Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Industri minyak dan gas tetap menjadi tulang punggung perekonomian global, meskipun dunia mulai beralih ke energi terbarukan. Di balik pasokan energi yang menggerakkan transportasi, industri, dan kehidupan sehari-hari, terdapat sejumlah raksasa energi yang menguasai pangsa pasar dalam skala masif.
Artikel ini akan mengulas 10 perusahaan minyak terbesar di dunia, dilihat dari kapitalisasi pasar mereka, yang mencerminkan kekuatan finansial, jangkauan global, serta pengaruh strategis dalam geopolitik energi internasional.

Grafik menunjukkan perjalanan kapitalisasi pasar Saudi Aramco dari akhir 2019 hingga awal 2026, dengan pergerakan yang cukup fluktuatif dan mencerminkan dinamika pasar energi global selama periode tersebut.
Baca juga: Terobosan Baru JPMorgan dengan JPM Coin di Canton Network!
Pada 31 Desember 2019, kapitalisasi pasar Aramco tercatat sebesar $1,88 triliun. Namun, memasuki tahun 2020, nilai pasar perusahaan mengalami penurunan tajam, menyentuh kisaran $1,6 triliun. Setelah itu, terjadi pemulihan signifikan sepanjang 2020 hingga pertengahan 2022, di mana market cap Aramco mencapai puncaknya, mendekati $2,6 triliun.
Namun, setelah mencapai puncaknya, kapitalisasi pasar Aramco mulai menunjukkan tren menurun. Sepanjang 2023 hingga 2025, grafik menunjukkan serangkaian penurunan bertahap dengan sesekali terjadi rebound kecil.
Memasuki akhir 2025 hingga awal 2026, kapitalisasi pasar Aramco terus merosot dan berada di bawah $1,6 triliun, menandai posisi terendah sejak sebelum tahun 2021. Ini menunjukkan penurunan kepercayaan investor atau tekanan berkelanjutan terhadap sektor energi tradisional.

Grafik di atas menunjukkan perjalanan kapitalisasi pasar Exxon Mobil selama tiga dekade terakhir, dari tahun 1996 hingga awal 2026. Pada akhir 1990-an, nilai pasar Exxon Mobil meningkat signifikan dari sekitar $100 miliar menuju $300 miliar, didorong oleh pertumbuhan bisnis migas dan penggabungan Exxon dengan Mobil pada 1999.
Sepanjang awal 2000-an hingga krisis keuangan global 2008, market cap Exxon Mobil terus menanjak, mencapai puncak di atas $500 miliar. Setelah krisis 2008, nilai pasar Exxon sempat berfluktuasi, namun relatif stabil di kisaran $400–$500 miliar hingga pertengahan 2010-an.
Titik terendah terjadi sekitar tahun 2020, di mana kapitalisasi pasar Exxon anjlok drastis ke bawah $150 miliar akibat pandemi COVID-19 yang menghantam permintaan energi global secara tiba-tiba. Namun, setelah itu, Exxon Mobil menunjukkan kebangkitan yang sangat kuat.
Dari 2021 hingga awal 2026, kapitalisasi pasar melonjak pesat, bahkan menembus kembali angka $500 miliar, menandai pemulihan yang luar biasa.

Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, kapitalisasi pasar Chevron relatif stabil di bawah $100 miliar, mencerminkan posisi perusahaan sebagai pemain besar namun masih dalam fase konsolidasi.
Lonjakan signifikan terjadi sekitar tahun 2005, di mana nilai pasar Chevron mulai meningkat tajam hingga melampaui $200 miliar. Peningkatan ini sejalan dengan naiknya harga minyak global serta ekspansi operasional perusahaan.
Sepanjang dekade berikutnya, dari 2008 hingga pertengahan 2010-an, kapitalisasi pasar Chevron mengalami naik-turun dalam rentang $150–$250 miliar. Namun, tantangan besar muncul menjelang tahun 2020, di mana nilai pasar Chevron anjlok drastis akibat pandemi COVID-19 yang menyebabkan permintaan minyak jatuh dan harga energi merosot tajam. Titik terendah dalam grafik terjadi pada periode ini, di bawah $100 miliar, mencerminkan ketidakpastian ekstrem di sektor energi saat itu.
Sejak pertengahan 2020 hingga awal 2026, kapitalisasi pasar perusahaan melonjak tajam dan menembus level $300 miliar, bahkan mendekati $350 miliar pada beberapa titik.

