Jakarta, Pintu News – Chainlink (LINK) kembali menjadi sorotan di tengah volatilitas pasar kripto yang tinggi. Banyak investor mulai bertanya-tanya, apakah fase kapitulasi besar masih menanti di depan? Data terbaru menunjukkan adanya perbedaan perilaku antara pemegang jangka pendek dan jangka panjang. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai sinyal-sinyal bearish yang patut diwaspadai sebelum mengambil keputusan investasi pada Chainlink (LINK).

Dalam beberapa minggu terakhir, pemegang Chainlink (LINK) dengan jangka waktu 180 hari menunjukkan kecenderungan untuk terus menambah kepemilikan. Berdasarkan data dari Glassnode, rasio akumulasi holder melonjak dari 66,06% pada akhir Januari menjadi 74,8% di bulan ini. Angka ini jauh di atas rata-rata dua tahun terakhir yang berkisar di 67%-69%. Fenomena ini menandakan keyakinan kuat dari investor jangka panjang terhadap potensi pemulihan harga LINK di masa mendatang.
Di sisi lain, pergerakan harga LINK cenderung stagnan dengan tekanan jual yang datang dari pemegang jangka pendek. Meskipun demikian, tidak terlihat adanya lonjakan besar dalam sirkulasi token yang telah lama tidak bergerak, yang biasanya menjadi sinyal awal gelombang penjualan besar-besaran. Hal ini memperkuat dugaan bahwa pemegang jangka panjang masih memilih bertahan atau bahkan menambah portofolio mereka. Dengan demikian, tekanan jual utama saat ini lebih banyak berasal dari kelompok pemegang baru.
Baca Juga:Â Elon Musk Tentang Silver: 5 Fakta, Opini, dan Dampaknya ke Harga Logam Mulia

Data dari Santiment mengungkapkan bahwa kelompok pemegang Chainlink (LINK) selama 90 hari terakhir mengalami kerugian signifikan. Rasio MVRV 90 hari tercatat di angka 24,29%, yang berarti rata-rata pembeli LINK dalam tiga bulan terakhir mengalami penurunan nilai sebesar 24%. Selain itu, Mean Coin Age 90 hari juga turun drastis, menandakan adanya perputaran token yang tinggi akibat aksi jual dari pemegang jangka pendek. Fenomena ini memperlihatkan bahwa tekanan jual dalam beberapa minggu terakhir didominasi oleh investor yang baru masuk ke pasar.
Sementara itu, kelompok pemegang dengan usia token 180 hari justru menunjukkan tren sebaliknya. Mean Coin Age 180 hari terus mengalami kenaikan, menandakan bahwa mereka lebih memilih untuk menahan atau menambah kepemilikan. Tidak adanya lonjakan pada Dormant Circulation kelompok ini juga memperkuat sinyal bahwa mereka belum berniat melakukan aksi jual besar-besaran. Kondisi ini menciptakan kontras yang tajam antara perilaku pemegang jangka pendek dan jangka panjang.
Meskipun terdapat pola bullish flag pada timeframe rendah yang memunculkan harapan akan terjadinya breakout jangka pendek, momentum di timeframe mingguan justru menunjukkan sinyal sebaliknya. Indikator RSI mingguan untuk Chainlink (LINK) turun ke level 32, level terendah sepanjang sejarah token ini. Hal ini menandakan bahwa tekanan jual masih sangat kuat dan potensi penurunan harga lebih lanjut belum sepenuhnya hilang. Para analis memperingatkan bahwa tanpa adanya kapitulasi dari pemegang jangka panjang, pemulihan harga LINK masih akan menghadapi tantangan berat.
Selain itu, meskipun ada arus masuk positif dari Spot ETF ke Chainlink (LINK), hal ini belum cukup untuk membalikkan tren bearish yang sedang berlangsung. Cadangan LINK di bursa meningkat hingga 2 juta token atau sekitar $17.000.000, menandakan adanya potensi tekanan jual tambahan jika sentimen pasar memburuk. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak terburu-buru mengambil posisi beli sebelum ada konfirmasi kapitulasi dari pemegang jangka panjang.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat sinyal optimisme dari pemegang jangka panjang, risiko kapitulasi besar pada Chainlink (LINK) masih membayangi. Tekanan jual dari pemegang jangka pendek yang mengalami kerugian dapat memicu gelombang penurunan harga berikutnya. Investor perlu memperhatikan pergerakan data on-chain dan menunggu konfirmasi sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, kehati-hatian menjadi kunci utama dalam menghadapi pergerakan harga LINK ke depan.
Baca Juga:Â Cara Bermain Bitcoin di HP untuk Pemula di 2026
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.