Jakarta, Pintu News – Pasar keuangan kembali menampilkan kontras yang tajam ketika emas melesat, sementara Bitcoin (BTC) justru belum mampu mengejar laju kenaikan tersebut. Dalam wawancara di CNBC, CEO BitMine Tom Lee menilai reli logam mulia dipicu kombinasi dolar AS yang melemah, permintaan global yang kuat, serta dorongan momentum harga. Di sisi lain, aset kripto masih dibayangi trauma guncangan pasar sebelumnya sehingga pemulihannya berjalan lebih lambat.
Tom Lee menjelaskan bahwa pelemahan dolar AS menjadi bahan bakar utama bagi penguatan emas. Ketika nilai dolar menurun, aset berdenominasi dolar seperti emas cenderung terlihat lebih menarik bagi pembeli global. Ia juga menilai perbaikan pertumbuhan di berbagai wilayah membuat dinamika mata uang berubah, sementara bank sentral AS tetap berhati-hati terkait pemangkasan suku bunga.
Kombinasi ini menciptakan lingkungan yang mendukung kenaikan harga komoditas keras. Selain faktor mata uang, permintaan fisik dan minat investor turut memperkuat tren naik. Lee menyebut beberapa wilayah, khususnya China, menunjukkan permintaan yang tidak biasa kuat untuk logam mulia.
Bahkan, terdapat produk ETF perak yang sempat diperdagangkan dengan premi tinggi, menandakan ketatnya pasokan relatif terhadap minat beli. Ia menilai situasi tersebut tampak mencolok, namun tetap masuk akal bila dipahami sebagai efek lanjutan dari momentum harga yang sudah terbentuk.
Baca juga: 3 Crypto Ini Disebut Siap Jadi ‘Next Crypto Rally’
Di saat emas diuntungkan oleh narasi perlindungan nilai, pasar kripto justru dinilai mengecewakan oleh Lee. Ia menekankan bahwa tema seperti debasement, ketegangan geopolitik, hingga pelonggaran kebijakan moneter seharusnya menjadi angin segar bagi Bitcoin (BTC). Namun, realitasnya kripto belum mampu memantulkan sentimen positif itu secara konsisten.
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah luka pasar yang belum pulih sepenuhnya dari kejatuhan besar pada Oktober 2025. Lee menggambarkan pemulihan kripto seperti upaya bangkit yang terus diganggu gelombang kejutan baru.
Setiap kali harga mulai membaik, muncul tekanan tambahan yang mendorong pelaku pasar mengurangi risiko. Pola tersebut membuat kepercayaan investor rapuh dan reli menjadi mudah patah. Akibatnya, Bitcoin (BTC) tertinggal ketika emas justru menikmati arus dana yang lebih stabil.
Baca juga: Harga 1 Pi Network (PI) di Indonesia Hari Ini (2/2/26)
Meski kripto tertahan, Lee melihat adanya pola rotasi yang kerap berulang dalam siklus pasar. Ia menilai investor sering masuk ke emas terlebih dahulu saat ketidakpastian meningkat, lalu berpindah ke Bitcoin (BTC) ketika logam mulia mulai kehilangan tenaga. Pola serupa pernah terlihat pada 2017 dan 2021, ketika setelah emas melemah, Bitcoin (BTC) mencatat lonjakan besar. Dalam dua periode itu, kenaikan Bitcoin (BTC) disebut mencapai hampir 1.000% pada 2017 dan sekitar 400% pada 2021.
Sinyal rotasi tersebut kembali diperbincangkan setelah emas mengalami koreksi yang cukup dalam. Dalam catatan yang disorot, harga emas turun dari sekitar $5.600 ke kisaran $4.892, atau melemah kurang lebih 13%.
Penurunan seperti ini kerap dibaca sebagai tanda momentum reli mulai melambat, meski tidak otomatis berarti tren naik berakhir. Jika pola historis terulang, sebagian modal berpotensi mencari peluang baru di Bitcoin (BTC) ketika minat pada emas mulai mendingin.
Pernyataan Tom Lee menegaskan bahwa reli emas saat ini lebih banyak ditopang oleh pelemahan dolar, permintaan global, dan efek momentum yang kuat. Sementara itu, Bitcoin (BTC) masih menghadapi hambatan psikologis dan manajemen risiko akibat rangkaian guncangan pasar sebelumnya.
Namun, sejarah menunjukkan rotasi dana dari emas ke Bitcoin (BTC) dapat terjadi ketika logam mulia mulai kehilangan dorongan. Dengan demikian, pergerakan emas dalam fase koreksi menjadi salah satu indikator yang terus dipantau untuk membaca peluang berikutnya di pasar kripto.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.