Depresiasi Mata Uang: Contoh, Peyebab, dan Dampaknya Terhadap Ekonomi

Updated
April 6, 2023
• Waktu baca 4 Menit
Gambar Depresiasi Mata Uang: Contoh, Peyebab, dan Dampaknya Terhadap Ekonomi
Reading Time: 4 minutes

Depresiasi mata uang dapat menimbulkan permasalahan yang cukup rumit sekaligus memengaruhi banyak aspek kehidupan ekonomi dan bisnis di suatu negara.

Di artikel kali ini, pengertian depresiasi mata uang, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dampak, serta hal-hal lainnya mengenai depresiasi mata uang akan dibahas. Simak selengkapnya di bawah ini.

Pengertian Depresiasi Mata Uang

Dalam konteks ekonomi dan keuangan, currency depreciation atau depresiasi mata uang adalah turunnya nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau terhadap standar tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Depresiasi mata uang bisa jadi merupakan hal yang umum bagi negara-negara dengan fundamental pertumbuhan yang lemah seperti defisit transaksi berjalan yang terus-menerus, serta tingginya tingkat inflasi.

Contoh kasus depresiasi mata uang bisa diambil dari mata uang Turki, lira, yang nilainya sempat melemah lebih dari 20% terhadap USD di bulan Agustus 2018. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan depresiasi ini, di antaranya para investor khawatir bahwa perusahaan-perusahaan Turki tidak akan mampu membayar kembali pinjaman dalam dolar dan euro karena nilai lira terus merosot.

Perbedaan Apresiasi dan Depresiasi Mata Uang

Berbeda dengan depresiasi mata uang, apresiasi mata uang adalah naiknya nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau terhadap standar tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks ekonomi dan keuangan, apresiasi mata uang merupakan kebalikan dari depresiasi mata uang.

Salah satu contoh apresiasi mata uang yang pernah terjadi adalah kenaikan nilai tukar euro terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada tahun 2017. Pada saat itu, nilai tukar EUR terhadap USD bergerak dari 1,00 ke 1,15, ini artinya nilai euro telah terapresiasi 15% terhadap dolar AS.

Menurut laporan, kenaikan nilai tukar euro tersebut terjadi karena beberapa faktor, seperti pemulihan ekonomi zona euro, naiknya suku bunga acuan Bank Sentral Eropa, dan terjadinya ketidakpastian politik dan kebijakan ekonomi di Amerika Serikat.

Baca juga: Tiga Strategi Utama Penetapan Harga, Sudah Tau?

Penyebab Depresiasi Mata Uang

penyebab depresiasi mata uang
Sumber: Freepik

Bukan tanpa alasan, depresiasi mata uang dapat terjadi karena beberapa penyebab atau faktor yang mempengaruhinya. Berikut penyebab utama terjadinya depresiasi mata uang:

Defisit anggaran

Di saat pemerintah di suatu negara mengeluarkan lebih banyak uang daripada yang pendapatannya dari pajak dan penerimaan lainnya, maka hal ini dapat menyebabkan penurunan nilai tukar mata uang negara tersebut.

Neraca perdagangan negatif

Ketika impor suatu negara lebih besar daripada ekspornya, maka permintaan terhadap mata uang negara tersebut akan menurun, sehingga nilai tukar mata uangnya cenderung melemah.

Inflasi yang Tinggi

Jika tingkat inflasi di suatu negara lebih tinggi daripada di negara lain, maka harga barang-barang di negara tersebut akan jauh lebih tinggi, yang dapat menyebabkan permintaan terhadap mata uang negara tersebut menurun, sehingga nilai tukarnya cenderung melemah.

Kenaikan suku bunga

Pada saat suku bunga di suatu negara naik, maka investasi di negara tersebut menjadi lebih menarik, sehingga mendorong permintaan mata uangnya meningkat. Sebaliknya, jika suku bunga turun, maka permintaan terhadap mata uang negara tersebut akan menurun dan nilai tukarnya cenderung melemah.

