Apa itu Loss Aversion dan Cara Menghindarinya?

Updated
November 29, 2021
• Waktu baca 3 Menit
Gambar Apa itu Loss Aversion dan Cara Menghindarinya?
Reading Time: 3 minutes

Loss aversion adalah istilah psikologi yang bisa mempengaruhi perilaku seseorang dalam berinvestasi dan bisa memberikan dampak negatif pada keputusan seseorang apabila tidak ditangani secara tepat. Apa itu loss aversion dan bagaimana cara menghindarinya? Simak selengkapnya di bawah ini!

Baca juga: Apa itu Profil Risiko dan Jenis-Jenisnya dalam Investasi?

Apa itu Loss Aversion?

apa itu loss aversion

Menurut Haigh dan List (2005), loss aversion adalah kondisi psikologis seseorang yang cenderung lebih sensitif terhadap kerugian dibandingkan keuntungan.

Pengambilan keputusan dalam berinvestasi didasari pada sikap psikologi dan sikap rasional seseorang, sehingga loss aversion sangat berpengaruh terhadap keputusan berinvestasi seseorang.

Berdasarkan penelitian dari Wisudanto dan Baihaqi (2016), manusia cenderung lebih suka untuk menghindari masalah dibandingkan memperoleh keuntungan. Sehingga, apabila mereka merasa bahwa investasi yang dimilikinya sudah tidak aman lagi, maka mereka akan memilih untuk menjualnya. Semakin tinggi tingkat loss aversion seseorang, maka ia akan semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Contoh Loss Aversion dalam Investasi

loss aversion adalah sebuah kondisi psikologi trading crypto yang mempengaruhi kegiatan investasi seseorang. Berikut beberapa contoh loss aversion yang dilakukan para investor.

  • Investor cenderung berinvestasi pada instrumen dengan pengembalian yang rendah dan terjamin daripada berinvestasi pada investasi dengan pengembalian yang lebih menjanjikan dengan risiko lebih tinggi.
  • Investor tidak menjual aset yang dimiliki, meskipun hasil analisis rasional menunjukkan bahwa aset tersebut tidak layak untuk dipertahankan.
  • Investor menjual aset yang harganya baru naik sedikit untuk mendapatkan keuntungan dalam jumlah sedikit, padahal hasil analisis mengisyaratkan bahwa investor bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak jika mempertahankan aset tersebut sedikit lebih lama.

Cara Menghindari Loss Aversion

Loss aversion adalah suatu kondisi yang bisa menghalangi investor untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Bagaimana cara menghindari loss aversion? Simak selengkapnya di bawah ini!

Terapkan Mindset Bersyukur

Cara terbaik untuk menghindari loss aversion yaitu dengan bersyukur. Ketika kamu bersyukur dan menerima apapun yang kamu punya, maka kamu juga bisa menghilangkan rasa takut untuk kehilangan semua itu.

Berpikir Jangka Panjang

Banyak orang berpikir hanya untuk jangka pendek saja. Padahal dalam berinvestasi, sebaiknya investor memprioritaskan keuntungan jangka panjang. Jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk menghindari kerugian yang akan mencegah potensi kamu untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Jangan Terjebak FOMO dan FUD

Dengan perkembangan media sosial yang semakin pesat, akan semakin banyak informasi yang kamu dapatkan. Meskipun di satu sisi perkembangan ini adalah hal yang baik, namun di sisi lain akan semakin banyak informasi kurang tepat yang kamu terima.

Sebelum mengambil keputusan investasi atas informasi yang kamu dapatkan, pastikan dulu untuk mengkonfirmasi informasi tersebut dari sumber dan pakar terpercaya.

Baca juga: Apa itu FUD dan FOMO dalam Investasi?

Memperbanyak Pengalaman

Pengalaman bisa didapatkan dari praktik langsung maupun belajar dari pengalaman orang lain. Cobalah bergabung dengan forum-forum investasi atau berkenalan langsung dengan investor yang telah sukses. Setiap investor yang sukses pada umumnya telah mengalami jatuh bangun untuk membangun portofolio yang gemilang.

Dengan menyadari fakta ini, kamu juga akan lebih berani untuk menghindari perilaku loss aversion.

Perbedaan Loss Aversion vs Risk Aversion

loss aversion vs risk aversion

Terdapat istilah psikologi lain yang bisa mempengaruhi kegiatan berinvestasi seseorang, yaitu risk aversion. Loss Aversion dan Risk Aversion sendiri sebenarnya cukup berbeda.

Investor dengan perilaku risk aversion biasanya akan menghindari aset yang lebih berisiko ketika dihadapkan pada beberapa pilihan instrumen investasi dengan tingkat pengembalian yang tidak jauh berbeda.

Sementara itu, mereka dengan perilaku loss aversion merasakan tingkat kebahagiaan yang lebih kecil ketika berhasil memperoleh keuntungan dibandingkan kebahagiaan yang diperoleh ketika menghindari kerugian.

Dalam hal ini, risk aversion hanya akan mempengaruhi sikap investor ketika membeli aset, sementara perilaku loss aversion bisa mempengaruhi berbagai keputusan yang diambil investor ketika memanajemen aset yang dimilikinya.

Hal ini bisa berbahaya dan bisa mengakibatkan performa buruk pada portofolio investasi. Hal ini karena terlepas dari segala bukti dan hasil analisis rasional yang menyatakan bahwa seorang investor harus menjual aset yang dimilikinya, ia tetap tidak akan melakukannya karena khawatir akan mengalami kerugian. Alih-alih melindungi asetnya, ia justru berpotensi untuk mengalami kerugian karena keputusan tidak diambil berdasarkan analisis rasional.

Nah, itu dia penjelasan singkat mengenai loss aversion, cara menghindari dan perbedaannya dengan risk aversion.

Belakangan ini, investasi crypto sendiri sedang diminati banyak orang. Per Mei 2021 lalu, jumlah investor crypto di Indonesia bahkan telah mencapai 6,5 juta orang berdasarkan data dari Kemendag.

Untuk kamu yang tertarik berinvestasi dan trading crypto, kamu bisa menggunakan Pintu, aplikasi bitcoin dan crypto yang telah terdaftar resmi di Bappebti. Mulai dari Rp11.000, dapatkan aset crypto pertama kamu di Pintu!

Referensi:

Corporate Finance Institute, Loss Aversion. Diakses tanggal: 20-11-21.

Danny Schleien, How Loss Aversion is Driving You Fear of Failure. Diakses tanggal: 20-11-21.

HartfordFunds, Risk Aversion vs Loss Aversion. Diakses tanggal: 23-11-21.

Rubiyanto, Wardianto, Supriyanto, Pengaruh Financial Literacy, Overconfidence dan Loss Aversion Terhadap Keputusan Investasi. Diakses tanggal: 20-11-21.

Wisudanto dan Baihaqi FR, Perilaku Loss Aversion Studi Kasus pada Pasar Modal di Indonesia. Diakses tanggal: 20-11-21.

Cornelia Lyman
Author
Cornelia Lyman
Bagikan

Artikel Terkait

Artikel Blog Terbaru

Lihat Semua Artikel ->