
Harga Bitcoin berada di $63.738,12 pada 13 Agustus 2026, sekitar 49,49% di bawah rekor tertingginya $126.198,07 pada 6 Oktober 2025. Penurunan ini membuat sebagian investor memilih menunggu, tetapi juga menjadi momentum yang tepat untuk memahami strategi masuk secara terukur. Artikel ini membahas cara beli Bitcoin, memahami bear market lewat indikator on-chain, serta menyusun strategi dollar cost averaging (DCA) bagi investor.
Bear market adalah fase ketika harga sebuah aset mengalami penurunan di bawah puncak harga sebelumnya selama berbulan-bulan, biasanya diukur dari seberapa dalam penurunannya dan berapa lama fase itu berjalan. Batas yang umum dipakai adalah penurunan minimal 20% dari puncak harga, dan Bitcoin saat ini berada jauh melewati batas itu.
Data pasar Bitcoin per Coingecko, 13 Agustus 2026:
Angka penurunan itu terasa besar jika investor membandingkannya dengan siklus sebelumnya. Menurut Riset CoinGecko yang dibuat oleh Loke Choon Khei dan dipublikasikan 25 Juni 2026 mencatat siklus 2018 sampai 2019 turun 83,6% selama 385 hari, sementara siklus 2022 sampai 2023 turun 76,7% dari $67.617 ke $15.742 dalam 381 hari. Adapun pada siklus yang sedang berlangsung, Bitcoin tercatat turun 54,25% dari puncak $126.198,07 ke titik terendah $57.735 pada 1 Juli 2026. Artinya, sejauh ini penurunan pada siklus saat ini masih belum sedalam dua siklus sebelumnya, dengan catatan tidak terjadi penurunan lanjutan yang lebih besar.
๐ Pelajari Apa itu Bitcoin? Cara Kerja, Membeli dan Legalitasnya dari Pintu Academy sebelum masuk ke pembahasan siklus pasar di bawah ini.
Yang membedakan fase ini dari siklus sebelumnya adalah karakter permintaan BTC. Arus exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot melambat tiga pekan sebelum berbalik menjadi arus keluar $61,5 juta pada pekan yang berakhir 31 Juli 2026, menurut data SoSoValue. Sepekan kemudian, arus kembali positif sebesar $853,54 juta. Hal ini menunjukkan permintaan institusi kini lebih bersifat jangka pendek dan responsif terhadap data makro ekonomi serta berbagai macam faktor lainnya.
Mekanisme penerbitan Bitcoin sudah ditentukan sejak awal dan tidak berubah mengikuti harga, sehingga BTC yang baru tetap masuk ke pasar terlepas dari harga naik atau turun. Sebanyak 20,06 juta dari maksimum 21 juta BTC telah beredar, menurut CoinMarketCap, atau sekitar 95,56% dari total pasokan. Dengan begitu, BTC semakin langka karena ruang untuk pencetakan BTC baru semakin terbatas seiring waktu.
Tiga siklus bear market sebelumnya dalam data CoinGecko Research berakhir di rentang penurunan 76,7% sampai 83,6%, dan semuanya berlangsung antara 321 sampai 385 hari. Penurunan pada siklus sekarang berada di 54,25% dan sudah melewati 304 hari, artinya secara historis fase ini tidak lebih parah tapi juga belum tentu selesai. Riwayat siklus bukan jaminan pola yang sama akan terulang.
