Arti Buyback, Kelebihan dan Kekurangannya

Updated
July 8, 2022
• Waktu baca 4 Menit
Gambar Arti Buyback, Kelebihan dan Kekurangannya
Reading Time: 4 minutes

Penerbitan saham melalui bursa merupakan salah satu alternatif metode pendanaan bagi perusahaan. Namun ternyata jumlah saham yang beredar terlalu banyak di pasar justru bisa mendatangkan permasalahan serius bagi perusahaan. Di sinilah pentingnya peranan buyback. Apa itu buyback, cara kerja serta fungsinya? Simak selengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Buyback?

buyback adalah

Arti buyback adalah aktivitas pembelian kembali seluruh atau sebagian saham secara tunai dari pasar oleh perusahaan selaku penerbit saham. Saham yang dibeli kembali oleh perusahaan ini nantinya akan disimpan kembali oleh perusahaan dalam bentuk saham treasury.

Bagaimana Cara Kerja Buyback?

Perusahaan umumnya menggunakan dana yang mereka miliki untuk melakukan buyback. Dana tersebut dapat berasal dari pinjaman, uang tunai (cash on hand), maupun arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi.

Sementara itu, 2 cara kerja buyback adalah sebagai berikut.

Pasar Terbuka

Cara pertama ini bisa dikatakan cukup mainstream dan sederhana. Cara ini dilakukan perusahaan dengan membeli kembali saham yang telah diterbitkan di pasar terbuka dalam jangka waktu lama. Beberapa perusahaan bahkan terkadang sengaja menjalankan program tertentu untuk melakukan buyback dalam kurun waktu tertentu secara berkala.

Penawaran Tender

Cara kedua yang diterapkan perusahaan dalam buyback adalah dengan memberikan penawaran tender kepada para pemegang saham. Penawaran ini memberikan opsi bagi para pemegang saham untuk menyerahkan seluruh atau sebagian dari saham mereka dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar saat ini.

Pemberian premi ini merupakan wujud kompensasi sekaligus cara perusahaan dalam meyakinkan investor bahwa akan lebih menguntungkan bagi mereka untuk melepaskan kepemilikan saham daripada menahannya.

Jenis-Jenis Buyback

Berikut ini merupakan tiga jenis buyback berdasarkan skema yang dibuat perusahaan, antara lain:

Skema Selektif

Berdasarkan skema selektif, perusahaan melakukan buyback dengan cara membuat penawaran tender secara khusus untuk pemegang saham dengan kriteria tertentu. Dengan kata lain, tidak semua pemegang saham mendapatkan kesempatan memperoleh penawaran tender melainkan hanya pemegang saham yang memiliki kriteria sebagaimana ditetapkan oleh perusahaan.

Skema Setara

Berikutnya, ada skema setara yang merupakan kebalikan dari skema pertama. Pada skema kali ini, perusahaan memberikan penawaran tender untuk melakukan buyback kepada seluruh pemegang saham tanpa ada kriteria tertentu.

Skema Saham Karyawan

Beberapa perusahaan memiliki kebijakan untuk memberikan saham sebagai bonus atau insentif kepada karyawan yang dianggap telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan perusahaan. Nah, pada skema saham, karyawan perusahaan membeli kembali saham yang dimiliki oleh karyawan yang sudah tidak lagi bekerja di perusahaan.

Kelebihan dan Kekurangan Buyback

Kelebihan Buyback

Berikut ini merupakan beberapa kelebihan buyback, di antaranya:

Meningkatkan Value Saham

Apabila saham yang beredar di pasar jumlahnya terlalu banyak, maka hal ini dapat menurunkan value yang dalam masing-masing lembar saham. Hal ini akan berdampak terhadap turunnya earnings per share (EPS) atau pendapatan yang diperoleh dari penerbitan saham.

Keputusan untuk melakukan buyback berarti mengurangi besar jumlah penawaran yang tersedia di pasar dan menyeimbangkannya dengan tingkat permintaan. Hasilnya, masing-masing lembar saham memiliki value lebih tinggi di mata investor sehingga harga saham dan tingkat perolehan laba per lembar saham (EPS) mengalami peningkatan.

Selain itu, keputusan untuk melakukan buyback juga menjadi ajang bagi perusahaan untuk menunjukkan kepada investor bahwa mereka memiliki cukup uang yang dapat disisihkan untuk keadaan darurat, sehingga kemungkinannya kecil bagi perusahaan untuk terlilit masalah ekonomi.

