Apa itu Stablecoin?

Update 26 Jan 2022 • Waktu Baca 11 Menit
Gambar Apa itu Stablecoin?
Reading Time: 11 minutes

Bayangkan kamu transfer Rp500.000 lewat blockchain ke temanmu. Sepuluh menit kemudian, nilainya sudah turun jadi Rp430.000 karena harga aset crypto bergerak. Masalah inilah yang mendorong lahirnya stablecoin, aset crypto yang dirancang agar nilainya tetap stabil, biasanya dipatok ke dolar AS. Per Mei 2026, total kapitalisasi pasar stablecoin telah melampaui $321 miliar, menjadikannya segmen crypto dengan volume transaksi harian terbesar di dunia.

Ringkasan Artikel

  • 💵 Stablecoin adalah aset crypto yang nilainya dipatok ke aset stabil seperti dolar AS, emas, atau aset kripto lain.
  • 📊 Total pasar stablecoin sudah melampaui $321 miliar per Mei 2026, dengan USDT (~$186 miliar) dan USDC (~$78 miliar) sebagai yang terbesar.
  • ⚠️ Terra/UST, stablecoin algoritmik terbesar pada 2022, kolaps dalam tiga hari, menghapus lebih dari $50 miliar nilai pasar, dan menjadi kolaps DeFi terbesar yang pernah tercatat.
  • 📈 Pada 2025, stablecoin memproses $33 triliun transaksi, melampaui volume transaksi Visa dan Mastercard, dengan pembayaran B2B tumbuh 733% secara tahunan.
  • 🌐 Raksasa keuangan global seperti Visa dan Stripe sudah mengintegrasikan stablecoin ke infrastruktur mereka, dengan kartu Visa berbasis stablecoin kini tersedia di lebih dari 100 negara.

Mengapa Stablecoin Dibutuhkan?

Aset crypto seperti Bitcoin dan Ethereum unggul sebagai aset investasi, tapi volatilitasnya yang tinggi menjadikannya kurang praktis sebagai alat transaksi. Bitcoin bisa turun 30% dalam satu minggu atau naik 50% dalam sebulan. Nilai yang berubah secara drastis itu tidak bisa diprediksi untuk digunakan membayar tagihan, mengirim uang, atau menyimpan dana jangka pendek.

Stablecoin hadir sebagai jalan tengah, menggabungkan kecepatan dan aksesibilitas blockchain dengan nilai yang stabil seperti uang tunai. Kamu bisa kirim USDT ke siapa pun di dunia dalam hitungan menit dengan biaya jauh lebih murah dari transfer bank internasional. Inilah yang membuat stablecoin menjadi alat utama di hampir semua aktivitas DeFi dan transaksi crypto sehari-hari.

Jenis-Jenis Stablecoin

1. Stablecoin yang Dijamin Uang Fiat

Jenis paling umum dan paling mudah dipahami. Setiap token dijamin 1:1 dengan mata uang fiat yang disimpan di rekening bank atau lembaga kustodian berlisensi. Penerbit wajib menyimpan cadangan senilai seluruh token yang beredar, dan transparansi cadangan menjadi faktor pembeda utama antarpenerbit.

Tiga contoh utama:

  • Tether : diluncurkan pada 2014, USDT adalah stablecoin terbesar dengan kapitalisasi sekitar $186 miliar per Mei 2026. Mendominasi hampir 60% pasar stablecoin global dan menjadi trading pair utama di hampir semua exchange.
  • USD Coin : diterbitkan oleh Circle dengan kapitalisasi sekitar $78 miliar. Dikenal lebih transparan karena audit cadangannya dilakukan secara rutin oleh firma akuntansi independen.
  • PayPal USD (PYUSD): diluncurkan oleh PayPal pada 2023, menandai masuknya perusahaan keuangan tradisional besar pertama ke pasar stablecoin.

Contoh: Kamu setor $1.000 ke Circle, kamu terima 1.000 USDC. Saat kamu tukar kembali, kamu dapat $1.000 dari cadangan yang tersimpan di rekening kustodian berlisensi.

Risiko utama: Bergantung sepenuhnya pada kepercayaan kepada penerbit. Jika cadangannya tidak mencukupi atau penerbit bermasalah, stablecoin bisa kehilangan peg-nya.

