Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Celo (CELO) kembali jadi perbincangan setelah muncul laporan yang menyoroti kontras besar antara penggunaan jaringannya dan harga tokennya. Di satu sisi, blockchain ini disebut memiliki sekitar 840 ribu pengguna aktif harian, 1,3 juta pengguna aktif bulanan, serta volume stablecoin lebih dari US$65 miliar atau sekitar Rp1.110,8 triliun sejak migrasi ke jaringan Layer-2 Ethereum. Di sisi lain, harga CELO pada April 2026 hanya berada di kisaran US$0,086 atau sekitar Rp1.470, jauh di bawah rekor tertingginya di US$10,66 atau sekitar Rp182.569.
Celo pertama kali dibangun sebagai blockchain Layer-1 yang berfokus pada pembayaran mobile-friendly, terutama untuk pengguna di negara berkembang. Salah satu ciri khasnya adalah kemampuan menghubungkan nomor telepon ke wallet address dan memungkinkan pembayaran biaya gas memakai stablecoin, bukan hanya token asli jaringan. Pendekatan ini membuat Celo sejak awal diposisikan sebagai infrastruktur pembayaran crypto yang lebih dekat ke penggunaan sehari-hari.
Perubahan besar datang ketika Celo menyelesaikan migrasi dari Layer-1 ke Ethereum Layer-2 pada Maret 2025. Langkah ini membuat Celo masuk ke ekosistem OP Stack dan Superchain, sekaligus menekan biaya keamanan jaringan secara signifikan. Bagi investor pemula, migrasi ini penting karena menunjukkan bahwa sebuah proyek cryptocurrency bisa mengubah arsitektur teknologinya demi efisiensi dan skalabilitas jangka panjang.
Baca Juga: Volume Gold, Oil, dan Silver Perpetual Meledak 65.463%: Ada Apa?
Bagian paling menarik dari laporan tersebut adalah jurang antara aktivitas jaringan dan harga token CELO. Celo disebut menjadi Layer-2 nomor satu secara global berdasarkan daily active users, melampaui beberapa jaringan yang lebih sering dibicarakan seperti Base, Arbitrum, dan Optimism. Namun, token CELO justru masih diperdagangkan sekitar 99,2% di bawah all-time high-nya.
Secara sederhana, pasar tampaknya belum sepenuhnya memberi valuasi tinggi pada utilitas tersebut. Salah satu alasannya adalah mekanisme value accrual token CELO masih dianggap lemah, karena biaya transaksi di jaringan memang sengaja dibuat sangat murah. Jadi, meski jaringan ramai dipakai, dampaknya terhadap permintaan token belum otomatis besar.

Salah satu penggerak utama aktivitas Celo adalah MiniPay, produk yang terhubung dengan Opera dan disebut telah memiliki lebih dari 11 juta wallet. Melalui pendekatan ini, pengguna di kawasan seperti Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara bisa mengirim stablecoin melalui ponsel dengan biaya rendah. Ini membuat Celo lebih sering dibahas sebagai infrastruktur pembayaran nyata daripada sekadar proyek crypto spekulatif.
Bagi kamu yang baru mengenal cryptocurrency, poin ini sangat penting. Banyak proyek blockchain punya narasi besar, tetapi tidak semuanya memiliki basis pengguna aktif yang jelas untuk kebutuhan riil. Celo menarik justru karena aktivitasnya dikaitkan dengan remitansi, pembayaran barang, dan penggunaan stablecoin di pasar berkembang.
Laporan itu juga menyoroti beberapa upgrade penting pada 2025–2026, termasuk Jovian Upgrade dan integrasi Espresso untuk finality yang lebih cepat. Tujuannya adalah membuat pengalaman transaksi semakin instan dan murah, terutama untuk pembayaran bernilai kecil tetapi frekuensinya tinggi. Dalam konteks produk, pembaruan ini bisa memperkuat posisi Celo sebagai jaringan pembayaran berbasis crypto.
Selain itu, komunitas Celo juga mengevaluasi rencana buyback-and-burn sejak Februari 2026. Skemanya adalah mengalokasikan setidaknya 50% laba protokol untuk membeli kembali CELO dari pasar lalu membakarnya. Jika benar diterapkan, mekanisme ini berpotensi menciptakan hubungan yang lebih langsung antara pertumbuhan jaringan dan kelangkaan token.
Sumber tersebut memuat berbagai proyeksi harga CELO untuk 2026, 2027, hingga 2030, dengan rentang yang sangat lebar. Untuk 2026 saja, prediksi yang dikutip bergerak dari sekitar US$0,055 hingga US$0,481, atau kurang lebih Rp940 sampai Rp8.220. Perbedaan ini menunjukkan bahwa prediksi cryptocurrency tetap sangat spekulatif dan bergantung pada asumsi seperti adopsi, sentimen pasar, serta pelaksanaan mekanisme buyback.
Karena itu, kamu perlu membaca artikel prediksi harga dengan hati-hati. Prediksi bukan kepastian, melainkan skenario berdasarkan model dan asumsi tertentu. Semakin panjang horizon waktunya, seperti hingga 2030, semakin besar pula ruang ketidakpastiannya.
Celo menawarkan studi kasus menarik dalam dunia crypto: jaringan bisa punya pengguna aktif tinggi, volume stablecoin besar, dan kemitraan riil, tetapi harga tokennya belum tentu mengikuti dalam jangka pendek. Ini mengingatkan bahwa valuasi cryptocurrency tidak hanya ditentukan oleh utilitas, melainkan juga oleh narasi pasar, mekanisme token, dan arus modal spekulatif. Dengan kata lain, penggunaan nyata belum selalu langsung tercermin di harga.
Bagi investor pemula, pendekatan terbaik adalah melihat CELO secara netral. Ada sisi positif berupa adopsi dan utilitas, tetapi ada juga risiko bahwa token tetap tertinggal jika pasar tidak mengubah cara menilai jaringan tersebut. Jadi, fokus utamanya bukan sekadar bertanya “bisa naik berapa,” melainkan memahami apakah fundamental jaringan benar-benar bisa diterjemahkan menjadi nilai jangka panjang untuk tokennya.
Baca Juga: 5 Fase Siklus BTC Menuju $215.000: Target Bitcoin Rp3,65 Miliar?
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.