Empat halving yang telah terjadi dapat dibandingkan dengan fase penurunan setelah puncak tiap siklus. Perbandingan ini menunjukkan dua hal yaitu pergerakan harga di sekitar tanggal halving dan kedalaman penurunan setelah siklus mencapai puncaknya.
| Halving | Tanggal | Harga: 3 bln sebelum โ halving โ 3 bln sesudah | Fase bear market pasca ATH siklus itu |
|---|---|---|---|
| Pertama | 28 Nov 2012 | $11 โ ~$12 โ $34 | 2014โ2015: โ81,6% (321 hari) |
| Kedua | 9 Jul 2016 | $418 โ ~$650 โ $613 | 2018โ2019: โ83,6% (385 hari) |
| Ketiga | 11 Mei 2020 | $10.269 โ ~$8.727 โ $11.393 | 2022โ2023: โ76,7%, $67.617 โ $15.742 (381 hari) |
| Keempat | 20 Apr 2024 | $41.873 โ $64.990 โ $67.155 | Berjalan: โ54,25%, $126.198 โ $57.735 (304 hari, per 13 Agu 2026) |
Kolom paling kanan adalah bagian yang paling sering terlewat saat orang membahas halving. Tiga fase turun pertama berakhir di rentang 76,7% sampai 83,6% tanpa arah yang konsisten, sementara siklus sekarang tercatat 54,25%. Halving memperlambat laju pasokan yang baru, tapi tidak menghapus fase turun yang datang setelah puncak siklus terjadi, dan di situ letak kegunaan tabel ini sebagai pembanding.
Pembacaan chart bulanan Bitcoin menambah satu dimensi yang tidak terlihat dari angka penurunan, yaitu durasi fase kenaikan. Tiga fase naik terakhir sama-sama berlangsung sekitar 518 hari, sementara besaran kenaikannya menyusut dari 4.126,64% pada siklus 2017 menjadi 747,54% pada 2021 dan 155,26% pada 2024-2025. Pola serupa terlihat pada fase turun, dengan penurunan menyusut dari 85,72% menjadi 81,48% lalu 77,43%. Rentang pergerakan Bitcoin cenderung menyempit di kedua arah seiring kapitalisasi pasar yang membesar, sehingga ekspektasi investor saat ini perlu disesuaikan.

Satu hal perlu investor perhatikan saat membandingkan durasi di tabel dengan durasi di chart itu. CoinGecko Research mengukur dari puncak sampai titik terendah, sehingga hasilnya 321 hari sampai 385 hari. Chart bulanan di atas mengukur dari puncak sampai fase naik berikutnya dimulai, sehingga rentangnya jauh lebih panjang di 821 hari sampai 913 hari.
Di saat harga turun sepanjang paruh pertama 2026, partisipasi investor lokal justru terus meningkat. Data OJK dalam siaran pers SP 131/DKPU/OJK/VII/2026 mencatat:
Pertumbuhan akun dan volume transaksi di tengah harga yang melemah menunjukkan investor Indonesia masih memiliki minat pada aset crypto.
Data on-chain diambil langsung dari catatan transaksi blockchain Bitcoin, bukan dari pergerakan harga di exchange. Tiga indikator berikut menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab grafik harga, yaitu berapa harga perolehan rata rata pemegang Bitcoin saat ini, berapa banyak koin yang sedang tidak bergerak, dan berapa besar bagian dari koin itu yang sedang untung.
Realized cap adalah nilai seluruh Bitcoin yang beredar dihitung dari harga terakhir kali setiap koin berpindah ke alamat lain/dompet, sehingga angkanya mendekati total uang yang benar benar dibayar pasar untuk memiliki Bitcoin. MVRV Z-Score membandingkan kapitalisasi pasar dengan realized cap itu, lalu menyatakan selisihnya dalam satuan standar deviasi.
Pembacaan terbaru per data Look Into Bitcoin:

Skor 0,35 menempatkan harga pasar hanya sedikit di atas harga perolehan agregat pasar. Tekanan jual dari pemegang lama relatif kecil karena keuntungan mereka sangat tipis, tapi Bitcoin juga belum masuk zona yang dianggap โmurahโ yang secara historis mendahului pemulihan besar.
Long term holder adalah alamat dompet yang tidak memindahkan Bitcoin miliknya selama 155 hari atau lebih. Ambang 155 hari dipakai karena BTC yang sudah diam selama itu punya kemungkinan jauh lebih kecil untuk dijual dalam waktu dekat.