Pada awal periode, PetroChina mencatat pertumbuhan market cap yang konsisten, meningkat dari sekitar $100 miliar menuju $200–300 miliar. Namun, lonjakan luar biasa terjadi sekitar tahun 2007–2008, di mana kapitalisasi pasar PetroChina sempat menyentuh puncak mendekati $800 miliar, menjadikannya pada saat itu perusahaan publik paling bernilai di dunia.
Baca juga: Pasar Crypto Berpotensi Runtuh Jelang Keputusan Tarif Mahkamah Agung AS?
Namun, ledakan valuasi itu tidak bertahan lama. Tak lama setelah mencapai puncak, market cap PetroChina mengalami penurunan drastis. Sejak saat itu, grafik memperlihatkan tren menurun secara bertahap, meskipun sempat terjadi beberapa rebound jangka pendek antara 2010 hingga 2015.
Mulai dari tahun 2016 hingga 2020, kapitalisasi pasar PetroChina berada dalam tren turun yang lebih stabil dan panjang, bahkan sempat menyentuh titik terendahnya di bawah $100 miliar. Namun, sejak 2021 hingga awal 2026, grafik menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Market cap PetroChina mulai bangkit, secara bertahap naik kembali menuju kisaran $200–300 miliar.

Pada awal 2000-an, kapitalisasi pasar Shell berada di kisaran $140–150 miliar dan terus mengalami kenaikan, mencapai lebih dari $200 miliar menjelang tahun 2005. Namun, sekitar tahun tersebut terjadi penurunan tajam secara tiba-tiba, menjatuhkan valuasi ke bawah $100 miliar.
Setelah periode tersebut, Shell secara perlahan memulihkan valuasinya. Sepanjang tahun 2010 hingga 2014, market cap perusahaan kembali naik dan sempat mendekati $150–160 miliar. Titik terendah grafik terjadi pada 2020, di mana valuasi Shell jatuh drastis ke bawah $100 miliar.
Namun, sejak 2021, Shell menunjukkan pemulihan yang sangat kuat. Kapitalisasi pasar melonjak tajam kembali ke atas $200 miliar, menandai rebound pasca-pandemi dan mencerminkan pulihnya permintaan energi global.
Sepanjang 2022 hingga awal 2026, nilai pasar Shell tetap stabil di kisaran $200–220 miliar, mencerminkan kepercayaan investor yang pulih serta adaptasi perusahaan terhadap tren energi baru dan efisiensi operasional.

Pada akhir 1990-an, kapitalisasi pasar TotalEnergies tumbuh secara bertahap dari bawah $50 miliar menuju $100 miliar, dengan lonjakan signifikan terjadi di sekitar tahun 2000.
Sepanjang awal hingga pertengahan 2000-an, grafik menunjukkan tren kenaikan yang stabil, di mana market cap TotalEnergies sempat mencapai puncaknya mendekati $200 miliar sekitar tahun 2007–2008.
Dari 2010 hingga 2019, kapitalisasi pasar TotalEnergies bergerak dalam kisaran $100–150 miliar. Sejak 2021 hingga awal 2026, valuasi TotalEnergies kembali meningkat menuju kisaran $150–170 miliar, dengan tren fluktuatif namun stabil, mencerminkan adaptasi perusahaan terhadap tantangan energi baru.