2. Stablecoin yang Dijamin Komoditas

Dipatok ke komoditas fisik, paling sering emas. Setiap token mewakili sejumlah komoditas yang tersimpan secara fisik di fasilitas berlisensi.

  • PAX Gold : setiap token mewakili 1 troy ounce (sekitar 31,1 gram) emas batangan berstandar LBMA (London Bullion Market Association) yang tersimpan di brankas London, diterbitkan oleh Paxos. Pemegang PAXG dapat menukarkannya ke emas fisik.
  • Tether Gold : diterbitkan oleh Tether, dengan cadangan emas tersimpan di brankas Swiss.

Stablecoin komoditas adalah cara kepemilikan emas di blockchain. Kamu bisa beli atau jual dalam fraksi kecil tanpa perlu menyimpan fisiknya. Ini membuat aset seperti emas bisa diakses oleh siapa pun, bahkan dengan modal yang sangat kecil.

3. Stablecoin yang Dijamin Aset Crypto

Menggunakan aset crypto sebagai jaminan dengan rasio overcollateralized (nilai jaminan lebih besar dari nilai yang dipinjam) untuk mengantisipasi volatilitas. Mekanisme ini sepenuhnya berjalan di atas smart contract tanpa perantara manusia.

DAI dan USDS (Sky Protocol)

Sebelumnya dikenal sebagai DAI dari MakerDAO, protokol ini melakukan rebrand pada Agustus 2024 menjadi Sky Protocol. Stablecoin barunya bernama USDS, meski DAI tetap beredar dan dapat dipertukarkan 1:1 ke USDS kapan saja. Sky Protocol juga memperkenalkan Sky Savings Rate, fitur bunga untuk pemegang USDS.

Cara kerjanya: pengguna menyetor aset crypto seperti ETH sebagai jaminan ke smart contract. Nilai jaminan harus minimal 150% dari nilai DAI/USDS yang dipinjam. Jika harga jaminan turun di bawah ambang batas, sistem akan melikuidasi jaminan secara otomatis.

Contoh: Untuk meminjam DAI senilai $100, kamu perlu menyetor ETH senilai minimal $150 sebagai jaminan. Jika nilai ETH turun dan mendekati $100, posisimu terancam dilikuidasi oleh protokol.

4. Stablecoin Algoritmik: Pelajaran dari Keruntuhan Terra

Stablecoin algoritmik mencoba mempertahankan nilai $1 bukan dengan cadangan fisik, melainkan dengan mekanisme penawaran-permintaan yang dikendalikan algoritma. Teorinya menarik, namun sudah terbukti sangat berisiko. Cara paling andal untuk menilai keamanannya adalah dari rekam jejak dan transparansi jaminan yang digunakan. Ini adalah jenis stablecoin yang paling penting untuk dipahami risikonya sebelum digunakan.

Keruntuhan Terra/UST (Mei 2022)

UST adalah stablecoin algoritmik dari jaringan Terra yang menjaga nilainya melalui token LUNA. Pada puncaknya, UST memiliki kapitalisasi $18 miliar. Protokol Anchor menawarkan yield 19,5% per tahun untuk pemegang UST, angka yang menarik banyak modal namun tidak berkelanjutan secara fundamental.

Pada 7 Mei 2022, dua alamat besar menarik 375 juta UST dari Anchor sekaligus. UST mulai depeg: dari $0,98 ke $0,90, kemudian menuju nol. Mekanisme respons algoritma justru memperparah keadaan dengan terus mencetak LUNA untuk membeli UST, menyebabkan LUNA hiperinflasi dan ikut kolaps. Dalam tiga hari, lebih dari $50 miliar nilai pasar terhapus. Pendiri Terra, Do Kwon, kemudian diadili dan divonis 15 tahun penjara.

Generasi Berikutnya

Setelah runtuhnya UST, pendekatan pure algorithmic mulai ditinggalkan. Generasi baru seperti USDe dari Ethena (diluncurkan 2024) menggunakan pendekatan delta-neutral hedging dengan aset crypto nyata sebagai dasar, bukan murni algoritma. USDe menjadi salah satu stablecoin dengan pertumbuhan tercepat pada 2024–2025.