Angka itu membantu menjelaskan mengapa penurunan harga pada siklus ini lebih kecil dibanding siklus sebelumnya. BTC yang tersimpan di dompet yang sudah lama tidak bergerak tidak tersedia untuk dijual. Artinya, tekanan jual hanya berasal dari sebagian pasokan yang lebih kecil. Sebaliknya, jika angka ini turun tajam saat harga naik, berarti pemegang lama mulai menjual BTC kepada pembeli baru. Pola ini biasanya muncul menjelang akhir fase kenaikan.
Jumlah BTC yang tidak bergerak menjelaskan berapa banyak pasokan yang tidak melakukan penjualan BTC, tapi tidak menjelaskan keadaan posisi pemiliknya. Indikator ketiga menutup celah itu dengan mengukur berapa persen BTC milik pemegang jangka panjang yang harga perolehannya berada di bawah harga pasar saat ini.
Data Checkonchain menampilkan angka itu bersama tiga garis acuan statistik, yaitu rata rata historis, satu standar deviasi di atas rata rata, dan satu standar deviasi di bawahnya:

Angka 57% berarti sekitar 43% BTC milik pemegang jangka panjang saat ini berada di bawah harga perolehannya. Ini menjelaskan mengapa pasokan yang tersimpan di dompet tidak aktif mendekati rekor tertinggi justru ketika harga sedang tertekan. Pemilik BTC yang masih merugi di atas kertas cenderung menahan asetnya, sehingga pasokan yang benar-benar tersedia untuk dijual lebih kecil daripada yang terlihat dari jumlah BTC beredar.
Posisi di bawah batas satu standar deviasi sebelumnya hanya terjadi pada 2015, 2019, dan 2022. Indikator ini menunjukkan seberapa tertekan pemilik BTC jangka panjang, bukan kapan harga akan berbalik. Karena itu, indikator ini lebih berguna jika dibaca bersama MVRV Z-Score, bukan hanya dijadikan satu-satunya acuan.
Riset CoinGecko yang disusun Loke Choon Khei dan dipublikasikan pada 25 Juni 2026 membandingkan setiap fase penurunan Bitcoin berdasarkan dua ukuran yaitu kedalaman dan durasi. Angka tiga siklus sebelumnya sudah tercantum di kolom paling kanan tabel pada bagian sebelumnya. Untuk siklus yang sedang berjalan, riset tersebut mencatat penurunan 51,2% selama 233 hari per 24 Juni 2026 dan menyebutnya sebagai penurunan terdangkal yang pernah tercatat. Angka ini diambil sebelum titik terendah pada 1 Juli 2026, sehingga perlu dibaca sebagai kondisi akhir Juni, bukan kondisi terkini.
Riset itu juga memberi kerangka waktu yang bisa investor pakai untuk memantau posisi harga. Saat riset ditulis, harga $62.651 berada 22% di bawah moving average 200 hari di $76.450, yaitu garis rata rata harga 200 hari terakhir yang sering dipakai untuk menilai arah tren jangka menengah. Dari data siklus sebelumnya, Bitcoin butuh 65 sampai 166 hari sejak titik terendah untuk kembali di atas garis itu. Dihitung dari titik terendah 1 Juli 2026, jendelanya jatuh antara 4 September dan 14 Desember 2026, jadi posisi harga terhadap moving average 200 hari layak investor pantau beberapa bulan ke depan.
Laporan 2026 Q2 Crypto Industry Report dari CoinGecko yang dipublikasikan 21 Juli 2026 menunjukkan sisi yang tidak terlihat dari angka penurunan:
Penyusutan sektor stablecoin adalah bagian yang paling perlu diperhatikan. Stablecoin biasanya jadi tempat parkir modal yang menunggu masuk kembali ke pasar, jadi ketika nilainya menyusut, modal itu keluar dari ekosistem crypto sepenuhnya, tidak hanya berpindah antar aset.
