Rahasia Terungkap! Mengungkap Fakta Menarik di Balik Carbon Trading yang Menguntungkan!

Updated
May 24, 2023
• Waktu baca 8 Menit
Gambar Rahasia Terungkap! Mengungkap Fakta Menarik di Balik Carbon Trading yang Menguntungkan!
Reading Time: 8 minutes

Nah, kalo kamu masih bingung, carbon trading adalah sistem perdagangan hak buang gas rumah kaca. Jadi, setiap negara atau perusahaan punya kuota buang gas rumah kaca. 

Kalo mereka berhasil kurangin emisi mereka, mereka bisa jual sisanya ke yang lain. Seru banget, bukan? Yuk simak informasinya berikut ini!

Perdagangan Karbon itu Apa sih?

Perdagangan karbon, atau nama kerennya carbon trading, itu bukan jualan arang atau briket ya. Jadi, ini sebenernya sistem dagang buat hak buang gas rumah kaca, termasuk CO2. 

Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah total emisi gas rumah kaca di atmosfer dan membantu memerangi perubahan iklim.

Jadi gini, setiap negara atau perusahaan punya kuota buang gas rumah kaca. Nah, kalo mereka berhasil kurangin emisi mereka, mereka bisa jual sisanya ke yang lain. Keren kan?

Jika perusahaan atau negara berhasil mengurangi emisi mereka dan tidak menggunakan semua izin mereka, mereka dapat menjual izin yang tidak digunakan tersebut kepada perusahaan atau negara lain yang membutuhkannya. 

Ini memberikan insentif bagi perusahaan dan negara untuk mengurangi emisi mereka, karena mereka dapat mendapatkan keuntungan dari penjualan izin yang tidak digunakan.

Perdagangan karbon adalah bagian penting dari banyak strategi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan memerangi perubahan iklim. 

Meski demikian, efektivitas dan efisiensinya sering kali diperdebatkan dan sangat tergantung pada bagaimana sistem tersebut dirancang dan diimplementasikan.

Peraturan Perdagangan Karbon di Indonesia, Serem Gak?

Gak serem kok! Peraturannya dibikin buat bantu perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa ikutan carbon trading dengan aman dan adil. Jadi, jangan takut buat ikutan ya!

Presiden Joko Widodo telah meresmikan Peraturan Presiden No. 98 tahun 2021 yang berfokus pada Nilai Ekonomi Karbon, termasuk regulasi mengenai pasar karbon. 

Regulasi ini diharapkan dapat membantu Indonesia mencapai tujuan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) seperti yang tertera dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) untuk penanganan perubahan iklim.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam sesi panel diskusi di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia, pada tanggal 2 November 2021, “Kebijakan tentang penetapan harga karbon akan semakin memudahkan upaya pencapaian NDC Indonesia.”

Pada bulan Juli 2021, Indonesia telah mengirimkan dokumen pembaruan NDC kepada UNFCCC, dalam hal ini Indonesia berjanji untuk mengurangi emisi GRK sebesar 41% pada tahun 2030 dengan bantuan internasional.

Indonesia juga berencana untuk mencapai Net-Zero Emission pada tahun 2060 atau sebelumnya, seperti yang tertulis dalam dokumen Long-Term Strategies for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050).

Berdasarkan LTS-LCCR 2050, Indonesia mampu mengurangi emisi hingga 50% dari kondisi business-as-usual, khususnya dengan dukungan internasional.

Perpres Nilai Ekonomi Karbon diharapkan dapat mendorong lebih banyak pembiayaan dan investasi hijau, yang akan berkontribusi pada upaya pengurangan emisi GRK.

Perdagangan Karbon di Indonesia, Gimana Jadinya?

Perdagangan Karbon di Indonesia, Gimana Jadinya?
Earth.Org

Nah, di Indonesia sendiri, perdagangan karbon ini masih baru banget. Tapi, kita udah mulai serius nih ngurusin ini. 

Pemerintah udah bikin peraturan-peraturan buat ngatur perdagangan karbon. Jadi, nantinya, perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa ikutan carbon trading.

Indonesia juga telah menerapkan berbagai kebijakan dan inisiatif yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti Moratorium Izin Baru di area hutan dan lahan gambut, serta upaya penghijauan dan reforestasi.

Contoh Perdagangan Karbon, Ada Gak?

Pasti dong! Contoh paling gampang, tuh, ada perusahaan A yang berhasil kurangin emisi gas rumah kaca mereka. 

Nah, sisanya itu bisa mereka jual ke perusahaan B yang mungkin butuh kuota tambahan. Win-win solution, kan?