Kebijakan moneter dan fiskal yang buruk

Kebijakan moneter dan fiskal yang tidak tepat, seperti mencetak terlalu banyak uang atau mengambil utang terlalu besar, dapat membuat pasar kehilangan kepercayaannya pada mata uang suatu negara. Akibatnya, penurunan nilai mata uang dapat terjadi.

Sentimen pasar global

Ketidakpastian politik atau ekonomi di suatu negara atau di pasar global dapat memicu kekhawatiran investor dan membuat para investor menarik uang mereka, sehingga nilai tukar mata uang negara tersebut dapat menurun dan melemah.

Jika sebelumnya sebuah contoh depresiasi mata uang sudah diberikan di atas, lalu, bagaimana contoh depresiasi mata uang yang dialami oleh rupiah?

Contoh Depresi Mata Uang Rupiah

- Alt: contoh depresiasi mata uang rupiah
Sumber: Freepik

Salah satu contoh depresi mata uang rupiah yang tercatat di laman OJK (Otoritas Jasa Keuangan) adalah pada bulan Maret 2020, nilai tukar rupiah sempat melemah mencapai Rp16.610 terhadap USD. Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika ini terjadi karena meluasnya penyebaran pandemi virus Corona atau COVID-19, yang menyebabkan beberapa kondisi seperti:

Terganggunya perdagangan internasional

Saat banyak wilayah Indonesia yang terdampak oleh pandemi COVID-19, penurunan aktivitas perdagangan internasional pun terjadi. Hal ini mengakibatkan ketergantungan ekonomi Indonesia pada ekspor. Di sisi lain, turunnya permintaan global terhadap produk-produk Indonesia menyebabkan penurunan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Investor menarik investasi dari Indonesia

Tidak hanya itu, pandemi COVID-19 telah mengakibatkan ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi pasar keuangan Indonesia. Investor asing cenderung menarik investasinya dari negara dan beralih ke aset yang lebih aman seperti obligasi AS atau emas, sehingga menyebabkan depresiasi rupiah.

Setelah mengetahui pengertian, contoh, serta penyebabnya, lantas, seperti apa dampak depresiasi mata uang?

Dampak Depresiasi Mata Uang terhadap Perekonomian

dampak depresiasi mata uang
Sumber: Freepik

Ketika mata uang dari sebuah negara terdepresiasi, hal ini akan membuat produk-produk luar negeri bernilai relatif lebih mahal. Sebaliknya, barang-barang atau produk dalam negeri itu sendiri menjadi lebih murah. Selanjutnya, daya beli mata uang domestik di pasar luar negeri juga akan mengalami penurunan.

Penurunan nilai mata uang ini juga sedikit banyak berdampak pada obligasi, ekuitas, reksadana, dan aset lainnya, yang dikenal sebagai devaluasi atau depresiasi.

Masih belum mengenal macam-macam investasi seperti obligasi, reksana, dan lainnya? Simak informasi lengkapnya melalui video di bawah ini.

Jika nilai mata uang terdepresiasi, kenaikan harga impor dapat meningkatkan inflasi lokal. Depresiasi mata uang dapat meningkatkan inflasi karena harga barang impor menjadi lebih mahal. Kenaikan harga barang impor ini berpotensi menyebar ke sektor lain dalam perekonomian, sehingga memicu inflasi.

Baca juga: Mengenal Produsen: Fungsi dan Peran Produsen Dalam Persaingan Global

Tidak berhenti sampai di sana, dampak depresiasi mata uang juga dapat meningkatkan jumlah utang. Hal ini terjadi jika suatu negara memiliki utang dalam mata uang asing, sehingga depresiasi mata uang dapat membuat pembayaran utang menjadi lebih mahal, yang berakibat meningkatkan beban utang bagi pemerintah atau perusahaan yang meminjam dalam mata uang asing.

Meski begitu, depresiasi mata uang juga dapat mendorong investasi asing, di mana investasi di negara yang terkena depresiasi menjadi lebih murah bagi investor asing. Hal ini lah yang dapat mendorong investasi asing naik dan memicu pertumbuhan ekonomi.


Referensi:

Topik
Bagikan

Artikel Terkait

Artikel Blog Terbaru

Lihat Semua Artikel ->