak realistis. Mereka membutuhkan 99,99% uptime, sehingga tidak bisa dimatikan dengan mudah saat beban puncak.
Baca Juga: 5 Alasan Solana (SOL) Diserok Institusi Meski Turun 30%: Strategi Diam-Diam Whale?
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin hari ini, harga Solana hari ini, Pepe coin dan harga aset crypto lainnya lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi kripto Pintu melalui Google Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Permintaan listrik melonjak tajam akibat data center dan AI, sementara kapasitas suplai tidak meningkat seimbang.
Tenggara AS, negara bagian barat seperti Washington dan Oregon, serta wilayah-wilayah seperti Texas dan New England.
Menurut Monitoring Analytics, tidak. Data center membutuhkan keandalan tinggi dan tidak bisa dimatikan saat krisis.
Diperkirakan akan menambah biaya kapasitas tahunan sebesar $5,48 miliar bagi pelanggan listrik.
NERC tidak menyebut solusi eksplisit, namun menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pembangkit untuk mengimbangi lonjakan beban.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.