
Pada 22 Juni 2026, jaringan Ethereum layer-2 bernama Taiko mendadak menghentikan produksi blok dan meminta seluruh penggunanya segera menarik dana dari bridge. Penyebabnya, sebuah kunci penanda tangan penting dari proyek bocor ke publik, lalu dipakai peretas untuk memalsukan bukti penarikan dan berhasil mencuri sekitar US$1,7 juta dari bridge tersebut. Bridge crypto adalah jembatan yang memindahkan aset dari satu blockchain ke blockchain lain dan sudah lama jadi salah satu target peretas yang mengakibatkan total kerugian mencapai miliaran dolar. Dalam artikel ini, kami akan membahas alasan bridge crypto sering menjadi sasaran empuk peretas dan hal penting lain yang dapat dijadikan pelajaran.
Setiap blockchain seperti Bitcoin, Ethereum, dan Solana berjalan sebagai sistem terpisah yang tidak bisa secara otomatis saling terhubung. Artinya, aset di satu jaringan tidak bisa langsung dikirim ke jaringan lain. Bridge crypto hadir sebagai penghubung antar-jaringan tersebut, sehingga memungkinkan pengguna dapat berinteraksi antar blockchain. Salah satu fungsinya adalah memindahkan nilai suatu aset dari satu blockchain ke blockchain lainnya.
Mayoritas bridge memakai mekanisme lock-and-mint yang alurnya terdiri dalam tiga langkah:
Saat pengguna ingin balik ke jaringan asal, prosesnya dibalik. Wrapped token dihilangkan dengan proses burn, lalu aset asli di blockchain asal dibuka kembali. Aset asli yang terkunci itulah yang terus menumpuk di dalam kontrak bridge.
Cari tahu lebih lanjut mengenai penjelasan Bridge di Pintu Academy: Apa Itu Blockchain Bridges?
Ada beberapa proyek besar yang berfokus terhadap perpindahan aset antar-blockchain. Tiga di antaranya sering jadi rujukan karena skala dan pendekatan keamanannya berbeda-beda.

Salah satu bridge terbesar yang menghubungkan lebih dari 35 blockchain termasuk Ethereum dan Solana, dengan nilai transfer kumulatif menembus US$50 miliar per April 2026 menurut dokumentasi resminya. Keamanannya bertumpu pada 19 validator bernama Guardian yang harus sepakat minimal 13 dari 19 sebelum sebuah pesan cross-chain disetujui. Wormhole juga proyek yang pernah kehilangan US$321 juta pada 2022 dan dari kasus tersebut, proyek menambah beberapa lapis pengaman.

Protokol pesan antar-jaringan (omnichain) yang membuat aplikasi di jaringan berbeda bisa saling berkirim pesan, termasuk memindahkan token. Alih-alih mengunci token lalu mencetak versi bungkusnya, standar Omnichain Fungible Token (OFT) milik LayerZero membakar token di jaringan asal lalu mencetak versi aslinya di jaringan tujuan, sehingga tidak ada tumpukan token yang terbungkus. Per April 2026, LayerZero sudah terintegrasi di lebih dari 90 blockchain.

Protokol interoperabilitas yang bersifat permissionless, artinya blockchain mana pun bisa memasangnya tanpa perlu izin dari satu pihak yang terpusat. Ciri khasnya adalah keamanan modular lewat Interchain Security Module (ISM), yaitu tiap aplikasi bisa memilih sendiri cara pesan lintas-chain-nya diverifikasi. Hyperlane kini menjangkau lebih dari 150 blockchain.
Bridge pada dasarnya berjalan di atas smart contract dan kontrak inilah yang kerap jadi target empuk bagi peretas. Serangannya bisa lewat berbagai cara, mulai dari celah di kode sampai social engineering untuk mencuri kunci yang menjadi akses ke dana pengguna.
Inti kerja sebuah bridge adalah memverifikasi satu hal, apa aset benar-benar sudah dikunci di blockchain asal sebelum aset di blockchain tujuan dilepas? Jika jawaban atas pertanyaan itu bisa dipalsukan, maka dana bisa keluar tanpa jaminan apapun.
Laporan Halborn dan data PeckShield menunjukkan lapisan verifikasi pesan inilah yang paling sering jadi titik rapuh bridge sepanjang 2026. Celahnya bisa saja datang dari cacat desain di kode verifikasi atau bisa juga dari kunci penanda tangan yang bocor sehingga penyerang bisa membuat bukti yang lolos verifikasi, seperti yang terjadi pada Taiko.
Serangan ke bridge umumnya memiliki beberapa pola yang mirip:
Pada kasus Taiko, analisis pihak ketiga seperti thirdweb menyebut penyebabnya adalah kunci penanda tangan yang bocor ke publik. Kunci itu, sebuah signing key dari sistem prover berbasis teknologi Intel SGX, yang dilaporkan sempat tersimpan secara terbuka di dalam repositori kode Taiko di GitHub.
Dengan kunci tersebut, penyerang bisa mendaftarkan dirinya sebagai pihak yang sah lalu menandatangani bukti palsu yang lolos verifikasi bridge. Artinya logika verifikasi Taiko sebenarnya bekerja sesuai desain, yang gagal justru pengamanan kuncinya. Ini yang membedakan Taiko dari kasus seperti Wormhole atau Nomad yang berhasil ditembus peretas karena kelemahan di kode verifikasinya sendiri. Temuan ini masih berupa analisis pihak ketiga sampai Taiko merilis laporan insiden resmi.
Peretasan crypto terbesar sepanjang 2026 sejauh ini adalah kasus bridge dari KelpDAO. Pada 18 April 2026, penyerang menguras sekitar US$292 juta (116.500 rsETH, hampir seperlima dari total pasokan rsETH) dari bridge berbasis LayerZero milik KelpDAO. Uniknya, tidak ada satu baris pun kode smart contract yang diretas.

