Apa Itu Metode Full Costing dan Contohnya?

Updated
December 30, 2022
• Waktu baca 4 Menit
Gambar Apa Itu Metode Full Costing dan Contohnya?
Reading Time: 4 minutes

Menentukan berapa harga pokok produksi sebuah barang haruslah tepat dan efektif. Sebab, ada banyak faktor yang mesti diperhitungkan, mulai dari SDM, bahan baku, biaya overhead dan hal lainnya yang berhubungan dengan kegiatan produksi. Full costing adalah salah satu metode yang bisa digunakan untuk menentukan harga pokok produksi. Untuk tahu lebih dalam apa itu full costing, berikut ulasan selengkapnya.

Apa Itu Metode Full Costing?

contoh metode full costing

Metode full costing adalah suatu metode untuk menentukan harga pokok suatu produk dengan menghitung semua biaya produksi. Biaya produksi termasuk tenaga kerja langsung, biaya bahan baku langsung, serta biaya overhead pabrik baik yang termasuk biaya variabel maupun biaya tetap.

Unsur-Unsur Dalam Metode Full Costing

Menurut Mulyadi dalam buku Akuntansi Biaya, biaya produk yang dihitung dengan menggunakan pendekatan full costing terdiri dari unsur biaya produksi yaitu tenaga kerja langsung, biaya bahan baku langsung, serta biaya overhead pabrik variabel dan tetap ditambah dengan biaya non-produksi. Biaya-non produksi ini termasuk biaya administrasi, biaya pemasaran dan lain sebagainya.

Baca juga: Sering Digunakan dalam Akuntansi, Apa itu Biaya Eksplisit dan Implisit?

Kelebihan dan Kelemahan Metode Full Costing

Kelebihan Metode Full Costing

Selain menggunakan metode full costing, menghitung harga pokok produksi sebenarnya juga bisa menggunakan metode variable costing. Hanya saja, metode full costing memiliki beberapa kelebihan. Beberapa kelebihan pendekatan full costing adalah:

  • Biaya produksi sebuah usaha jadi lebih akurat karena perusahaan mempertimbangkan semua pengeluaran yang mungkin terjadi.
  • Jumlah persediaan jadi lebih tinggi, karena semua biaya tetap dihitung dalam biaya produksi. Jadi selama produk belum terjual, biaya akan melekat pada produk. Angka inventaris pun jadi lebih tinggi.
  • Dapat menghasilkan laba usaha dan laba bersih yang lebih tinggi. Karena full costing membuat semua biaya tetap melekat pada produk, jadi perusahaan akan menghitung biaya overhead tetap dalam menentukan harga pokok penjualan. Jika belum terjual, maka biaya overhead akan tetap ada. Hasilnya? Nominal laba operasi jadi lebih tinggi dibandingkan biaya variabel.

Kekurangan Metode Full Costing

Di sisi lain, beberapa kekurangan metode full costing antara lain adalah:

  • Perusahaan jadi lebih sulit untuk membandingkan keuntungan dari beberapa jenis produk. Full costing mempertimbangkan semua biaya, termasuk biaya yang tidak bersangkutan langsung dengan produk dengan tipe tersebut, tapi diproduksi oleh perusahaan yang sama. Karena produk yang berbeda dibuat dengan fasilitas produksi yang sama. Oleh karena itu, jadi lebih sulit untuk menentukan biaya overhead tetap per produk.
  • Analisis biaya-volume-laba jadi lebih rumit lagi. Dengan metode full costing, jadi lebih sulit memperoleh informasi biaya dan keuntungan dari setiap produk yang berbeda-beda. Akibatnya, perusahaan jadi lebih sulit untuk menentukan berapa banyak jumlah yang harus diproduksi dan dijual untuk mendapat titik profitabilitas.
  • Karena sulit untuk menentukan titik profitabilitas, maka akan sulit juga bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi aktivitas operasional untuk tiap produk yang dikeluarkan.
  • Harga jual produk jadi lebih tinggi karena menggunakan penentuan harga dengan mark-up. Dengan penetapan harga ini, perusahaan akan menambahkan persentase keuntungan ke setiap biaya produksi per unit. Jadi kalau menggunakan metode full costing, harga jual tiap produk sudah jelas akan lebih mahal dibandingkan menggunakan metode lainnya.

Biaya yang Termasuk Metode Full Costing

Beberapa biaya yang termasuk ke dalam metode full costing adalah:

1. Bahan baku

Bahan baku adalah semua yang termasuk bahan mentah, komponen, serta bahan rakitan yang diperlukan untuk membuat produk hingga produk tersebut jadi dan memiliki nilai jual.