Salah satu contoh lainnya adalah Perdagangan Karbon Regional (RGGI) di Amerika Serikat. RGGI adalah inisiatif dari sembilan negara bagian di Amerika Serikat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor pembangkit listrik. 

Negara-negara bagian ini menetapkan batas pada emisi dan menjual izin melalui lelang. Perusahaan pembangkit listrik dapat membeli dan menjual izin ini.

Dalam semua contoh ini, tujuannya adalah untuk memberikan insentif bagi perusahaan dan sektor industri untuk mengurangi emisi mereka, dengan memberikan mereka fleksibilitas untuk mencapai target pengurangan emisi mereka dengan cara yang paling efisien dan efektif.

Sejarah Perdagangan Karbon, dari Mana Mulanya?

Perdagangan karbon ini sebenernya lahir dari Kesepakatan Kyoto di tahun 1997. Tujuannya biar negara-negara industri bisa kurangin emisi gas rumah kaca mereka. Sekarang, banyak negara di dunia yang udah ikutan sistem ini.

Perdagangan karbon atau carbon trading berasal dari konsep ekonomi yang dikenal sebagai “cap and trade“. 

Dalam sistem cap and trade, pemerintah atau badan pengatur menetapkan batas atau “cap” pada jumlah polutan tertentu yang dapat dilepaskan ke lingkungan. 

Perusahaan diberikan atau dijual izin untuk melepaskan jumlah polutan tertentu, dan mereka dapat membeli atau menjual izin ini kepada perusahaan lain. 

Ini memberikan insentif bagi perusahaan untuk mengurangi polusi mereka: jika mereka menghasilkan lebih sedikit polusi daripada izin yang mereka miliki, mereka dapat menjual izin ekstra tersebut dan mendapatkan keuntungan.

Konsep cap and trade pertama kali digunakan dalam skala besar di Amerika Serikat pada tahun 1990-an untuk mengurangi emisi belerang dioksida, polutan yang menyebabkan hujan asam. 

Sistem ini sangat sukses dalam mengurangi emisi belerang dioksida dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada yang diperkirakan.

Pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an, konsep cap and trade mulai diterapkan untuk mengurangi emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya sebagai bagian dari upaya global untuk melawan perubahan iklim. 

Protokol Kyoto, yang disepakati pada tahun 1997 dan mulai berlaku pada tahun 2005, adalah perjanjian internasional pertama yang menerapkan mekanisme perdagangan karbon pada skala global. 

Negara-negara yang menandatangani Protokol Kyoto setuju untuk mengurangi emisi mereka ke tingkat tertentu, dan mereka dapat memenuhi sebagian dari kewajiban mereka melalui perdagangan karbon.

Sejak itu, berbagai sistem perdagangan karbon telah diimplementasikan di seluruh dunia. Sistem perdagangan emisi Uni Eropa (EU ETS), yang dimulai pada tahun 2005, adalah yang terbesar dan melibatkan ribuan pabrik dan pembangkit listrik di seluruh Uni Eropa. 

Sistem perdagangan karbon lainnya telah diimplementasikan di negara-negara seperti Selandia Baru, Korea Selatan, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat. 

Pada tahun 2017, China, negara penghasil emisi terbesar di dunia, meluncurkan sistem perdagangan emisi nasionalnya sendiri.

Dampak Perdagangan Karbon, Bikin Pusing Gak?

Dampak Perdagangan Karbon, Bikin Pusing Gak?
Mitra Rekayasa Keberlanjutan

Perdagangan karbon dapat memiliki berbagai dampak, baik positif maupun negatif. Berikut adalah beberapa contoh:

  1. Pengurangan Emisi: Tujuan utama perdagangan karbon adalah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Dengan menetapkan harga pada karbon, perdagangan karbon memberi insentif bagi perusahaan untuk mengurangi emisi mereka. Jika perusahaan dapat mengurangi emisi di bawah batas yang ditentukan, mereka dapat menjual hak untuk menghasilkan emisi tersebut kepada perusahaan lain.
  2. Inovasi Teknologi: Perdagangan karbon dapat mendorong inovasi dan adopsi teknologi ramah lingkungan. Dengan adanya biaya yang terkait dengan emisi karbon, perusahaan memiliki insentif untuk menginvestasikan dalam teknologi dan praktek yang lebih efisien dan menghasilkan lebih sedikit emisi.
  3. Pendapatan Pemerintah: Pemerintah dapat menghasilkan pendapatan dari penjualan izin emisi atau pajak karbon. Pendapatan ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti penelitian dan pengembangan teknologi hijau atau program mitigasi dan adaptasi iklim.
  4. Perdagangan Global: Perdagangan karbon dapat menciptakan pasar global baru dan peluang investasi.

