Apakah Bitcoin Mining Tidak Ramah Lingkungan?

July 23, 2021
Combined Shape 2
5 Menit
Bagikan
Gambar Apakah Bitcoin Mining Tidak Ramah Lingkungan?
Reading Time: 5 minutes

Konsumsi energi Bitcoin yang besar sering menuai perdebatan mengenai pentingnya upaya efisiensi pada proses penambangan bitcoin. Menurut data dari Cambridge Centre for Alternative Finance (CCAF), Bitcoin saat ini mengkonsumsi sekitar 110 Terawatt Hours per tahun atau kurang lebih 0,55% dari produksi listrik global. Kira-kira ini setara dengan konsumsi energi tahunan negara-negara kecil seperti Malaysia atau Swedia. Benarkah konsumsi energi yang besar membuat bitcoin mining tidak ramah lingkungan? Bagaimana perbandingannya dengan proses penambangan komoditas lainnya dan industri keuangan lainnya? Berikut adalah penjelasan dari kami.

Konsumsi listrik Bitcoin digunakan untuk mengamankan jaringan Bitcoin

Baik bitcoin maupun emas memerlukan tenaga untuk menghasilkannya dan mengedarkannya di pasaran. Dalam industri penambangan emas, energi dibutuhkan untuk menggali emas dari bumi, menjalankan mesin penambangan dan juga memindahkannya. Jika pada proses penambangan emas energi digunakan untuk mengubah batu menjadi komoditas yang berharga, maka pada Bitcoin penambangan adalah proses mengubah matematika kompleks menjadi aset yang berharga. Keduanya sama-sama membutuhkan energi listrik.

Pertama-tama kita harus memahami tentang bagaimana cara kerja Bitcoin. Konsumsi energi listrik Bitcoin itu digunakan untuk mengamankan jaringan Bitcoin. Hasil dari pengamanan jaringan Bitcoin adalah munculnya bitcoin baru yang terbit ke dalam sistem. Sehingga setiap kali jaringan bitcoin dinyatakan aman (melalui proof-of-work) maka suplai bitcoin akan bertambah. Saat ini suplai bitcoin sudah keluar lebih dari 88% dari total 21 juta bitcoin yang ada.

Bitcoin pun memiliki protokol yang terbuka. Penambang bitcoin adalah bagian penting dari jaringan Bitcoin, dan agar jaringannya tetap aman, maka penambang harus mengeluarkan biaya dalam bentuk konsumsi listrik. Profit margin dari penambang sangatlah kecil, sehingga penambang harus menjual bitcoin yang mereka dapatkan untuk membayarkan energi listrik yang mereka gunakan.

Penambang bitcoin pastinya ingin mendapatkan keuntungan, sehingga cara untuk mendapatkan keuntungan lebih adalah dengan mencari cara untuk mengurangi biaya. Sementara biaya terbesar dari industri penambangan Bitcoin adalah biaya listrik. Sehingga tentu saja penambang akan mencari alternatif energi yang murah atau bahkan hampir gratis. Lalu bagaimana mereka melakukan hal ini? Salah satunya dengan mencari sumber energi terbarukan yang tersedia dalam jumlah besar.

Bitcoin mining menggunakan energi yang sulit digunakan oleh industri lainnya

Karena biaya untuk menjalankan penambangan bitcoin sangat besar, dan biaya terbesar adalah energi listrik untuk menjalankan mesin miner (seperti ASIC), sering muncul anggapan bahwa bitcoin mining tidak ramah lingkungan. Oleh karenanya, para penambang bitcoin mulai memiliki inisiatif untuk mencari energi yang lebih efisien. Energi paling murah atau gratis biasanya didapat dari energi buangan yang tidak dapat dipergunakan lagi. Sebagai contoh di Amerika Serikat, beberapa miner menggunakan gas alam suar.

Untuk mengekstraksi minyak bumi saat ini biasanya terbentuk produk sampingan berupa gas alam. Gas ini dapat mencemari lingkungan. Tetapi lokasi tambang minyak bumi biasanya terletak di daerah terpencil sehingga untuk mengambil energi dari gas ini tidak efektif untuk industri tradisional. Penambang Bitcoin di North Dakota hingga Siberia menggunakan kesempatan ini untuk mengambil gas alam hasil produk samping minyak bumi dan menggunakan energi tersebut untuk menjalankan penambangan bitcoin.

Di Cina, para penambang banyak yang menggunakan energi listrik hidro, salah satu energi listrik terbarukan terbesar di dunia. Pada musim hujan di Sichuan dan Yunan, energi hidro ini biasanya terbuang sia-sia setiap tahunnya. Produksi energi mereka di musim hujan melebihi permintaan lokal dari negara Cina. Belum lagi teknologi baterai mereka cukup maju untuk menampung energi ini. Sehingga tidak heran jika 50% penambangan bitcoin global terjadi di daerah ini pada musim hujan. Karena energi ini murah dan berlebih, serta terbuang sia-sia jika tidak digunakan untuk penambangan bitcoin.

Berdasarkan data dari Cambridge University, berikut adalah sumber energi Bitcoin. Tenaga listrik hidro merupakan sumber energi terbesar yang digunakan oleh miner di seluruh dunia. Sementara gas alam menduduki peringkat kedua. Walaupun di Asia Pasifik tenaga batubara masih dipakai, tetapi untuk di daerah lain proporsinya sangat kecil.