2. Tenaga kerja langsung

Yang termasuk ke dalam tenaga kerja langsung adalah semua tenaga kerja yang dipekerjakan dalam proses produksi barang. Jadi tenaga kerja ini tidak akan diperlukan saat tidak ada produksi barang.

3. Biaya overhead tetap

Sementara itu, biaya overhead tetap adalah semua biaya dalam proses produksi yang jumlahnya tidak variatif. Contohnya adalah biaya sewa, gaji supervisor, dan depresiasi.

4. Biaya Overhead Variabel

Biaya overhead variabel adalah semua biaya yang ada dalam proses produksi, selain biaya material langsung dan tenaga kerja langsung. Jumlah biaya ini bervariasi, tergantung dari jumlah barang yang diproduksi. Misalnya saja biaya perlengkapan produksi. Umumnya, biaya ini terhitung kecil.

Baca juga: Apa itu Biaya Operasional dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Contoh Perhitungan Full Costing

rumus dan contoh perhitungan full costing

Untuk bisa lebih memahami tentang metode full costing, simak contoh perhitungan full costing berikut ini.

  • Harga per unit: Rp500.000
  • Biaya variabel per unit: Rp110.000
  • Tenaga kerja langsung: Rp60.000
  • Overhead pabrik variabel: Rp30.000
  • Biaya tetap tahunan: Rp12.000.000
  • Unit yang diproduksi: 100 pasang sepatu
  • Unit terjual: 80 pasang sepatu
  • Biaya pemasaran tetap per tahun: Rp7.000.000
  • Biaya pemasaran variabel per unit: Rp50.000 x 80 unit = Rp4.000.000.

Jika dihitung biaya produksi dengan metode full costing, maka:

Biaya produksi = Tenaga kerja langsung + biaya variabel per unit + biaya overhead pabrik variabel + biaya overhead pabrik tetap

Biaya produksi = Rp60.000 + Rp110.000 + Rp30.000 + (Rp12.000.000/100)

Biaya produksi = Rp320.000.

Perbedaan Full Costing dan Variable Costing

Pendekatan full costing adalah biaya yang memperhitungkan semua biaya produksi termasuk tenaga kerja langsung, biaya bahan baku langsung, serta biaya overhead pabrik baik yang termasuk variabel maupun tetap. Selain metode ini, ada juga metode variable costing yang juga bisa digunakan untuk menentukan biaya pokok produksi.

Perbedaan utama antara full costing dan variable costing adalah cara menangani biaya tetap sebuah usaha. Variable costing akan memisahkan pengeluaran operasional dari biaya produksi, sementara dalam metode full costing, semua biaya operasional akan dihitung.

Selain itu, efek pada laporan keuangan perusahaan antara metode full costing dan variable costing juga berbeda. Misalnya, jika volume penjualan konstan dan volume produksi berubah, laporan keuangan yang menggunakan pendekatan variable costing akan menunjukkan laba atau rugi yang kostan. Sebab, laba atau rugi tidak dipengaruhi oleh perubahan persediaan. Sementara jika menggunakan pendekatan full costing, maka akan menunjukkan perubahan pada laba atau rugi karena perubahan persediaan.

Itu dia penjelasan lengkap mengenai apa itu metode full costing dan contohnya. Semoga penjelasan ini bermanfaat buat kamu, ya!

Kamu bisa menemukan informasi lainnya seputar keuangan dan investasi di Pintu Blog, serta belajar crypto, salah satu aset yang tengah diminati masyarakat Indonesia saat ini di Pintu Academy.

Mengapa banyak orang yang tertarik dengan crypto? Baca selengkapnya mengenai apa itu crypto?

Referensi:

  • Daniel Liberto. Full Costing. Diakses pada tanggal 16 November 2022.
  • Ahmad Nasrudin. Full Costing: Meaning, Components, Pros, and Cons. Diakses pada tanggal 16 November 2022.
  • Mulyadi. 2016. Akuntansi Biaya. Edisi Kelima. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.
  • Fitri Handayani. 2019. Perhitungan Harga Pokok Produksi Menggunakan Metode Full Costing Pada Usaha Kacang Atom GDR Jorong Pasa Rabaa Nagari Panyalaian Kecamatan X Koto. Skripsi: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar
Bagikan

Artikel Terkait

Artikel Blog Terbaru

Lihat Semua Artikel ->