Kegunaan Utama Stablecoin

Stablecoin bukan hanya untuk “parkir dana” saat pasar bearish. Kegunaannya sudah jauh lebih luas:

  • Pengiriman uang internasional: Transfer USDC lintas negara lebih cepat dan lebih murah dibandingkan transfer bank via SWIFT, tanpa perlu rekening bank di negara tujuan.
  • DeFi lending dan yield: Menyimpan USDC atau USDS di protokol seperti Aave, Morpho, atau Spark untuk mendapat bunga, mirip deposito namun berbasis smart contract.
  • Trading: Hampir semua exchange menggunakan USDT atau USDC sebagai trading pair utama untuk semua aset crypto lainnya.
  • Pembayaran internasional: Semakin banyak layanan freelance dan e-commerce global yang menerima USDT/USDC sebagai metode pembayaran.

Risiko Stablecoin yang Perlu Diketahui

Risiko depeg: Harga stablecoin bisa sesekali melenceng dari $1, terutama saat ada kepanikan pasar atau masalah likuiditas penerbit. Contoh: USDC sempat depeg signifikan pada Maret 2023 saat Silicon Valley Bank kolaps dan diketahui menyimpan sebagian cadangan USDC.

Risiko counterparty: Stablecoin fiat bergantung penuh pada kepercayaan kepada penerbit. Jika penerbit bangkrut atau cadangannya tidak mencukupi, pengguna menanggung kerugian.

Risiko regulasi: Di Indonesia, OJK dan Bappebti belum memiliki regulasi khusus stablecoin per 2026, namun semua transaksi aset crypto tetap wajib melalui exchange berlisensi Bappebti. Menggunakan stablecoin sebagai alat pembayaran langsung juga dilarang oleh Bank Indonesia yang mewajibkan rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran sah.

Risiko smart contract: Untuk stablecoin berbasis DeFi seperti DAI/USDS, bug dalam kode smart contract bisa menyebabkan kerugian dana yang tidak dapat dipulihkan.

Kondisi Pasar Stablecoin Global pada 2026

Sumber: A16z Crypto.

Per Mei 2026, total kapitalisasi pasar stablecoin global telah mencapai $321 miliar, dengan USDT mendominasi hampir 60% dari total tersebut, diikuti USDC di posisi kedua dengan sekitar 24%. Angka market cap ini memang besar, tapi bukan di situ yang paling menarik perhatian industri keuangan. Pada 2025, stablecoin memproses transaksi senilai $10,9 triliun, hampir menyamai volume transaksi Visa ($13 T), menjadikannya salah satu instrumen keuangan tersibuk di dunia.

Angka $10,9 triliun mencakup semua aktivitas on-chain, termasuk transaksi DeFi otomatis yang tidak selalu mencerminkan pembayaran bisnis nyata. Untuk memahami skala pembayaran aktual, BCG memisahkan real payment activity: sekitar $350–$550 miliar pada 2025 merupakan transaksi riil seperti pembayaran vendor, remitansi lintas negara, dan penggajian. Dari jumlah itu, 40% atau sekitar $150-$230 miliar datang dari B2B (business-to-business), tumbuh 65% secara tahunan.

Pertumbuhan ini bukan anomali satu tahun. Volume B2B bulanan meningkat 30 kali lipat antara awal 2023 dan akhir 2025, dari di bawah $100 juta menjadi lebih dari $3 miliar per bulan. Survei terhadap perusahaan pengguna stablecoin menemukan bahwa pembayaran kepada supplier adalah alasan utama adopsi bagi 77% responden korporat, jauh di atas use case lainnya.

Masa Depan Stablecoin: Dari DeFi ke Keuangan Global

Sumber: Chainalysis.

