Jakarta, Pintu News – Pasar crypto memasuki pekan pertama Februari dengan tekanan kuat setelah Bitcoin (BTC) kembali diperdagangkan di level yang mengingatkan pada fase akhir 2021. Harga BTC sempat menyentuh sekitar USD 78.000 atau setara Rp1,31 miliar, mendekati level terendah dalam 16 bulan terakhir.
Pelemahan ini memicu perdebatan baru di kalangan analis, apakah pasar sedang membangun dasar baru atau justru membuka jalan menuju koreksi yang lebih dalam. Di tengah ketidakpastian tersebut, ada lima faktor utama yang menjadi sorotan pelaku pasar cryptocurrency pekan ini.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC) sepanjang akhir pekan menunjukkan tekanan jual yang konsisten, dengan penurunan lanjutan setelah penutupan mingguan yang lemah. BTC bahkan mencetak level terendah sejak November 2024, memperkuat sentimen bearish jangka pendek.
Sejumlah trader menilai area USD 76.000–78.000 atau sekitar Rp1,28–1,31 miliar sebagai support penting sebelum risiko penurunan lebih jauh terbuka. Jika area ini gagal bertahan, sebagian analis membuka skenario koreksi menuju USD 50.000 atau sekitar Rp839 juta.
Pandangan tersebut diperkuat oleh volume besar saat penurunan, yang sering dibaca sebagai konfirmasi tekanan distribusi. Beberapa trader veteran menilai struktur pasar masih berada dalam fase bearish, sehingga reli jangka pendek berisiko menjadi sekadar pantulan sementara. Meski demikian, kedekatan harga dengan level historis 2021 membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perubahan sentimen.
Di tengah tekanan harga, indikator teknikal Relative Strength Index (RSI) menjadi salah satu dasar optimisme terbatas. RSI mingguan Bitcoin (BTC) tercatat berada di sekitar 32, mendekati zona oversold yang secara historis sering muncul di sekitar titik dasar pasar.
Level serupa terakhir kali terlihat pada akhir bear market 2022, sebelum harga mulai membangun pemulihan bertahap. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa tekanan jual mungkin mulai mendekati titik jenuh.
Baca juga: Pekan Krusial Pasar Crypto: Bangkit dari Koreksi atau Anjlok Lebih Dalam?
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa proses pembentukan dasar jarang terjadi secara instan. RSI bulanan yang masih lemah menunjukkan pasar bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar pulih. Dengan kata lain, sinyal oversold meningkatkan probabilitas pantulan, tetapi belum cukup untuk memastikan perubahan tren besar dalam waktu dekat.
Tekanan di pasar crypto tidak berdiri sendiri, melainkan beriringan dengan gejolak aset global. Sejumlah analis menilai pergerakan Bitcoin (BTC) kali ini mencerminkan potensi masalah likuiditas yang lebih luas di pasar keuangan.
Ketika saham, logam mulia, dan aset berisiko lain ikut melemah, BTC dinilai berperan sebagai indikator awal tekanan makro. Kondisi ini membuat investor semakin waspada terhadap data ekonomi dan kebijakan moneter.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh ekspektasi kebijakan bank sentral yang lebih ketat. Perubahan kepemimpinan di bank sentral AS dan potensi sikap hawkish dinilai dapat menekan aset berisiko, termasuk cryptocurrency. Dalam konteks ini, pelemahan Bitcoin dipandang bukan sekadar isu teknikal, melainkan refleksi dari penyesuaian risiko global.
Pekan ini juga ditandai dengan volatilitas ekstrem di pasar emas dan perak, yang mengalami penurunan tajam setelah reli panjang. Harga emas sempat turun mendekati USD 4.400 per ons atau sekitar Rp73,9 juta, memangkas lebih dari 20% dari puncaknya.
Pelemahan logam mulia ini beriringan dengan penguatan dolar AS, yang secara historis cenderung menekan aset berisiko. Kombinasi tersebut menciptakan lingkungan risk-off yang kurang kondusif bagi crypto.
Baca juga: Harga Buyback Emas Antam Hari Ini, Selasa 3 Februari 2026
Penguatan dolar AS menambah tekanan pada Bitcoin (BTC), karena arus modal cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Jika tren ini berlanjut, pasar crypto berpotensi menghadapi fase konsolidasi yang lebih panjang. Namun, sebagian pelaku pasar menilai perubahan ekstrem sering kali menjadi awal dari fase penyesuaian baru.

Dari sisi on-chain, indikator Coinbase Premium menunjukkan sinyal yang kurang menggembirakan. Selisih harga BTC di Coinbase dibandingkan bursa global tercatat berada di zona negatif yang dalam dan bertahan lama. Kondisi ini menandakan lemahnya permintaan spot dari investor AS, bahkan setelah harga turun signifikan. Situasi tersebut berbeda dengan koreksi sebelumnya yang biasanya diikuti masuknya minat beli.

Premium negatif yang persisten sering diartikan sebagai absennya pembeli institusional AS. Selama kondisi ini belum membaik, potensi tekanan lanjutan masih terbuka. Bagi pasar, hal ini menjadi pengingat bahwa pemulihan berkelanjutan membutuhkan kembalinya permintaan nyata, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.
Bitcoin (BTC) memulai Februari dengan posisi yang mengingatkan pada fase kritis tahun 2021, memicu diskusi intens tentang arah berikutnya. Lima faktor utama, mulai dari struktur harga, sinyal RSI, tekanan makro, dinamika aset global, hingga lemahnya permintaan AS, membentuk gambaran pasar yang kompleks. Meski peluang pantulan teknikal ada, risiko koreksi lanjutan belum sepenuhnya sirna. Dalam kondisi seperti ini, pasar crypto cenderung bergerak sensitif terhadap setiap perubahan sentimen dan data ekonomi.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.