5 Fakta Ripple yang Lagi Jadi Sorotan: IPO Batal, Tapi Dapat Suntikan Dana Rp8,3 Triliun!

Updated
November 7, 2025
Share

Jakarta, Pintu News – Di saat sejumlah perusahaan crypto berlomba menuju pasar publik, Ripple justru memilih jalan berbeda. Dalam konferensi Swell di New York, Presiden Ripple, Monica Long, menegaskan bahwa IPO Ripple resmi keluar dari agenda, meski valuasi perusahaan terus menanjak dan basis pengguna terus bertambah. Langkah ini bukan karena kekurangan dana—justru sebaliknya, Ripple baru saja menerima pendanaan segar senilai USD 500 juta atau sekitar Rp8,3 triliun.

Keputusan ini langsung menarik perhatian komunitas crypto global, terutama setelah Ripple resmi menang atas gugatan hukum dari SEC awal tahun ini.

1. Ripple Resmi Batal IPO, Tak Ada Timeline Maupun Rencana

Dalam wawancaranya yang dikutip Cryptopolitan, Monica Long menyatakan bahwa Ripple tidak memiliki rencana ataupun timeline untuk IPO. Ia menegaskan bahwa perusahaan lebih memilih fokus pada pengembangan internal dan ekspansi bisnis melalui jalur pribadi.

Langkah ini kontras dengan sejumlah pemain besar di industri crypto yang sudah atau akan melantai di bursa saham seperti Circle, Bullish, Gemini, dan Kraken. Namun, keputusan Ripple justru dinilai cermat, terutama di tengah ketidakpastian pasar akibat shutdown pemerintahan AS yang memperlambat proses IPO.

Baca Juga: Penurunan Drastis XRP: Apakah Ini Waktu yang Tepat untuk Membeli?

2. Dana Segar Rp8,3 Triliun dari Investor Raksasa Wall Street

wall street bitcoin
Sumber: Kryptomoney

Ripple tetap menunjukkan kekuatan finansialnya. Perusahaan ini berhasil menggalang dana sebesar USD 500 juta (Rp8,3 triliun) dengan valuasi USD 40 miliar (Rp668,2 triliun). Investor besar yang ikut dalam putaran ini antara lain Fortress Investment Group, Citadel Securities, Galaxy Digital, Pantera Capital, hingga Brevan Howard.

CEO Ripple, Brad Garlinghouse, mengatakan bahwa suntikan dana ini mencerminkan “momentum luar biasa Ripple” dan validasi dari peluang pasar yang sedang mereka kejar. Dengan dana ini, Ripple mampu terus membangun produk dan menjalin kemitraan strategis—tanpa perlu mengandalkan pasar publik.

3. Pengguna Ripple Naik 2x Lipat di Tengah Adopsi Stablecoin

Menurut Monica Long, jumlah pelanggan Ripple melonjak dua kali lipat hanya dalam satu kuartal. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya adopsi pembayaran berbasis stablecoin serta regulasi yang lebih jelas di Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya.

Peningkatan ini menegaskan posisi Ripple sebagai penyedia infrastruktur blockchain untuk institusi keuangan yang ingin masuk ke dunia crypto tanpa membangun teknologi sendiri dari nol.

4. Gugatan SEC Resmi Berakhir, XRP Kembali Menarik Perhatian

Ripple makin percaya diri setelah memenangkan kasus hukum panjang melawan SEC (Securities and Exchange Commission) yang sejak 2020 menuduh Ripple menjual sekuritas tak terdaftar melalui token XRP. Gugatan tersebut resmi ditutup awal tahun ini, membuka jalan baru untuk ekspansi Ripple.

Token Ripple (XRP) sendiri tercatat naik sekitar 8% sepanjang tahun ini, didorong oleh pengurangan ketidakpastian hukum dan pertumbuhan pengguna. XRP kembali mendapatkan sorotan sebagai salah satu altcoin tangguh di tengah ketatnya pasar crypto.

5. IPO Ditunda karena Pasar Tak Kondusif, Bukan karena Lemah

Monica Long juga mengungkapkan bahwa keputusan untuk tidak IPO tidak berkaitan dengan kendala finansial atau kurangnya minat investor, melainkan strategi bisnis. Di sisi lain, beberapa perusahaan yang tetap nekat IPO justru menerima sambutan pasar yang tidak memuaskan.

Apalagi dengan shutdown pemerintahan AS yang masih berlangsung—terbesar dalam sejarah—banyak proses IPO tertunda, termasuk dari perusahaan seperti Medline dan Wealthfront. Dalam situasi seperti ini, strategi Ripple dianggap lebih konservatif tapi aman.

Baca Juga: Penurunan Drastis Dogecoin di Awal November 2025: Apa yang Harus Diketahui Investor?

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga bitcoin hari iniharga solana hari inipepe coin dan harga aset crypto lainnya lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi kripto Pintu melalui Google Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi:

Latest News

See All News ->

© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.