Salah satu sinyal paling jelas tentang arah stablecoin datang dari dua raksasa keuangan global. Visa meluncurkan sistem settlement berbasis USDC pada Desember 2025, dan per April 2026 volume settlement stablecoin tahunan mereka sudah mencapai $7 miliar, mencakup sembilan blockchain dan lebih dari 130 program kartu terintegrasi di seluruh dunia. Stripe mengakuisisi Bridge pada awal 2025 dalam akuisisi terbesar sepanjang sejarahnya. Volume pembayaran stablecoin Stripe hampir dua kali lipat menjadi sekitar $400 miliar, dan kartu Visa berbasis stablecoin yang didukung Bridge kini tersedia di lebih dari 100 negara.

Potensi stablecoin jauh melampaui kartu debit dan pembayaran vendor. Programmable money memungkinkan uang bergerak secara otomatis berdasarkan kondisi tertentu, tanpa perantara dan tanpa keterlambatan. Bayangkan penggajian freelancer lintas negara yang berjalan instan begitu proyek selesai, atau remitansi buruh migran yang tiba dalam hitungan detik bukan hitungan hari. Tokenisasi money market fund oleh lembaga seperti BlackRock sudah berjalan sejak 2024. Langkah ini menandai bahwa konvergensi TradFi dan DeFi yang selama ini diprediksi memang sedang terjadi.

Untuk investor dan pelaku bisnis di Indonesia, perkembangan ini punya implikasi konkret. Regulasi stablecoin di negara-negara maju terus berkembang, dengan AS dan Uni Eropa aktif menyusun kerangka hukum yang memberi kepastian kepada institusi keuangan besar untuk masuk ke pasar ini. Kartu pembayaran global berbasis stablecoin, produk yield terdesentralisasi, dan layanan remitansi instan akan semakin mudah diakses dalam beberapa tahun ke depan. Uang sudah mulai bergerak di rel yang berbeda.

Proyek Crypto Penting di Sektor Stablecoin

Sumber: Visa Onchain Analytics.

1. Tether

Tether adalah penerbit USDT, stablecoin fiat terbesar di dunia. Per Mei 2026, USDT memiliki kapitalisasi sekitar $186 miliar, hampir 60% dari seluruh pasar stablecoin global. Diluncurkan pada 2014, USDT kini menjadi trading pair dominan di hampir semua exchange besar dan alat transfer nilai utama di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di balik dominasinya, cadangan USDT terdiri dari sekitar 77% aset likuid, dengan lebih dari $135 miliar ditempatkan di obligasi pemerintah AS (US Treasury Bills) dan $12-14 miliar dalam bentuk emas fisik. Model bisnis ini menguntungkan: Tether mencatat laba lebih dari $10 miliar selama sembilan bulan pertama 2025, dan membukukan $1 miliar laba pada Q1 2026.

Satu hal yang perlu dipahami: Meski Tether kini menerbitkan laporan cadangan harian yang diaudit oleh BDO Italia, perusahaan ini belum menyelesaikan audit keuangan penuh oleh kantor akuntan publik kelas satu, berbeda dengan Circle. Per Maret 2026, Tether sedang dalam proses kerja sama dengan perusahaan konsultan akuntansi Big Four untuk audit penuh pertamanya. Namun, hingga pertengahan Juni Tether belum memberikan berita baru tentang proses tersebut.

2. Circle

Circle adalah perusahaan di balik USD Coin (USDC). Per kuartal I 2026, USDC memiliki kapitalisasi $78 miliar dan posisi sebagai stablecoin terbesar kedua di dunia. Pada Juni 2025, Circle melantai di NYSE dengan ticker CRCL dan sahamnya langsung melonjak 168% di hari pertama, menjadi IPO crypto terbesar sejak Coinbase.

Model bisnis Circle lebih transparan dibandingkan Tether. Cadangan USDC diaudit secara rutin oleh firma akuntansi independen, setiap token dijamin 1:1 oleh dolar AS di rekening custodian berlisensi. Pendapatan Circle pada kuartal terakhir mencapai $672 juta, tumbuh 54% dibandingkan tahun sebelumnya.

Risiko yang perlu diperhatikan: Pendapatan Circle sangat bergantung pada imbal hasil cadangan (reserve income). Ketika suku bunga turun, margin perusahaan tertekan. Ini tidak langsung memengaruhi nilai USDC, tapi menjadi faktor kesehatan perusahaan jangka panjang yang perlu dipantau.

