Download Pintu App
Jakarta, Pintu News – Perdebatan soal “dip” dan “crash” di pasar crypto kembali mencuat setelah Bitcoin (BTC) sempat jatuh ke US$60.000 pada 5 Februari. Data Santiment menunjukkan lonjakan tajam penyebutan kata “crash” di media sosial justru bertepatan dengan terbentuknya local bottom, sebelum harga BTC memantul sekitar 13% ke kisaran US$67.000.
Menariknya, narasi “crash” masih terus diperkuat media arus utama ketika fase pemantulan sudah berlangsung, memberi ruang bagi pelaku besar untuk menyerap jual panik dari investor ritel yang terlambat informasi.
Menurut Santiment, penyebutan “dip” dan “crash” di media sosial mencerminkan dua fase psikologis yang berbeda. Sepanjang Januari, istilah “dip” beberapa kali melonjak ketika harga crypto turun, misalnya pada 26 Januari, tetapi tanpa memicu kepanikan besar. Pada fase ini, pelaku pasar cenderung menganggap penurunan sebagai koreksi wajar, sehingga tekanan jual berbasis emosi belum terlalu ekstrem.
Sebaliknya, kata “crash” mulai mendominasi percakapan ketika penurunan mencapai level yang memicu jual panik dan kapitulasi. Pada 5 Februari, turunnya Bitcoin ke US$60.000 menjadi titik di mana narasi berubah dari “turun wajar” menjadi “pasar ambruk”. Santiment menilai, secara historis, lonjakan penyebutan “crash” kerap berfungsi sebagai indikator bahwa tekanan jual sudah mendekati puncak dan peluang pembalikan (relief rally) mulai terbuka.
Baca juga: 3 Faktor yang Diduga Memicu Crash Bitcoin Terbaru di Bawah $60.000
Santiment juga menyoroti adanya jeda antara kondisi harga aktual dan narasi media arus utama. Ketika BTC sudah pulih sekitar 13% dari US$60.000 ke US$67.000, sebagian media masih mengangkat headline bernuansa “crash” seolah kejatuhan baru saja terjadi. Keterlambatan ini berpotensi mendorong investor ritel untuk menjual di harga lebih rendah, meski pasar sudah mulai berbalik arah.
Dalam konteks ini, pelaku besar yang lebih cepat membaca data on-chain dan order flow dapat memanfaatkan selisih waktu tersebut. Mereka berpeluang membeli dari penjual panik yang bereaksi berdasarkan pemberitaan, bukan kondisi pasar real time. Pola ini turut menjelaskan mengapa data sentimen ekstrem sering kali bertepatan dengan local bottom ketimbang awal kejatuhan baru.
Baca juga: 23% Trader Yakin The Fed Pangkas Suku Bunga di Maret, Tapi Warsh Bikin Pasar Waspada?
Mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, mengaitkan sell-off Bitcoin kali ini bukan dengan faktor fundamental, melainkan dengan mekanisme hedging produk terstruktur yang terhubung ke iShares Bitcoin Trust (IBIT). Bank yang menerbitkan produk semacam ini harus melakukan penyesuaian posisi (delta-hedging) ketika harga Bitcoin menembus level tertentu, sehingga dapat memicu gerakan harga yang cepat dan tajam.
Menurut Hayes, penyesuaian posisi dealer inilah yang memperbesar tekanan jual dalam waktu singkat, bukan karena perubahan mendasar pada jaringan Bitcoin atau adopsi pengguna. Ia menyatakan sedang menyusun daftar lengkap note terstruktur bank untuk memetakan titik-titik pemicu yang bisa menimbulkan lonjakan naik maupun turun yang ekstrem. Bagi trader, ini berarti dinamika harga jangka pendek kian dipengaruhi oleh struktur produk keuangan, bukan sekadar aksi spot ritel.
Perbedaan cara trader memaknai “dip” dan “crash” mencerminkan pergeseran dari koreksi wajar ke fase panik kolektif. Data Santiment menunjukkan bahwa lonjakan narasi “crash” justru sering menandai area bottom lokal, sementara pemulihan harga sudah mulai berjalan ketika media utama masih memperkuat cerita kejatuhan.
Di sisi lain, analisis Arthur Hayes memperlihatkan bahwa pergerakan tajam terbaru lebih banyak didorong oleh hedging produk terstruktur seperti IBIT, bukan faktor fundamental crypto. Bagi pelaku pasar, memahami dinamika sentimen dan mekanisme keuangan di balik pergerakan harga menjadi kunci agar tidak ikut terjebak menjual di titik kapitulasi.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Kegiatan perdagangan aset crypto dilakukan oleh PT Pintu Kemana Saja, suatu perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta merupakan anggota PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Kegiatan perdagangan aset crypto adalah kegiatan berisiko tinggi. PT Pintu Kemana Saja tidak memberikan rekomendasi apa pun mengenai investasi dan/atau produk aset crypto. Pengguna wajib mempelajari secara hati-hati setiap hal yang berkaitan dengan perdagangan aset crypto (termasuk risiko terkait) dan penggunaan aplikasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto dan/atau kontrak berjangka atas aset crypto merupakan keputusan mandiri pengguna.