Apa itu Layer 3 Crypto?

Update 31 Jul 2023 ‚ÄĘ Waktu Baca 7 Menit
Gambar Apa itu Layer 3 Crypto?
Reading Time: 7 minutes

Saat ini, ekosistem layer 2 tengah mendominasi industri crypto berkat solusi skalabilitasnya. Berkat layer 2, kini transaksi di jaringan Ethereum bisa jadi lebih cepat dan mempunyai biaya transaksi lebih rendah. Kendati begitu, perbincangan dan proyek mengenai layer 3 juga sudah mulai bermunculan. Ia dinilai bisa menjadi terobosan baru yang mempunyai tingkat skalabilitas jauh lebih baik dibanding layer 2. Lalu, apa itu sebenarnya layer 3? Sejauh mana perkembangannya? Baca selengkapnya di artikel berikut.

Ringkasan Artikel

  • ‚õďÔłŹ¬†Layer 3 adalah blockchain yang dibangun di atas jaringan layer 2 milik Ethereum dengan tujuan spesifik. Ini menjadikannya layer yang bisa memiliki spesialisasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing tim pengembang.
  • ‚ö°¬†Kelebihan yang ditawarkan layer 3 adalah skalabilitas yang lebih baik, kebebasan dalam memilih solusi skalabilitas yang spesifik (seperti privasi), dan fleksibilitas dalam mengubah setiap chain sesuai dengan kebutuhan tim pengembang.
  • ‚öôÔłŹ¬†Beberapa proyek layer 3 yang sedang dikembangkan saat ini adalah Arbitrum Orbit milik Arbitrum dan Hyperchain milik ZK Stack. Selain itu, terdapat juga StarkWare yang tengah menyiapkan proyek layer 3 mereka.

Apa itu Layer 3?

Istilah layer 3 sebenarnya masih diperdebatkan dan mempunyai definisi yang berbeda-beda. Namun, secara umum, ia didefinisikan sebagai blockchain yang dibangun di atas jaringan layer 2. Sejauh ini, layer 3 sendiri masih berada dalam fase awal dalam pengembangannya.

Jika layer 2 dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan skalabilitas dan menyelesaikan masalah yang ada di layer 1, pun sama halnya dengan layer 3. Ia hadir sebagai solusi untuk mengatasi masalah yang saat ini dihadapi layer 2. Sejauh ini, teknologi layer 3 baru bisa dikembangkan dan diterapkan pada jaringan Ethereum saja.

Konsep arsitektur layer 3 yang tengah dikembangkan
Konsep arsitektur layer 3 yang tengah dikembangkan. Sumber: Medium Foresight Ventures

Saat ini, kebanyakan jaringan layer 2 berperan sebagai solusi skalabilitas yang mengakomodir berbagai tujuan secara umum. Sementara layer 3 merupakan solusi skalabilitas yang dibuat dengan tujuan spesifik dan menawarkan jaringan yang bisa disesuaikan berdasarkan kebutuhan. Hal ini membuatnya menjadi teknologi yang cocok bagi dApps yang membutuhkan tingkat customizability tinggi.

Banyak pihak yang menganggap layer 3 mempunyai kemiripan seperti jaringan appchains yang ada di Cosmos karena sama-sama bisa disesuaikan dan dioptimalisasikan untuk kebutuhan tertentu. Namun, keduanya merupakan hal yang berbeda. 

Appchains didefinisikan sebagai blockchain tunggal yang dibuat secara spesifik untuk mengakomodir pembuatan dan pengoperasian decentralizes applications (dApps). Ia terpisah, namun terhubung dengan blockchain utamanya.

Singkatnya, layer 3 merupakan jaringan di mana tim pengembang bisa mengotak-atik sistemnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Aplikasi yang dibangun di jaringan layer 3 nantinya akan mempunyai tingkat pemrosesan transaksi yang lebih cepat dari layer 2, tapi tetap memiliki tingkat keamanan dan desentralisasi layaknya layer 2.

Cara Kerja Layer 3

Cara kerja layer 3 sebenarnya tidak bisa sesederhana dengan membuat jaringan baru di atas jaringan layer 2. Vitalik Buterin dalam esainya terkait layer 3 menyebut bahwa terdapat batasan dalam ‚Äúmenumpuk‚ÄĚ jaringan baru di atas jaringan yang ada. Hal tersebut mungkin bisa berlaku pada jaringan layer 2 yang dibangun di atas jaringan layer 1. Namun, hal yang sama tidak akan bisa berlaku pada jaringan layer 3 yang dibangun di atas jaringan layer 2.

Hubungan antara layer 3 dengan layer 2 dan layer 1 sebagai underlying-nya
Hubungan antara layer 3 dengan layer 2 dan layer 1 sebagai underlying-nya. Sumber: StarkWare

Pada teknologi rollup misalnya. Ia menggunakan teknologi kompresi di mana berbagai data dikumpulkan dan ‚Äúdigulung‚ÄĚ menjadi satu. Sayangnya, data yang sudah dikompres tersebut tidak bisa digabung dan dikompres kembali. Oleh sebab itu, rollups di atas rollups merupakan hal yang tidak memungkinkan.

