Jakarta, Pintu News – Performa Bitcoin (BTC) yang tertinggal dibandingkan emas kembali menjadi sorotan di pasar crypto dan cryptocurrency global. Kondisi ini kerap dianggap sebagai tanda melemahnya minat investor terhadap aset digital. Namun, investor makro ternama Raoul Pal menilai pandangan tersebut keliru. Melalui podcast nya yang di unggah di Youtube bersama Milk Road, menurutnya, keterlambatan pergerakan Bitcoin justru merupakan bagian alami dari siklus makro ekonomi global.
Raoul Pal menjelaskan bahwa pergerakan emas dan Bitcoin tidak dapat dilepaskan dari dinamika likuiditas global. Emas umumnya bereaksi lebih cepat terhadap perubahan kondisi keuangan karena berfungsi sebagai indikator awal tekanan ekonomi. Ketika utang pemerintah meningkat dan beban bunga membesar, otoritas cenderung menyuntikkan likuiditas ke sistem. Aliran likuiditas tersebut kemudian menyebar ke berbagai kelas aset.
Dalam banyak siklus sebelumnya, emas selalu bergerak lebih dulu sebelum Bitcoin menyusul. Pal menekankan bahwa fenomena ini bukan karena emas lebih unggul dari Bitcoin, melainkan karena perbedaan sensitivitas terhadap likuiditas. Jika pergerakan harga Bitcoin dan emas dibandingkan dengan jeda sekitar enam bulan, pola keduanya terlihat selaras.
Baca juga: Hampir 40% Merchant AS Terima Crypto, Bakal Jadi Pembayaran Arus Utama?
Menurut Pal, salah satu faktor utama yang menahan pergerakan Bitcoin adalah rendahnya kepemilikan crypto di kalangan investor. Banyak pelaku pasar menilai siklus bullish telah berakhir, sehingga mereka mengurangi eksposur terhadap cryptocurrency. Sentimen ini membuat aliran modal ke pasar crypto relatif terbatas. Akibatnya, pergerakan harga Bitcoin tampak tertinggal dibandingkan aset lain.
Namun, kondisi underowned ini justru berpotensi menjadi katalis kenaikan. Pal memperkirakan bahwa ketika Bitcoin mulai menunjukkan tren naik yang jelas, investor akan menyadari posisi mereka terlalu kecil. Dalam situasi tersebut, aksi beli cenderung terjadi secara cepat dan agresif. Pola ini telah berulang dalam siklus sebelumnya, terutama saat likuiditas global kembali menguat.
Baca juga: XAUT vs PAXG: 2 Crypto Emas Bersaing di Tengah Lonjakan Harga Emas Global
Raoul Pal juga memaparkan kerangka analisisnya yang dikenal sebagai “Everything Code”, yang menempatkan likuiditas global sebagai faktor utama pergerakan harga Bitcoin. Ia menyebut bahwa sekitar 90% fluktuasi BTC dapat dijelaskan oleh perubahan likuiditas. Tahun lalu, pasar tidak mendapatkan dorongan likuiditas sebesar yang diharapkan. Pemerintah memilih memperpanjang jatuh tempo utang, sehingga siklus ekonomi bergeser menjadi lebih panjang.
Selain itu, sejumlah kejadian tak terduga memperburuk kondisi pasar crypto. Penarikan likuiditas dari sistem keuangan serta guncangan kebijakan berdampak besar pada aset berisiko. Pada Oktober, pasar crypto mengalami likuidasi besar-besaran di berbagai bursa, yang menekan Bitcoin dan aset digital lainnya. Dampak kejadian tersebut masih terasa, menyebabkan BTC bergerak mendatar meski saham dan emas mencetak rekor baru.
Pal menegaskan bahwa crypto berada di ujung spektrum risiko pasar keuangan. Saat likuiditas menghilang, aset ini biasanya terpukul paling awal. Namun, ketika likuiditas kembali masuk, pemulihannya juga cenderung paling cepat. Berdasarkan pola tersebut, Pal menilai tahun 2026 berpotensi menjadi fase penting bagi Bitcoin untuk mengejar ketertinggalannya dari emas.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.