Jakarta, Pintu News – Pasar crypto kembali diguncang koreksi tajam setelah Bitcoin (BTC) turun lebih dari 25% dalam sebulan terakhir. Sejak mencetak rekor di atas US$120.000 atau sekitar Rp2.019.840.000 pada Oktober lalu, harga BTC terus melandai dan memicu kekhawatiran baru soal datangnya crypto winter berikutnya.
Namun sejumlah pengamat menilai, pelemahan ini justru mencerminkan fase baru adopsi institusi yang belum sepenuhnya memandang Bitcoin sebagai aset lindung nilai. Perdebatan pun menguat, apakah siklus kali ini berbeda dari pola empat tahunan sebelumnya.
Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, menilai penurunan harga masih sejalan dengan pola siklus empat tahunan yang selama ini membentuk dinamika pasar cryptocurrency. Siklus tersebut kerap ditandai fase euforia, koreksi tajam, dan konsolidasi sebelum reli berikutnya. Dalam konteks ini, penurunan dari level Rp2 miliar lebih ke kisaran yang jauh lebih rendah bukanlah anomali. Namun intensitas koreksi kali ini memunculkan pertanyaan soal perubahan struktur pasar.
Gubernur Federal Reserve AS, Chris Waller, menyebut masuknya institusi besar membuat dinamika risiko berubah. Institusi keuangan arus utama memiliki toleransi risiko lebih rendah dibanding investor ritel yang mengejar potensi keuntungan berlipat ganda.
CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, juga menilai investor ritel masuk ke crypto bukan untuk imbal hasil 10% per tahun, melainkan mengejar kenaikan delapan hingga tiga puluh kali lipat. Perbedaan ekspektasi ini membuat aksi jual lebih cepat terjadi ketika sentimen berubah.
Baca juga: 3 Altcoin Potensial di Pertengahan Februari 2026

Sejumlah analis menilai Bitcoin masih diperlakukan sebagai aset berisiko, bukan sebagai emas digital. Laporan Grayscale menunjukkan pergerakan harga BTC lebih berkorelasi dengan saham teknologi bernilai perusahaan tinggi ketimbang dengan emas fisik. Artinya, ketika sentimen terhadap aset berisiko memburuk, BTC ikut tertekan. Korelasi jangka pendek dengan logam mulia pun dinilai belum kuat.
Strategis komoditas Bloomberg, Mike McGlone, bahkan menyebut Bitcoin sebagai aset spekulatif yang belum membuktikan diri sebagai digital gold. Ia berpendapat bahwa level US$60.000 atau sekitar Rp1.009.920.000 hanya titik tengah sebelum potensi koreksi lebih dalam. Namun Grayscale tetap optimistis dalam jangka panjang, menyatakan jaringan Bitcoin kemungkinan tetap bertahan dan mempertahankan nilai riilnya.
Baca juga: 5 Cincin Timeless di Frank&Co yang Cocok untuk Lebaran
Ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat turut memperburuk sentimen pasar cryptocurrency. RUU CLARITY yang bertujuan memperjelas struktur pengawasan crypto masih tertahan di Senat. Perdebatan antara perusahaan crypto seperti Coinbase dan lobi perbankan terkait stablecoin membuat pembahasan berjalan lambat. Ketidakjelasan ini dinilai menahan arus modal institusional lebih besar.
Novogratz menyatakan bahwa baik Demokrat maupun Republik memiliki kepentingan untuk meloloskan aturan tersebut demi memulihkan kepercayaan pasar. Grayscale juga menekankan bahwa regulasi yang lebih jelas akan mendorong penggunaan stablecoin, tokenisasi aset, dan aplikasi blockchain publik lainnya. Di sisi lain, analis Kaiko Research menyebut level US$60.000 sebagai area teknikal krusial untuk mempertahankan kerangka siklus empat tahunan.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi:
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.