Menurut Chainalysis, yang diserang justru infrastruktur verifikasi di luar rantai (off-chain). KelpDAO hanya mengandalkan satu verifikator tunggal, lalu penyerang mensusupi sumber data verifikator itu sampai bridge yakin ada token burn di jaringan asal yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Karena tiap transaksinya tampak sah di blockchain, dalam hal tersebut, alat keamanan biasa tidak menangkap sinyal mencurigakan apa pun. Chainalysis mengaitkan serangan ini dengan Lazarus Group, peretas terkenal asal Korea Utara.
Beberapa hal penting yang bisa dipetik dari kasus ini:
Benang merahnya, dari KelpDAO sampai kasus lama seperti Ronin dan Nomad, selalu sama, yaitu satu aturan dasar yang dilanggar, aset yang dilepas di jaringan tujuan harus setara dengan yang dikunci atau dibakar di jaringan asal. Begitu aturan itu bisa diakali oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dana yang menumpuk di bridge akan langsung terkuras, tidak peduli secanggih apa teknologi di baliknya.
Bagi investor di Indonesia, sebagian besar jual beli crypto terjadi lewat platform terpusat (centralized exchange) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga pengguna tidak berurusan langsung dengan proses bridge. Risiko bridge baru muncul saat pengguna masuk ke dunia decentralized finance , yaitu layanan keuangan tanpa perantara yang berjalan di atas blockchain, dan harus memindahkan aset antar-jaringan sendiri.
Bridge crypto memecahkan masalah nyata, yaitu memindahkan aset antar-blockchain yang tadinya saling terpisah. Namun, desain ini menumpuk dana besar di satu titik dan bergantung pada verifikasi pesan yang sulit dibuat secara sempurna, baik karena cacat kode maupun karena kunci pentingnya bisa bocor.
Disclaimer: Semua informasi yang ditampilkan dalam artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran investasi, rekomendasi, ajakan untuk membeli atau menjual aset crypto tertentu, maupun dasar pengambilan keputusan finansial. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan, tujuan investasi, dan toleransi risiko masing-masing.
Bridge crypto adalah jembatan yang memindahkan aset dari satu blockchain ke blockchain lain. Karena tiap blockchain berjalan terpisah, bridge memakai mekanisme mengunci aset asli di jaringan asal lalu mencetak versi bungkusnya di jaringan tujuan.
Bridge menampung dana dalam jumlah besar di smart contract. Hal ini menjadikannya salah satu target utama para peretas yang ingin mengeksploitasi celah keamanan. Selain itu, keamanan bridge bergantung pada proses verifikasi pesan lintas-jaringan. Satu celah di lapisan ini, baik dari cacat kode maupun dari kunci penanda tangan yang bocor, bisa membuat dana keluar tanpa jaminan.
Exchange terpusat mempertemukan pembeli dan penjual dalam satu platform yang biasanya diawasi regulator. Bridge tidak menjual aset, melainkan memindahkannya antar-blockchain, dan umumnya berjalan otomatis lewat smart contract tanpa perantara.
Selain aset kripto, pengguna juga bisa melakukan pembelian tokenisasi aset yang dimulai dengan nominal yang sangat terjangkau, yaitu mulai dari Rp11.000 di aplikasi Pintu, sehingga pengguna dapat berinvestasi tanpa modal besar. Pintu menyediakan berbagai tokenisasi aset seperti TSLAX, PAXG, XAUT, AMZNx, dan aset sejenis lainnya melalui halaman tokenisasi aset saham/Tokenized Stocks.
Sebelum membeli aset tokenisasi di aplikasi Pintu, kamu perlu melakukan KYC dan mendepositkan uang melalui berbagai bank di Indonesia. Dengan Pintu, kamu bisa memiliki aset kripto, emas digital berbasis crypto, dan tokenisasi aset saham AS langsung di satu aplikasi investasi!
Berikut cara beli tokenisasi aset saham seperti Tesla di Pintu:
Pintu adalah platform jual beli crypto yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga kamu bisa berinvestasi dengan lebih tenang.
Bagikan
Lihat Aset di Artikel Ini

0.0%

0.0%
Harga DeFi (24 Jam)
Kapitalisasi Pasar
-
Volume Global (24 Jam)
-
Suplai yang Beredar
-