Jakarta, Pintu News – Tokenized Real-World Assets (RWA) memasuki fase baru pada 2026, dan kali ini bukan sekadar tren sesaat di dunia crypto. Jika sebelumnya hype didorong investor ritel, kini pertumbuhan justru datang dari institusi besar yang mulai mengintegrasikan blockchain ke sistem keuangan mereka.
Dalam ajang Consensus Hong Kong 2026, sejumlah eksekutif dari Animoca Brands, Mastercard, hingga Robinhood menegaskan bahwa tokenisasi aset dunia nyata mulai menjadi bagian dari strategi keuangan arus utama.
Gelombang adopsi RWA saat ini didorong oleh institusi keuangan global yang melihat efisiensi dari penggunaan blockchain. BlackRock melalui produk BUIDL dan berbagai produk crypto di Robinhood serta Bitstamp menjadi contoh nyata bagaimana sistem keuangan tradisional mulai memanfaatkan ledger digital.
Chief Operating Officer BlackRock, Rob Goldstein, bahkan menyebut blockchain sebagai “terobosan finansial terbesar sejak pembukuan berpasangan.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa teknologi ini tidak lagi dipandang sebagai eksperimen, melainkan fondasi baru infrastruktur keuangan.
Ketua SEC Paul Atkins juga menyoroti potensi tokenisasi dalam meningkatkan transparansi dan prediktabilitas pasar. Ia menyatakan bahwa dengan regulasi yang jelas, tokenisasi dapat menciptakan sistem yang lebih efisien dan aman.
Perubahan ini menandai pergeseran dari spekulasi crypto menuju integrasi yang lebih dalam dengan keuangan tradisional. Perhatian institusi terhadap tokenized U.S. Treasuries dan dana pasar uang menunjukkan bahwa RWA kini berada di jalur institusionalisasi penuh.
Saat ini, nilai RWA on-chain mencapai sekitar $24 miliar atau setara Rp403,97 triliun dengan kurs Rp16.832 per dolar. Aset dasar yang mendukungnya bahkan mencapai $365 miliar atau sekitar Rp6.143 triliun.
Angka ini menunjukkan bahwa blockchain tidak hanya memindahkan nilai kecil, melainkan sudah mengelola aset bernilai sangat besar. Pertumbuhan ini terutama berasal dari tokenized Treasuries dan private credit yang mulai diminati investor institusional.
Baca juga: UAE Gandeng Starlink, 100 Sekolah Terpencil Akan Terkoneksi Internet Super Cepat?
Institusi seperti UBS dan New York Stock Exchange turut berperan dalam membangun likuiditas pasar RWA. Kecepatan penyelesaian transaksi dan efisiensi perdagangan membuat aset berbasis blockchain semakin praktis dibanding sistem tradisional.
Meski demikian, investor ritel masih relatif pasif dan belum banyak yang memiliki tokenized RWA secara langsung. Namun fondasi pasar sekunder, price discovery yang transparan, dan jalur exit yang jelas diperkirakan akan matang pada 2026.
Analis crypto MaeveKnows memprediksi 2026 akan menjadi momen krusial bagi RWA. Setelah fase kesadaran publik pada 2024 dan pilot project pada 2025, tahun depan akan fokus pada perdagangan sekunder dan pembentukan harga riil.
Ini penting agar RWA tidak hanya menjadi produk eksperimental, tetapi benar-benar menjadi kelas aset yang matang. Kejelasan regulasi di Eropa juga diperkirakan akan mendorong tokenisasi saham publik.
Tokenisasi juga membuka peluang fractional ownership dan akses pasar global 24/7. Dalam konteks emerging markets dengan mata uang tidak stabil, aset tokenisasi dapat menjadi alternatif lindung nilai dan sumber yield on-chain.
Jika akses ritel diperluas, RWA berpotensi membuka likuiditas triliunan dolar dari aset yang sebelumnya sulit diperjualbelikan. Inilah yang membuat banyak pihak menyebut RWA sebagai use case paling transformatif dalam sejarah blockchain.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi:
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.