Namun, perdagangan karbon juga memiliki beberapa dampak negatif potensial:

  1. Ketidaksetaraan: Ada kekhawatiran bahwa perdagangan karbon dapat memberikan beban yang tidak adil kepada perusahaan atau negara tertentu, terutama mereka yang kurang mampu berinvestasi dalam teknologi hijau.
  2. Masalah Penerapan: Mengawasi dan menegakkan aturan perdagangan karbon dapat menjadi tantangan. Misalnya, ada risiko bahwa perusahaan dapat mencoba untuk “menipu” sistem, misalnya dengan melaporkan emisi yang lebih rendah daripada kenyataannya.
  3. Perpindahan Emisi: Ada risiko bahwa perdagangan karbon dapat menyebabkan “perpindahan karbon,” di mana emisi dipindahkan dari negara dengan regulasi karbon yang ketat ke negara dengan regulasi yang lebih longgar, bukan benar-benar mengurangi emisi secara global.
  4. Komodifikasi Alam: Ada kritik bahwa perdagangan karbon dan mekanisme offset membuat alam menjadi komoditas yang dapat dibeli dan dijual, yang dapat berdampak pada masyarakat dan ekosistem lokal.

Well, dampak perdagangan karbon ini bisa dua sisi, lho. Di satu sisi, bisa bantu kurangin emisi gas rumah kaca. 

Tapi, di sisi lain, bisa aja ada perusahaan yang manfaatin ini buat tetep polusi dengan beli kuota dari yang lain. Jadi, harus hati-hati ya!

Negara yang Melakukan Perdagangan Karbon, Siapa Aja?

Banyak banget! Mulai dari Uni Eropa, Amerika Serikat, China, sampe Australia. Indonesia juga udah mulai nih!

Berikut ini beberapa negara yang telah menerapkan sistem perdagangan emisi:

  1. Uni Eropa: Sistem perdagangan emisi Uni Eropa (EU ETS) adalah sistem perdagangan karbon terbesar di dunia dan mencakup sekitar 45% dari emisi gas rumah kaca di Uni Eropa. Sistem ini memungkinkan perusahaan yang berpartisipasi untuk membeli atau menjual hak untuk menghasilkan emisi tertentu.
  2. Selandia Baru: Selandia Baru memiliki sistem perdagangan emisi sendiri yang melibatkan sektor energi, industri, dan pembuangan limbah.
  3. China: China telah meluncurkan sistem perdagangan emisi nasional pada tahun 2017, dan itu adalah sistem perdagangan karbon terbesar kedua setelah Uni Eropa.
  4. Amerika Serikat: Meskipun tidak memiliki sistem perdagangan emisi nasional, beberapa negara bagian seperti California telah mengimplementasikan sistem perdagangan emisi mereka sendiri.
  5. Korea Selatan: Korea Selatan meluncurkan sistem perdagangan emisi pada tahun 2015 dan mencakup industri berat seperti baja, semen, dan kimia.

Manfaat Perdagangan Karbon, Worth It Gak?

Manfaat Perdagangan Karbon, Worth It Gak?
The Jakarta Post

Pasti dong! Selain bisa kurangin emisi gas rumah kaca, perdagangan karbon ini juga bisa jadi insentif buat perusahaan-perusahaan buat lebih hijau. Kalo mereka berhasil kurangin emisi, mereka bisa dapet duit dari jual kuota sisanya.

Perdagangan karbon dirancang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membantu melawan perubahan iklim. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari perdagangan karbon:

  1. Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca: Dengan menetapkan batas (cap) pada jumlah emisi yang dihasilkan dan memungkinkan perusahaan untuk membeli dan menjual izin emisi, perdagangan karbon memberikan insentif ekonomi bagi perusahaan untuk mengurangi emisi mereka.
  2. Efisiensi Biaya: Perdagangan karbon memungkinkan pengurangan emisi terjadi di mana biayanya paling rendah, menciptakan solusi yang lebih efisien secara ekonomi untuk pengurangan emisi gas rumah kaca.
  3. Mendorong Inovasi: Karena perusahaan dikenai biaya untuk emisi, mereka memiliki insentif finansial untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi yang lebih bersih dan efisien.
  4. Pendapatan Tambahan: Untuk perusahaan yang dapat mengurangi emisi mereka melebihi target, mereka dapat menjual izin emisi yang tidak digunakan kepada perusahaan lain. Ini dapat menjadi sumber pendapatan tambahan.
  5. Fleksibilitas: Dalam sistem perdagangan karbon, perusahaan dapat memilih cara terbaik untuk mereka sendiri dalam mengurangi emisi. Ini bisa berarti mengubah proses produksi, menginvestasikan dalam teknologi baru, atau membeli izin dari perusahaan lain.
  6. Pembangunan Ekonomi Hijau: Dengan mendorong investasi dalam teknologi ramah lingkungan dan praktek berkelanjutan, perdagangan karbon dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.

