Jakarta, Pintu News – Investasi Bitcoin (BTC) dan berbagai aset crypto kini kembali menjadi fokus utama pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang tertunda untuk bulan Januari. Data Consumer Price Index (CPI) ini diperkirakan akan memberikan sinyal penting terkait arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) dan risk appetite investor terhadap aset berisiko seperti crypto. Pergerakan harga Bitcoin dan altcoin tampaknya semakin erat dengan ekspektasi suku bunga global dan kondisi makro ekonomi yang volatil saat ini.
Data inflasi CPI AS yang akan dirilis diperkirakan menunjukkan penurunan dari Desember ke sekitar 2,5% year-over-year, setelah penundaan karena shutdown pemerintah AS. Hal ini membuat pasar menunggu sinyal apakah The Fed akan menunda atau mempercepat pemotongan suku bunga.
Penurunan inflasi lebih dari ekspektasi biasanya akan memperlemah tekanan pada The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Kondisi ini bisa menarik minat investor kembali ke aset risiko, termasuk crypto. Sebaliknya, inflasi yang masih kuat dapat memperpanjang rezim “higher for longer” dan menekan risk appetite.
Sebagian besar pasar saat ini telah memprice ulang proyeksi pemotongan suku bunga, sehingga CPI menjadi indikator yang lebih penting daripada data tenaga kerja dalam menentukan arah pasar.
Baca Juga: Proyeksi Harga Perak 2026 Berdasarkan Outlook J.P. Morgan

Bitcoin menunjukkan pola konsolidasi setelah data tenaga kerja yang kuat mendorong probabilitas pemotongan suku bunga ke bawah. Kenaikan hasil obligasi membuat risk appetite menurun, sehingga tekanan jual terhadap aset digital sempat meningkat.
Dalam konteks ini, Bitcoin tetap dipandang sebagai aset berisiko, sehingga pergerakannya sangat sensitif terhadap perkembangan data CPI. Potensi downside atau upside akan sangat tergantung pada seberapa dekat hasil inflasi terhadap ekspektasi pasar.
Sentimen pasar saat ini mencerminkan ketidakpastian antara mempertahankan posisi konservatif atau kembali mengambil risiko seiring meredanya data makro.
Selain Bitcoin, altcoin besar seperti Ethereum (ETH) dan aset lainnya diperkirakan akan bergerak sejalan dengan sentimen makro. Dalam peristiwa inflasi sebelumnya, crypto sempat mencatat respon harga yang beragam tergantung pada ukuran data CPI dan ekspektasi suku bunga.
Respon ini menunjukkan bahwa crypto secara umum masih belum sepenuhnya independen dari faktor moneter tradisional. Aset digital masih bereaksi terhadap peluang suku bunga turun yang dapat meningkatkan likuiditas pasar secara keseluruhan.
Jika CPI menunjukkan pelemahan harga lebih dari ekspektasi, kemungkinan besar crypto akan melihat reli teknis singkat meskipun volatilitas tetap tinggi. Sebaliknya, inflasi mendorong risiko suku bunga tinggi akan membuat risk asset tertekan.
Ekspektasi pasar terhadap suku bunga kini telah dipengaruhi oleh data tenaga kerja yang kuat dan kemungkinan CPI yang moderat. Ini membuat probabilitas pemotongan suku bunga pada pertemuan Fed mendatang semakin dipadatkan ke waktu yang lebih jauh.
FedWatch Tool memperkirakan kemungkinan besar The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75% dalam waktu dekat. Hal ini menjadi hambatan bagi aset berisiko seperti crypto jika ekspektasi pemotongan suku bunga tidak terpenuhi.
Volatilitas pasar jangka pendek menjadi semakin besar, terutama menjelang pengumuman CPI, karena investor mencoba untuk menyesuaikan portofolio mereka berdasarkan probabilitas kebijakan moneter.
Investor jangka pendek kemungkinan akan terus memantau CPI dengan sangat hati-hati, karena angka yang keluar dapat memicu pergerakan harga tajam dalam crypto. Jika angka inflasi lebih rendah dari perkiraan, maka tingkat risk-on bisa meningkat dan membawa aliran modal kembali ke Bitcoin dan aset digital lainnya.
Sebaliknya, data yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat menekan risk asset lebih jauh dan membuat permintaan terhadap aset safe haven seperti emas kembali naik. Dalam kondisi ini, posisi trading yang lebih defensif dipandang wajar untuk jangka pendek.
Dalam jangka menengah, keputusan investasi akan bergantung pada bagaimana The Fed menafsirkan tren inflasi dan lapangan kerja terhadap prioritas pertumbuhan dan stabilitas harga.
Baca Juga: 3 Skenario Tambang Emas Martabe & Dampaknya ke Crypto: Harga Bisa Tembus Rp84 Juta per Ons?
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.