Baca juga: Kriteria dan Penyebab Saham Undervalue

Distribusi dan Pengawasan Terhadap Kepemilikan Perusahaan

Selain value saham, kepemilikan perusahaan juga turut menjadi salah satu faktor dalam pengambilan keputusan manajemen untuk melakukan buyback. Sebagaimana umumnya, kepemilikan saham perusahaan akan memberikan hak suara kepada investor dalam proses pengambilan keputusan strategis.

Hal ini berarti bahwa semakin besar saham yang dimiliki oleh investor, maka struktur kepemilikan akan didominasi oleh investor, dan pada beberapa kasus kondisi tersebut dinilai sebagai salah satu kendala bagi pihak manajemen dalam pengambilan keputusan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka keputusan buyback diambil guna mendistribusikan dan melakukan pengawasan terhadap kepemilikan perusahaan.

Tax Avoidance

Terakhir, keputusan untuk melakukan buyback juga dilakukan dalam rangka melakukan tax avoidance. Pasalnya, terdapat beberapa pemerintahan negara yang memberlakukan pajak capital gain lebih besar dibanding pajak dividen.

Hal ini berarti perusahaan selaku penerima dana dari investor dikenakan pajak lebih besar dibanding dana pengembalian yang diterima investor dalam bentuk dividen. Dalam kondisi tersebut, beberapa perusahaan menerapkan strategi buyback sebagai bentuk tax avoidance.

Tentunya, strategi buyback juga memiliki beberapa kekurangan, di antaranya:

Kelemahan Buyback

Kesalahan Estimasi

Pertama, keputusan untuk melakukan buyback, terutama dalam jumlah besar, dapat menyebabkan kesalahan estimasi dan valuasi nilai perusahaan. Apabila dibiarkan, kondisi ini juga dapat berdampak terhadap penilaian prospek perusahaan di masa mendatang.

Penawaran Menurun

Kedua, buyback dalam jumlah besar juga dapat mempengaruhi kurva permintaan dan penawaran dengan cara menurunkan angka penawaran. Akibatnya, harga per lembar saham akan meningkat secara pesat dan menimbulkan kesalahan estimasi bagi investor dan pengamat pasar.

Dampak Terhadap Rasio Keuangan Lainnya

Tak hanya kesalahan estimasi investor dan pengamat pasar, peningkatan harga per lembar saham juga dapat mempengaruhi nilai rasio keuangan perusahaan, seperti EPS, ROE, dan lain-lain. Kondisi ini dapat mempengaruhi keputusan investasi dari masyarakat.

Contoh Buyback

contoh buyback

PT. ABCDE – sebuah perusahaan multinasional – dilaporkan memiliki harga saham yang telah mengungguli saham pesaingnya. Oleh sebab itu, perusahaan mengumumkan untuk membeli kembali 10% saham yang beredar sesuai harga pasar saat ini untuk memberikan pengembalian kepada investor.

Misalkan, PT. ABCDE memiliki pendapatan sebesar US$1 juta dengan 1 juta saham beredar di pasar, sehingga laba per lembar saham adalah sebesar US$ 1. Jika diperdagangkan pada harga US$20 per lembar saham, maka rasio price to earning mencapai angka 20.

Apabila semua yang lain dianggap sama dan 100 ribu lembar saham dibeli kembali, maka nilai EPS yang baru akan berganti menjadi US$ 1,11 (US$ 1 juta dibagi 900 ribu lembar saham). Agar rasio price to earnings tetap bernilai 20, maka saham perlu diperdagangkan dengan harga naik sebesar 11% menjadi US$ 22,22

Nah, itu dia arti buyback, kelebihan, kelemahan hingga fungsinya. Pada dasarnya, arti buyback adalah aktivitas pembelian saham kembali oleh perusahaan penerbit saham. Semoga informasi ini bisa bermanfaat bagi kamu para investor dan trader, ya!

Jenis-Jenis investasi terus berkembang tiap tahunnya. Belakangan ini, investasi crypto semakin menarik minat masyarakat Indonesia, terlihat dari jumlah investor crypto yang mencapai 11 juta orang per Desember 2021 lalu.

Tertarik memulai investasi crypto, download Pintu sekarang di App Store dan Play Store kamu masing-masing! Telah terdaftar resmi di Bappebti, kamu bisa berinvestasi di Pintu mulai dari Rp11.000 saja, lho!

Referensi

Adam Hayes. Buyback. Diakses pada Senin, 20 Juni 2022.

Corporate Finance Institute. Stock Buyback Methods. Diakses pada Senin, 20 Juni 2022.

Stock Pathshala. Buyback of Shares. Diakses pada Senin, 20 Juni 2022.

Sue Yim. What are the Different Types of Share Buy-Backs?. Diakses pada Senin, 20 Juni 2022.

Bagikan

Artikel Terkait

Artikel Blog Terbaru

Lihat Semua Artikel ->