Penting untuk diingat bahwa efektivitas sistem perdagangan karbon dalam mencapai tujuannya sangat bergantung pada bagaimana sistem tersebut dirancang dan diimplementasikan.

Misalnya, jika batas emisi ditetapkan terlalu tinggi, perusahaan mungkin tidak merasa perlu untuk mengurangi emisi mereka. 

Atau, jika pengawasan dan penegakan aturan tidak cukup ketat, perusahaan mungkin mencoba untuk menghindari kewajiban mereka.

Keuntungan Carbon Trading, Duitnya Banyak Gak?

Keuntungannya gak cuma buat perusahaan, tapi juga buat bumi kita. Selain bisa dapet duit dari jual kuota, perusahaan juga bisa dapet reputasi baik sebagai perusahaan yang peduli lingkungan. Worth it banget kan?

Perdagangan karbon, atau carbon trading, bisa menjadi sumber pendapatan yang signifikan, baik untuk perusahaan maupun pemerintah. 

Meski begitu, besaran pendapatan yang dihasilkan sangat bergantung pada beberapa faktor, termasuk batasan emisi yang ditetapkan, harga karbon di pasar, dan seberapa efektif perusahaan tersebut dalam mengurangi emisi mereka.

Berikut ini beberapa cara di mana perdagangan karbon dapat menghasilkan pendapatan:

  1. Jual Beli Izin Emisi: Jika sebuah perusahaan berhasil mengurangi emisi mereka di bawah batas yang ditetapkan, mereka dapat menjual izin emisi yang tidak digunakan ke perusahaan lain yang membutuhkannya. Harga izin emisi ini bervariasi berdasarkan permintaan dan penawaran di pasar.
  2. Proyek Offset Karbon: Perusahaan atau individu dapat memperoleh kredit karbon dengan mendanai proyek yang mengurangi atau menyerap emisi karbon, seperti pembangunan hutan atau proyek energi terbarukan. Kredit ini kemudian dapat dijual ke perusahaan atau individu lain yang membutuhkannya untuk memenuhi target emisi mereka.
  3. Pajak Karbon: Beberapa pemerintah mengenakan pajak karbon pada perusahaan berdasarkan jumlah emisi yang mereka hasilkan. Pendapatan dari pajak ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti penelitian dan pengembangan teknologi hijau atau program mitigasi dan adaptasi iklim.

Namun, perlu diingat bahwa perdagangan karbon juga membutuhkan investasi, baik dalam bentuk biaya langsung (misalnya, biaya membeli izin emisi atau mendanai proyek offset karbon) maupun biaya tidak langsung (misalnya, biaya mengubah proses produksi atau menginvestasikan dalam teknologi baru untuk mengurangi emisi).

Sebagai tambahan, penghasilan dari perdagangan karbon mungkin tidak selalu konsisten atau dapat diprediksi, karena harga karbon dapat berfluktuasi berdasarkan berbagai faktor, termasuk kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, dan perubahan dalam teknologi atau pasar energi.

Kesimpulan

Gimana, apakah kamu tertarik untuk memulai perjalanan investasi? Selain carbon trading, crypto adalah contoh lain dari aset investasi yang menarik. 

Jika kamu berminat berinvestasi dalam crypto, aplikasi Pintu adalah solusi yang tepat bagi kamu untuk memulai perjalanan investasi tersebut.

Dengan Pintu, kamu dapat dengan mudah dan aman berinvestasi dalam crypto. Pintu berkomitmen untuk memberikan akses ke berbagai pilihan aset crypto terkemuka di pasar, sambil menjamin transaksi yang aman.

Selain itu, Pintu juga menyediakan informasi menarik seputar dunia ekonomi dan crypto yang dapat kamu temukan di Pintu Blog dan Pintu News.

Jadi, tunggu apalagi? Yuk download aplikasi Pintu dan mulailah petualangan menarik kamu dalam berinvestasi crypto!

Referensi:

Bagikan

Artikel Terkait

Artikel Blog Terbaru

Lihat Semua Artikel ->