Data Kaiko yang dipublikasikan Bloomberg memperkuat gambaran itu dari sisi volume harian. Volume perdagangan gabungan 44 exchange memuncak di sekitar $110 miliar pada Februari 2026, lalu menurun bertahap sepanjang tahun sampai bertahan di kisaran $8 miliar sampai $20 miliar per hari pada awal Agustus 2026. Penurunan volume yang lebih dalam daripada penurunan harga menunjukkan aktivitas perdagangan yang jauh lebih sepi. Kondisi ini membuat likuiditas di pasar lebih tipis, sehingga order besar dapat menggerakkan harga lebih jauh, baik naik maupun turun. Ini menjadi risiko yang perlu dipahami pembeli.

Di sisi lain, Whale Alert mencatat pencetakan 1 miliar USDT senilai sekitar $999,78 juta di Tether Treasury pada 10 Agustus 2026. Tambahan pasokan sebesar itu berpotensi meningkatkan likuiditas yang tersedia untuk masuk ke pasar, sekaligus berlawanan dengan tren penyusutan pasokan stablecoin yang dicatat CoinGecko pada kuartal kedua. Pencetakan stablecoin tidak berarti dana tersebut langsung digunakan untuk membeli Bitcoin, tetapi angka ini layak dipantau bersama arus ETF sebagai salah satu tanda adanya potensi modal baru yang masuk.

Harga bertahan lebih baik daripada siklus sebelumnya, sebagian karena lebih sedikit BTC yang tersedia untuk dijual dan aktivitas perdagangan yang lebih rendah. Arus masuk ETF sebesar $853,54 juta pada pekan yang berakhir 7 Agustus, menurut data SoSoValue, menjadi tanda awal perubahan arah permintaan institusi. Namun, sepanjang 2026, ETF Bitcoin spot masih mencatat arus keluar bersih sekitar $4,5 miliar.
Grafik arus kumulatif dari Velo juga memperlihatkan pola itu dalam satu gambar. Garis total naik hampir tanpa jeda sejak ETF Bitcoin spot diluncurkan awal 2024, mencapai puncaknya di kisaran $63 miliar pada November 2025, lalu menurun ke kisaran $50 miliar pada Juli 2026.
Di balik angka total itu terdapat dua arus yang berlawanan. IBIT milik BlackRock mencatat arus masuk terbesar, sekitar $78 miliar, sementara GBTC milik Grayscale mencatat arus keluar sekitar $27 miliar sejak dikonversi menjadi ETF. Angka bersih merupakan hasil penggabungan kedua arus tersebut, sehingga kenaikan atau penurunan total belum tentu berarti seluruh investor institusi bergerak ke arah yang sama.

Saat ini, Bitcoin bisa dibeli melalui platform aset crypto yang berizin dan diawasi OJK, seperti Pintu. Alurnya cukup sederhana:
Bitcoin tidak harus dibeli satu koin penuh. Bitcoin dapat dibagi hingga delapan angka desimal, sehingga investor bisa membeli dalam pecahan kecil. Dengan harga $64.820 dan kurs JISDOR Bank Indonesia Rp17.913 per dolar AS pada 7 Agustus 2026, satu Bitcoin setara sekitar Rp1,161 miliar. Dengan demikian, Rp1 juta setara sekitar 0,00086 BTC, sedangkan Rp100.000 sekitar 0,000086 BTC. Nilai tersebut belum memperhitungkan spread di platform.
Dollar cost averaging (DCA) adalah strategi membeli aset dalam jumlah yang relatif sama secara berkala, misalnya setiap awal bulan. Strategi ini bertujuan mengurangi dampak volatilitas dan risiko membeli dalam jumlah besar pada satu harga. DCA juga membantu investor menghindari keharusan menebak kapan harga BTC mencapai titik terendah (bottom), karena tidak ada cara pasti untuk mengetahuinya.