Namun, membangun jaringan di atas layer 2 dengan tujuan yang spesifik dan sesuai dengan spesialisasi masing-masing merupakan sesuatu yang memungkinkan. Dengan menggunakan jaringan layer 2 sebagai basis, layer 3 tidak perlu membangun sistem validatornya sendiri. Ia bisa menggunakan jaringan validator milik layer 2 dan mewarisi aspek keamanan dari protokol yang digunakan, entah itu rollup ataupun zero-knowledge.

Hal inilah yang sedang dilakukan oleh Starkware, salah satu perusahaan yang fokus mengembangkan solusi layer 3. Bagan di bawah ini memperlihatkan terdapat jaringan di layer 3 yang masing-masing mempunyai tujuan spesifik.

Layer 3 ala StarkWare

Jadi, layer 2 digunakan sebagai solusi scaling dengan tujuan umum, tapi layer 3 mempunyai fungsionalitas yang spesifik. Layer 3 bisa mempunyai fungsi yang dikhususkan untuk privasi, kinerja aplikasi yang spesifik, ataupun tujuan lain sesuai dengan kebutuhan tim pengembang. Selain Starkware, Arbitrum lewat Arbitrum Orbit juga tengah mengembangkan konsep tersebut.

Kelebihan Layer 3

  • ‚ö°¬†Skalabilitas. Dengan adanya multiple chain yang masing-masing didedikasikan dan mempunyai resource terpisah, membuatnya lebih mudah untuk mengatasi permasalahan bottleneck milik layer 2.
  • ūüéĮ¬†Spesifik. Jika layer 2 digunakan sebagai solusi skalabilitas secara umum, layer 3 nantinya punya solusi skalabilitas yang spesifik. Sebagai contoh, solusi fungsi skalabilitas yang berfokus pada privasi. Hal ini memungkinkan karena layer 3 bisa meningkatkan kecepatan komputasi dan skalabilitas sebuah aplikasi tanpa harus berbagi chain dengan aplikasi lain.
  • ‚öôÔłŹ¬†Fleksibilitas. Setiap chain pada layer 3 nantinya bersifat dapat diubah sesuai dengan kebutuhan masing-masing tim pengembang. Mulai dari pemilihan sequencer maupun mode data availability. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi tim pengembang, alih-alih menggunakan chain dengan mekanisme yang sudah ditentukan seperti di layer 2.

Beberapa Proyek Layer 3

1. Arbitrum Orbit

Arbitrum Orbit merupakan bagian dari Arbitrum yang memungkinkan tim pengembang untuk meluncurkan ekosistem layer 3 mereka sendiri secara mudah dan permissionless. Chain Arbitrum Orbit dapat dibangun di jaringan layer 2 milik Arbitrum, Arbitrum One atau Arbitrum Nova.

Chain Orbit akan dibuat menggunakan layer 2 milik Arbitrum
Chain Orbit akan dibuat menggunakan layer 2 milik Arbitrum sebagai basisnya. Sumber: Arbitrum

Jika memilih Arbitrum One yang menggunakan protokol rollup, maka karakteristik layer 3-nya akan mengedepankan keamanan, namun tetap mempunyai tingkat skalabilitas yang baik. Sementara jika memilih Arbitrum Nova yang menggunakan protokol anytrust, maka layer 3-nya akan berfokus pada tingkat skalabilitas, namun mengorbankan tingkat keamanannya.

Seperti yang sudah disebutkan, layer 3 memiliki karakteristik berupa dapat disesuikan dengan kebutuhan tim pengembang. Arbitrum Orbit juga menawarkan chains yang bisa didesain sesuai dengan kebutuhan khusus tim pengembang.

Arbitrum Orbit juga memberikan kemampuan bagi penggunanya untuk menciptakan chain AnyTrust atau Rollup menggunakan infrastrukur yang sudah dipunya. Ia bisa diibaratkan sebagai jalur prioritas yang dikelola secara mandiri di Ethereum, Arbitrum Orbit mempunyai kapasitas dukungan layaknya Ethereum, sembari tetap mendapatkan aspek keamanan Ethereum.

Bahkan, untuk mengakomodir modifikasi jaringan lebih lanjut, Arbitrum akan segera meluncurkan Stylus. Pembaruan tersebut memungkinkan tim pengembang untuk menggunakan bahasa pemrograman non-EVM seperti C++ dan Rust.

2. ZK Stack

ZK Stack kembangkan Hyperchain

Perusahaan lain yang tengah mengembangkan konsep layer 3 adalah Matter Labs melalui ZK Stack. Proyek tersebut berupa framework modular untuk membuat Hyperchain (layer 3) berbasis Zero Knowledge yang indenpenden. ZK Stack dibuat berdasarkan dari kode open-source milik jaringan layer 2 zkSync Era.