3. Stripe dan Visa: Tempo L1

Tempo adalah blockchain Layer 1 yang dirancang khusus untuk pembayaran. Diluncurkan pada Maret 2026 oleh Stripe bersama Paradigm, Tempo mampu memproses lebih dari 100.000 transaksi per detik dengan finalisasi di bawah satu detik. Berbeda dari blockchain serbaguna seperti Ethereum, Tempo hanya melayani satu hal: transfer nilai berbasis stablecoin dengan kepatuhan regulasi bawaan.

Satu hal yang membuat Tempo berbeda adalah pengguna dan partnernya. Klarna meluncurkan stablecoin perbankan pertamanya di jaringan ini. Visa, Nubank, dan Shopify bergabung sebagai mitra awal. Bridge, anak perusahaan Stripe yang diakuisisi seharga $1,1 miliar, mendapat lisensi National Trust Bank dari OCC (regulator perbankan federal AS) pada Februari 2026, memungkinkannya menerbitkan stablecoin dengan pengawasan penuh. Selain itu, Kalshi, Revolut, RedDotPay, dan DoorDash juga sudah menjadi partner Tempo.

Tempo merupakan salah satu L1 generasi baru yang didesain sebagai platform yang melayani B2B (bisnis ke bisnis). Sampai saat ini, Tempo belum meluncurkan tokennya.

4. Ethena

Ethena adalah protokol DeFi yang menerbitkan USDe, synthetic dollar terbesar di ekosistem terdesentralisasi. Per 23 Juni 2026, kapitalisasinya sekitar $4,47 miliar. USDe berbeda dari USDT atau USDC karena tidak dijamin oleh dolar di bank, melainkan oleh strategi delta-neutral yang menggabungkan kepemilikan ETH dengan posisi short di pasar perpetual futures, sehingga nilainya terjaga di $1 tanpa membutuhkan cadangan fiat.

Pemegang yang melakukan staking USDe mendapat sUSDe, versi berbunga dari token ini. Pada 2025, yield sUSDe berkisar antara 4-15% per tahun tergantung kondisi pasar. Per awal 2026, yield berubah menjadi 3,57%.

Risiko Ethena: Ketika pasar turun dan funding rate menjadi negatif, yield sUSDe bisa menghilang atau bahkan menjadi negatif. Dana cadangan Ethena hanya sekitar 1,18% dari total nilai terkunci, artinya kemampuannya menyerap kerugian besar terbatas. USDe bukan pengganti USDT untuk keamanan, melainkan instrumen yield dengan profil risiko tersendiri.

Kesimpulan

Stablecoin telah bergerak jauh dari fungsi aslinya sebagai alat parkir dana. Dengan $33 triliun volume transaksi pada 2025 dan adopsi dari Visa dan Stripe, ia kini menjadi infrastruktur keuangan global yang serius, bukan lagi niche crypto. Masa depannya, dari programmable money hingga kartu pembayaran di lebih dari 100 negara, akan semakin mudah diakses oleh siapapun yang memiliki ponsel.

Untuk investor Indonesia, mulailah dengan jenis stablecoin yang paling sederhana sebelum masuk ke yang lebih kompleks. USDT dan USDC cocok sebagai titik awal karena mekanismenya mudah dipahami, meski bergantung penuh pada kepercayaan kepada penerbitnya. Yang algoritmik seperti UST sudah terbukti bisa kehilangan nilainya dalam hitungan hari. Pilih sesuai kebutuhan, dan selalu pahami risikonya.

FAQ

Apakah stablecoin bisa kehilangan nilainya?

Ya. Stablecoin bisa mengalami depeg, yaitu kehilangan patokan $1-nya. Ini bisa terjadi karena masalah pada cadangan penerbit, kepanikan pasar, atau kegagalan mekanisme seperti yang dialami UST pada 2022. Stablecoin fiat besar seperti USDT dan USDC belum pernah mengalami depeg permanen, meski sesekali ada fluktuasi kecil dalam kondisi ekstrem.

Apa perbedaan USDT dan USDC?