Dengan DCA, nominal Rupiah yang kamu keluarkan tetap sama pada setiap pembelian, sementara jumlah BTC yang didapat berubah mengikuti harga. Saat harga turun, nominal yang sama akan membeli lebih banyak BTC. Saat harga naik, jumlah BTC yang didapat lebih sedikit. Dengan begitu, investor tidak perlu menebak titik terendah karena waktu pembelian ditentukan oleh jadwal, bukan prediksi pasar.
๐ Pelajari lebih lanjut Apa itu Dollar Cost Averaging? di Pintu Academy sebelum mengambil keputusan DCA.
Bagian ini mengubah data yang sudah dibahas di atas menjadi salah satu referensi yang bisa investor terapkan. Jika memilih strategi DCA, tetapkan enam hal berikut sebelum pembelian pertama:
Tentukan alokasi bulanan berdasarkan penghasilan, pengeluaran, dana darurat, dan kondisi keuanganmu, bukan berdasarkan harga Bitcoin. Misalnya, jika kamu menetapkan alokasi 5% dari penghasilan Rp8 juta, berarti Rp400.000 per bulan. Yang penting, nominal tersebut tetap nyaman dijalankan saat harga naik maupun turun.
Pilih satu tanggal, misalnya tanggal 5 setiap bulan setelah gajian, lalu pertahankan jadwal tersebut. Inti DCA adalah mengikuti jadwal yang sudah ditentukan, bukan menebak kapan harga akan naik atau turun.
Simpan tanggal, nominal Rupiah, harga BTC, jumlah BTC yang diterima, dan biaya transaksi. Dari total Rupiah dan total BTC, kamu bisa menghitung harga beli rata-rata untuk mengetahui posisi investasimu.
Periksa harga beli rata-rata, biaya yang sudah dikeluarkan, kondisi arus ETF, dan indikator-indikator yang sudah dibahas sebelumnya. Gunakan data tersebut untuk memahami kondisi pasar, bukan untuk terus-menerus mengubah jadwal pembelian.
Buat aturan berdasarkan kondisi keuangan, misalnya ketika penghasilan turun, dana darurat belum mencukupi, atau uang tersebut dibutuhkan untuk kebutuhan lain. Aturan yang dibuat saat kondisi tenang lebih mudah dijalankan ketika harga Bitcoin sedang jauh.
๐ Pelajari lebih lanjut Simulasi Strategi DCA di Pintu Academy sebelum menentukan strategi pembelian
Bitcoin bergerak jauh lebih tajam daripada aset finansial konvensional, dan penurunan 48,64% dari puncak yang sedang berlangsung sekarang adalah bukti langsungnya. Riwayat siklus tidak berfungsi sebagai jaminan. Penurunan 54,25% yang tercatat sejauh ini juga bisa berlanjut lebih dalam kalau permintaan tidak kembali.
Risiko makro masih terbuka. Trading Economics mencatat pasar memberi peluang sekitar 77% untuk kenaikan bunga di September 2026, meski pembacaan itu dibuat sebelum laporan tenaga kerja AS periode Juli yang lemah dirilis 7 Agustus. Biaya modal yang naik biasanya menekan aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin.
Cara membeli Bitcoin pada 2026 secara teknis cukup sederhana yaitu pengguna bisa menggunakan aplikasi berizin OJK dan pembelian dalam pecahan kecil seperti di aplikasi Pintu. Yang lebih sulit adalah menentukan berapa besar modal dan bagaimana mengatur waktu pembelian. Data saat ini menunjukkan Bitcoin masih 48,64% di bawah puncaknya, penurunan siklusnya masih menjadi yang terendah dibanding siklus sebelumnya, MVRV Z-Score berada di 0,35, sementara volume transaksi menyusut 27,9% dalam satu kuartal.
