Jakarta, Pintu News – Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan tajam pada awal Februari 2026, terkoreksi dari level di atas US$70.000 ke di bawah US$67.000 (sekitar Rp1,13 miliar) dalam beberapa hari terakhir. Penurunan ini memiliki dampak signifikan terhadap pasar crypto, likuiditas, dan sentimen investor global. Tren ini tidak hanya mempengaruhi BTC secara langsung, tetapi juga mencerminkan kondisi risiko yang lebih luas di seluruh ekosistem cryptocurrency.
Harga Bitcoin anjlok signifikan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, melampaui level teknikal penting di bawah US$67.000 dan menjadi yang terendah sejak Oktober 2024. Penurunan ini menunjukkan bahwa volatilitas di pasar crypto masih tinggi meskipun beberapa investor berharap ada stabilisasi setelah rally sebelumnya.
Dalam kondisi pasar yang sangat volatil, pembeli enggan masuk sementara penjual mempercepat aksi jual untuk meminimalkan kerugian, yang memperbesar pergerakan turun. Koreksi tajam seperti ini mempertegas karakter pasar crypto yang sensitif terhadap berita makro dan aksi modal besar.
Baca Juga: 5 Crypto yang Dilirik Whale pada Februari 2026, Akumulasi Diam-Diam di Tengah Volatilitas
Penurunan Bitcoin terjadi bersamaan dengan aksi jual besar di saham teknologi global, yang sering kali menandakan pergeseran investasi dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman. Saat investor memindahkan capital ke instrumen seperti obligasi atau mata uang fiat, aset seperti crypto biasanya menerima tekanan jual lebih kuat.
Sentimen risiko yang melemah menyebabkan aliran modal keluar dari pasar crypto, mendorong BTC dan altcoin turun bersamaan. Ketika aset teknologi turun, korelasi antara saham dan kripto membuat penurunan tersebut saling memperkuat.

Tekanan jual di Bitcoin memicu beragam likuidasi posisi leveraged, terutama posisi long yang memanfaatkan margin besar. Ketika harga jatuh, banyak posisi perdagangan otomatis dieksekusi untuk menutup kerugian, yang justru menambah volume jual di pasar.
Likuidasi paksa ini menambah momentum turun yang sudah ada dan menciptakan efek domino di pasar derivatif kripto. Aset crypto lain seperti Ethereum (ETH) dan altcoin juga tercatat mengalami tekanan harga serupa dari aksi ini.
Penurunan nilai Bitcoin telah berdampak pada produk investasi berbasis crypto seperti Bitcoin ETF, yang mencatat aliran keluar modal signifikan. Investor institusional yang menjadi pembeli besar selama periode rally kini mengurangi eksposurnya di pasar.
Outflow ini menandakan bahwa minat investor profesional terhadap kripto melemah, yang dapat mengurangi likuiditas pasar spot dan memperburuk tekanan jual jangka pendek. Hal ini juga menurunkan kepercayaan pasar secara keseluruhan, yang penting dalam dinamika harga jangka menengah.
Pergerakan harga Bitcoin yang tajam memengaruhi sentimen secara luas di pasar crypto. Banyak pelaku pasar kini memasuki mode risk-off, yakni menahan risiko dengan mengurangi alokasi terhadap aset spekulatif seperti kripto. Kondisi ini tercermin dari peningkatan indeks ketakutan di pasar crypto dan komentar analis yang menyatakan pasar mungkin sedang mengalami reset jangka panjang.
Sentimen negatif ini dapat memicu lebih banyak aksi jual jika tidak ada katalis positif baru dalam waktu dekat.
Selain Bitcoin, banyak cryptocurrency lain juga turut tertekan akibat korelasi pasar yang tinggi. Altcoin dengan kapitalisasi pasar menengah dan kecil biasanya menderita lebih besar ketika BTC turun, karena arus modal investor cenderung keluar dari aset risiko tinggi terlebih dahulu.
Penurunan ini juga mempengaruhi proyek DeFi, NFT, dan token lain yang sering dilihat sebagai aset spekulatif, sehingga investor perlu berhati-hari dalam menilai risiko portofolio mereka.
Baca Juga: 3 Crypto Underrated Bulan Februari 2026 yang Mulai Dilirik Investor, Bukan Sekadar Hype!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.