Keduanya dipatok 1:1 ke dolar AS, tapi berbeda penerbit dan tingkat transparansi. USDT diterbitkan oleh Tether dan merupakan stablecoin terbesar berdasarkan volume transaksi global. USDC diterbitkan oleh Circle dan dikenal lebih transparan karena audit cadangannya dilakukan rutin oleh firma akuntansi independen. Untuk penggunaan di Indonesia, keduanya tersedia di exchange berlisensi Bappebti.

Apakah DAI masih ada atau sudah diganti USDS?

DAI masih ada dan tetap bisa digunakan. Pada Agustus 2024, MakerDAO melakukan rebrand menjadi Sky Protocol dan meluncurkan USDS sebagai stablecoin baru. Pemegang DAI dapat memilih untuk mengupgrade ke USDS dengan rasio 1:1, tapi tidak diwajibkan. Keduanya beredar secara paralel.

Bagaimana cara mendapat yield dari stablecoin?

Ada beberapa cara: menyimpan USDC atau USDS di protokol DeFi lending seperti Aave, Morpho, atau Spark untuk mendapat bunga, atau memanfaatkan Sky Savings Rate untuk pemegang USDS. Perlu diingat: semakin tinggi yield yang ditawarkan, semakin besar risiko yang biasanya terkandung, seperti yang terlihat dari kasus Anchor Protocol yang menawarkan 19,5% sebelum kolaps bersama UST.

Cara Beli Stablecoin di Pintu

Kamu bisa membeli USDT, USDC, PAXG, dan stablecoin lainnya dengan mudah dan aman di aplikasi Pintu. Investasi aset crypto mulai dari Rp11.000, bisa dilakukan kapan saja langsung dari smartphone. Kamu juga bisa memanfaatkan fitur Dollar Cost Averaging (DCA) untuk membeli stablecoin secara berkala secara otomatis.

Disclaimer

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan saran investasi. Harga aset kripto bersifat volatil dan dapat berubah sewaktu-waktu. Selalu lakukan riset sendiri (DYOR) sebelum berinvestasi.

Referensi

  • Bitcoin Foundation, “Stablecoin Market Cap Tops $321B, Extending 2026 Growth”, bitcoinfoundation.org, Mei 2026
  • The Block, “MakerDAO rebrands to Sky, DAI stablecoin optionally upgradeable to USDS”, theblock.co, Agustus 2024
  • Harvard Law School Forum on Corporate Governance, “Anatomy of a Run: The Terra Luna Crash”, corpgov.law.harvard.edu, Mei 2023
  • IBTimes, “Do Kwon Gets 15 Years for $40 Billion Terra/Luna Collapse”, ibtimes.com, 2026
  • CoinMarketCap, Data kapitalisasi pasar USDT dan USDC, coinmarketcap.com, diakses Juni 2026
  • BCG, “Stablecoin Payments: The Truth Behind the Numbers”, bcg.com, Januari 2026
  • Chainalysis, “Stablecoin Utility and the Future of Payments”, chainalysis.com, diakses Juni 2026
  • REAP, “B2B Stablecoin Payments Surge 30x to $3 Billion Monthly Volume in 2025”, reap.global, 2025
  • Crypto.news, “Visa expands stablecoin cards to 100+ countries via Bridge”, crypto.news, 2026
  • The Defiant, “Visa and Stripe-Owned Bridge Roll Out Stablecoin-Linked Cards to 100+ Countries”, thedefiant.io, 2026
  • Coinlaw, “Tether Statistics 2026: Reserves, Supply, and Regulation”, coinlaw.io, diakses Juni 2026
  • Yahoo Finance, “Circle’s Jumps 168% In NYSE Debut, Marking Largest Crypto IPO Since Coinbase”, finance.yahoo.com, Juni 2025
  • CryptoBriefing, “Stripe launches Tempo, a stablecoin-focused blockchain with AI payment capabilities”, cryptobriefing.com, 2026
  • StablecoinInsider, “Ethena USDe Q1 2026 Report”, stablecoininsider.org, 2026

Bagikan

Lihat Aset di Artikel Ini

USDT

0.0%

->
USDC

0.0%

->
PAXG

0.0%

->
XAUT

0.0%

->

Harga USDT (24 Jam)

Rp 0

Kapitalisasi Pasar

-

Volume Global (24 Jam)

-

Suplai yang Beredar

-