Data tersebut tidak memberikan satu jawaban pasti tentang apakah sekarang waktu terbaik untuk membeli BTC. Yang bisa kamu kendalikan adalah nominal dan jadwal pembelian. DCA menjadi salah satu cara untuk masuk secara bertahap tanpa harus menebak kapan bottom terbentuk. Tetapkan aturan pembelian sejak awal, lalu gunakan arus ETF mingguan, MVRV Z-Score, dan posisi harga terhadap moving average 200 hari sebagai indikator untuk memahami kondisi pasar, bukan untuk mengubah keputusan setiap kali grafik bergerak.
Semua informasi yang ditampilkan dalam artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran investasi, rekomendasi, ajakan untuk membeli atau menjual aset crypto tertentu, maupun dasar pengambilan keputusan finansial. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan, tujuan investasi, dan toleransi risiko masing-masing.
Di Pintu, pengguna bisa melakukan pembelian berbagai jenis aset termasuk BTC mulai dari Rp11.000.
Tidak selalu. Harga yang lebih rendah memang membuat harga masuk lebih murah, tetapi tidak menghilangkan risiko penurunan lanjutan. Dalam siklus saat ini, Bitcoin telah turun 54,25% dari rekor tertinggi ke titik terendah pada 1 Juli 2026, sementara tiga siklus sebelumnya mencatat penurunan 76,7%-83,6% menurut CoinGecko Research. Data historis ini menunjukkan bahwa penurunan besar masih mungkin terjadi, tetapi tidak menjamin pola yang sama akan terulang. Gunakan dana yang tidak kamu butuhkan dalam jangka pendek dan sesuaikan pembelian dengan kemampuan menanggung risiko.
Aset crypto diperdagangkan secara legal di Indonesia melalui platform berizin seperti Pintu, dan pengawasannya berada di Otoritas Jasa Keuangan. Data OJK per Mei 2026 mencatat 22,40 juta akun konsumen dengan nilai transaksi Rp23,01 triliun dalam satu bulan. Pastikan platform yang kamu pakai punya izin resmi.
Keduanya punya kelebihan dan kekurangan. DCA lebih mudah dijalankan secara disiplin dan mengurangi risiko masuk dengan seluruh modal pada harga yang kurang menguntungkan, tetapi jika harga terus naik, sebagian modal akan masuk pada harga yang semakin tinggi. Beli sekaligus (lump sum) memberi seluruh modal lebih cepat mendapat eksposur ke Bitcoin dan secara historis sering menghasilkan keuntungan lebih tinggi ketika pasar naik, tetapi risikonya lebih besar jika harga langsung turun setelah pembelian. Studi Vanguard yang dikutip Corporate Finance Institute menemukan lump sum mengungguli DCA dalam 66% periode historis yang diteliti. Pilihan akhirnya bergantung pada jumlah modal, kondisi keuangan, dan toleransi risikomu.
Mulai dari dua indikator saja. MVRV Z-Score membantu melihat apakah nilai pasar Bitcoin relatif tinggi atau rendah dibandingkan nilai perolehan historisnya. Sementara itu, pasokan long-term holder menunjukkan berapa banyak BTC yang berada di tangan pemegang jangka panjang. Keduanya tersedia di Look Into Bitcoin dan bisa digunakan sebagai pelengkap analisis, bukan sebagai sinyal beli atau jual satu-satunya.
Menurut CoinGecko Research, tiga fase penurunan besar sebelumnya berlangsung selama 321 hari, 385 hari, dan 381 hari. Riset tersebut mencatat siklus saat ini telah berjalan 233 hari dengan penurunan 51,2% per 24 Juni 2026, sebelum titik terendah 1 Juli 2026 terjadi. Durasi siklus sebelumnya tidak menentukan berapa lama fase ini akan berlangsung, sehingga angka tersebut lebih tepat digunakan sebagai pembanding daripada perkiraan.
Download download aplikasi kripto Pintu di Play Store dan App Store! Keamananmu terjamin karena Pintu berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan & CFX.
Bagikan
Table of contents