Nantinya, ZK Stack akan memberikan tim pengembang sepenuhnya kebebasan dalam pemilihan mode data availability baik dari native token ataupun sequencer yang terdesentralisasi. Hyperchain tersebut akan beroperasi secara independen dan bergantung pada Ethereum untuk aspek keamanannya. Ia akan didukung oleh Hyperbridges yang menghubungkan antar Hyperchain. Dengan demikian, menciptakan ekosistem yang trustless, cepat, dan biaya transaksi yang rendah.

Beberapa proyek yang diklaim cocok menggunakan Hyperchain milik ZK Stack adalah

  • dApps yang memerlukan lightweight sequencer dengan latensi sequencing yang rendah.
  • Apps yang dapat berinteraksi tanpa harus menggunakan trust assumptions sebagai penghubungnya.
  • Jaringan privat tertutup, namun tetap terhubungan dengan ekosistem.
  • Aplikasi yang menggunakan native token sebagai token dasar sistemnya.

Dari segi aspek keamanan, ZK Stack akan mengadopsi teknologi ZK rollup milik zkSync Era yang sudah teruji pada jaringan Ethereum. Pada akhirnya, layer 3 milik ZK Stack tak hanya sekadar menawarkan jaringan independen yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan tim pengembang, namun tetap mewarisi aspek keamanan dari layer 1 Ethereum.

Potensi Layer 3 di Masa Depan

Masih terlalu dini untuk membayangkan seperti apa dampak dari hadirnya layer 3 terhadap ekosistem crypto. Mengingat, layer 2 Ethereum seperti Arbitrum, Optimism, dan zkSync baru memulai dominasinya di ekosistem crypto saat ini.

Sejauh ini, layer 3 juga masih menghadapi beberapa tantangan yang perlu diselesaikan sebelum akhirnya bisa sepenuhnya dijalankan.

  • ūüĒź¬†Security. Sejauh ini, mekanisme cara kerja validator di layer 3 mengikuti teknologi yang digunakan di layer 2. Artinya, mengeksplorasi dan mengembangkan teknologi rollups maupun ZK menjadi hal yang penting untuk memastikan perkembangan aspek keamanan layer 3 itu sendiri.
  • ūüĆź¬†Interoperability. Untuk memastikan keterhubungan antar jaringan layer 3, masih diperlukan adanya pola maupun struktur mekanisme yang lebih jelas. Sejauh ini, tim pengembang layer 3 masih berkutat untuk menemukan solusi terwujudnya interoperability antar jaringan tersebut.
  • ‚ö†ÔłŹ¬†Complexity:¬†Protokol layer 3 merupakan sesuatu yang kompleks dan layer 2 sendiri masih terus berkembang. Tim pengembang harus memastikan konsep fleksibilitas tersebut bisa mengikuti perkembangan layer 2 yang masih dinamis.

Namun, teknologi layer 3 yang menghadirkan solusi skalabilitas lebih baik dan spesifik, serta memberikan fleksibilitas bagi tim pengembang akan menjadi terobosan yang ditunggu-ditunggu. Bagi tim pengembang yang ingin membuat aplikasi dengan fungsi spesifik, layer 3 menjadi teknologi paling ideal.

Lagipula, seluruh transaksi yang ada di layer 3 nantinya juga akan menggunakan ekosistem layer 2. Artinya, layer 2 tetap akan diuntungkan karena mendapatkan biaya transaksi dari adopsi proyek layer 3. Sementara Ethereum sebagai jaringan layer 1 akan ikut diuntungkan dengan semakin berkembangnya ekosistem layer 2 dan layer 3 ke depan.

Beli Aset Crypto di Pintu

Tertarik berinvestasi pada aset crypto? Tenang saja, kamu bisa membeli berbagai aset crypto seperti BTC, ETH, SOL, dan yang lainnya tanpa harus khawatir adanya penipuan melalui Pintu. Selain itu, semua aset crypto yang ada di Pintu sudah melewati proses penilaian yang ketat dan mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Aplikasi Pintu juga kompatibel dengan berbagai macam dompet digital populer seperti Metamask untuk memudahkan transaksimu. Ayo download aplikasi Pintu di Play Store dan App Store! Keamananmu terjamin karena Pintu diregulasi dan diawasi oleh Bappebti dan Kominfo.

Selain melakukan transaksi, di aplikasi Pintu, kamu juga bisa belajar crypto lebih lanjut melalui berbagai artikel Pintu Academy yang diperbarui setiap minggunya! Semua artikel Pintu Akademi dibuat untuk tujuan edukasi dan pengetahuan, bukan sebagai saran finansial.

Referensi

Penulis:Hikma Dirgantara

Beri nilai untuk artikel ini

Penilaian kamu akan membantu kami.

Apa yang kamu tidak suka?

Apakah ada saran untuk artikel ini?

Terima kasih untuk masukanmu!Tutup
Masukan gagal terkirim. Silakan coba lagi.Tutup

Bagikan