Pada awal periode, CNOOC memiliki market cap di bawah $20 miliar, namun menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup kuat hingga mencapai sekitar $80 miliar menjelang tahun 2008.
Setelah krisis 2008, valuasi sempat menurun tajam, namun kemudian pulih dan kembali meningkat, bahkan mencapai puncak baru sekitar $120 miliar di awal 2011. Sepanjang dekade berikutnya, dari 2012 hingga 2019, kapitalisasi pasar CNOOC bergerak fluktuatif, cenderung dalam tren menurun, meskipun tetap berada dalam kisaran $50–100 miliar.
Titik terendah dalam grafik terlihat sekitar tahun 2020, di tengah pandemi COVID-19 yang menyebabkan permintaan energi global anjlok. Namun, dari titik tersebut, CNOOC menunjukkan pemulihan yang sangat kuat dan konsisten, terutama sejak 2021.
Memasuki 2022 hingga awal 2026, valuasi perusahaan melonjak pesat, bahkan menembus angka $150 miliar, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Pada akhir 1990-an, market cap ConocoPhillips masih berada di bawah $20 miliar, namun mulai menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan memasuki awal 2000-an. Selama periode 2003 hingga 2008, grafik menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dan tajam, dengan kapitalisasi pasar menembus $140 miliar.
Sepanjang 2010 hingga 2019, ConocoPhillips mengalami periode fluktuasi yang cukup besar, bergerak dalam kisaran $60–110 miliar. Pada 2020, pandemi COVID-19 membawa tekanan besar ke sektor energi, dan market cap ConocoPhillips turun drastis ke bawah $40 miliar.
Namun, mulai tahun 2021, perusahaan mengalami kebangkitan luar biasa, dengan kapitalisasi pasar melonjak tajam dan sempat menyentuh hampir $160 miliar, menandai puncak baru dalam sejarahnya.
Pemulihan ini didorong oleh rebound harga minyak dan gas, serta efisiensi operasional dan akuisisi strategis, termasuk pembelian Concho Resources dan Shell’s Permian assets. Meskipun setelah itu terjadi koreksi, valuasi tetap stabil di kisaran $120–140 miliar hingga awal 2026.

Pada awal 2000-an, kapitalisasi pasar Sinopec berada di kisaran $30–40 miliar. Namun, mulai tahun 2006 hingga 2008, perusahaan mengalami lonjakan luar biasa, dengan valuasi menembus $250 miliar, bahkan mendekati $300 miliar.
Baca juga: Analis Wall Street Perbarui Target Harga Saham Amazon – Potensi Kenaikan Semakin Menarik
Setelah mencapai puncak tersebut, market cap Sinopec anjlok drastis pasca-krisis keuangan global 2008, dan sejak saat itu tidak pernah kembali ke level tertinggi sebelumnya. Dalam dekade berikutnya (2010–2020), grafik memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan melemah secara bertahap, berada dalam kisaran $80–150 miliar.
Memasuki 2020, pandemi COVID-19 turut memperdalam penurunan kapitalisasi pasar, mendorong valuasi turun ke bawah $70 miliar, salah satu titik terendah dalam 15 tahun terakhir. Namun, sejak 2021, terjadi pemulihan moderat yang membawa market cap naik kembali ke atas $100 miliar, meskipun tidak sekuat perusahaan energi besar lainnya dalam fase rebound pasca-pandemi.
Hingga awal 2026, kapitalisasi pasar Sinopec relatif stabil namun datar, bergerak di sekitar $100–110 miliar.

Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, kapitalisasi pasar Enbridge tumbuh secara bertahap, dari sekitar $5–10 miliar, mencerminkan fase awal ekspansi perusahaan di sektor jaringan pipa minyak dan gas alam. Pertumbuhan mulai terlihat lebih signifikan setelah tahun 2005, ketika valuasi mulai menembus $20 miliar, seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur energi di Amerika Utara.
Lompatan valuasi besar terjadi sekitar 2017, ketika market cap melesat ke atas $60 miliar, dan terus mengalami kenaikan bertahap hingga mendekati $90 miliar pada awal 2020-an. Sejak 2021 hingga awal 2026, grafik menunjukkan tren pemulihan dan pertumbuhan yang sangat kuat.
Market cap Enbridge berhasil menembus $100 miliar, bahkan mendekati $110 miliar, menjadikannya salah satu perusahaan infrastruktur energi terbesar di dunia.
Itu dia informasi terkini seputar crypto. Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita crypto terkini seputar project crypto dan teknologi blockchain. Temukan juga panduan belajar crypto dari nol dengan pembahasan lengkap melalui Pintu Academy dan selalu up-to-date dengan pasar crypto terkini seperti harga bitcoin hari ini, harga coin xrp hari ini, dogecoin dan harga aset crypto lainnya lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi kripto Pintu melalui Google Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli crypto memiliki risiko dan volatilitas tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.