Emisi karbon sangat sulit dihitung dalam industri penambangan cryptocurrency

Untuk menghitung emisi karbon kita harus mengetahui campuran energi dari industri tersebut berapa banyak yang menggunakan energi yang tidak dapat diperbaharui dibandingkan dengan energi yang tidak dapat diperbaharui. Emisi karbon dari industri Bitcoin menggunakan tenaga hidro tentunya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang menggunakan energi batubara. Berdasarkan data dari Coinshare 74.1% penambang Bitcoin menggunakan energi yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan.

Jejak karbon dihitung berdasarkan seberapa banyak emisi gas kaca (CO2 dan Methane) yang dikeluarkan oleh aksi yang kita lakukan. Menurut riset yang dilakukan oleh Joule Bitcoin diklaim menghasilkan 22 ton metrik CO2 setiap tahunnya. Riset Joule menggunakan perhitungan emisi karbon berdasarkan asumsi penggunaan energi berdasarkan lokasi dari miner-miner besar. Tetapi Joule tidak memperhitungkan bahwa para miner besar biasanya beroperasi melalui metode yang disebut sebagai mining pools, yaitu para miner akan menggabungkan kemampuan mesin mereka untuk memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Bitcoin.

Para miner yang tergabung di dalam mining pool tersebar di seluruh penjuru dunia. Belum lagi kebanyakan miner farm atau sekumpulan mesin miner dalam jumlah besar, biasanya suka berpindah-pindah tempat sehingga lokasi dari para miner ini sangat sulit untuk dilacak Hal ini menyebabkan perhitungan emisi karbon dari cryptocurrency sangat sulit untuk ditentukan.

Apakah penggunaan energi Bitcoin dapat dibenarkan?

Bitcoin mengkonsumsi energi memang betul, tetapi konsumsi energi Bitcoin jauh lebih kecil dibandingkan dengan konsumsi energi lainnya seperti emas atau perbankan.

Penambangan bitcoin memacu pertumbuhan listrik yang dapat diperbaharui, tersedia dalam jumlah banyak serta ramah lingkungan. Penambangan bitcoin sama halnya seperti penambangan aluminium, untuk menghasilkan aluminium, bauksit harus dikonversi menjadi aluminium dan proses ini memakan tenaga yang sangat besar. Negara seperti Islandia menghasilkan lebih banyak listrik per kapita daripada negara lain mana pun di dunia. Hampir semua energinya berasal dari sungai gletser ataupun geothermal panas bumi. Sekitar empat perlima listrik Islandia saat ini digunakan untuk melebur aluminium.

Dengan banyaknya energi yang dibutuhkan untuk melebur aluminium, sisa energi ini diekspor ke daerah dan industri lain. Di Islandia contohnya, sisa dari peleburan aluminium digunakan untuk menjalankan industri data center. Hal yang sama juga bisa kita ekspektasikan dari penambangan bitcoin. Bitcoin menggunakan dan mengkonsumsi energi yang besar akan tetapi sama seperti aluminium, Bitcoin dapat mengekspor energi yang ia hasilkan untuk industri lain.

Mining Bitcoin dijalankan melalui konsep pasar bebas, artinya siapapun bisa mengikutinya dan meninggalkanya. Berbeda dengan penambangan emas yang dapat menyebabkan kerugian permanen akibat proses penggalian dan proses untuk menjadikan bijih batu emas menjadi emas batang. Reklamasi tanah pun merupakan proses yang memakan banyak biaya, dan untuk menutup tambang emas juga membutuhkan perencanaan dan biaya yang banyak. Berbeda dengan mining bitcoin yang bisa dipindahkan secara mudah. Beberapa miner beroperasi dengan menggunakan kontainer sehingga mereka bisa pindah ke tempat satu dan ke tempat yang lain dengan energi yang relatif efisien.

Keluaran energi yang dihasilkan oleh mesin bitcoin mining dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Keluaran energi mesin bitcoin adalah berupa panas. Sudah ada contoh nyata bahwa hasil panas ini dikonversi untuk sebagai penghangat seperti menjalankan air panas di rumah atau beberapa kasus di Kanada juga digunakan untuk menjalankan rumah kaca untuk menanam tanaman.

Kesimpulan

Penambangan bitcoin menggunakan energi besar akan tetapi jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan energi untuk menjalankan industri perbankan atau emas. Penambangan bitcoin memberikan dampak positif kepada lingkungan karena mendorong kemajuan energi yang dapat diperbaharui. Sehingga argumen yang menyatakan bahwa bitcoin mining tidak ramah lingkungan tidak sepenuhnya tepat.

Saat biasanya pengembangan energi yang dapat diperbaharui sangat bergantung kepada pemerintah, Bitcoin memberikan insentif melalui pasar bebas untuk mengembangkan energi yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan.

Author
Nadya Rahmaesya

Topik

Bagikan

Artikel Terkait

Mulai Investasi Sekarang
Daftar dalam hitungan menit, langsung mulai investasi.
Alamat Perusahaan
Kantor Pusat
The City Tower Lantai 27 Jalan M.H Thamrin No.81, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10310 Indonesia
Operasional & Customer Support
Rukan Permata Senayan Blok H1-H2 Jalan Tentara Pelajar, Jakarta Selatan DKI Jakarta 12210 Indonesia
Terdaftar dan Diawasi
Foundations/Reg-license/ISO27001
© 2021 PT. Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Perdagangan aset crypto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Kinerja pada masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, expected return dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan illustrasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto merupakan keputusan independen oleh pengguna.