Jakarta, Pintu News – Akhir pekan ini menjadi momen pembuktian krusial bagi narasi aset pelindung nilai (safe-haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global. Saat para investor mencari perlindungan dari gejolak pasar, terjadi pemisahan tajam antara aset tradisional dan cryptocurrency.
Harga emas dan perak melonjak drastis mencapai rekor tertinggi baru, sementara Bitcoin (BTC) justru bergerak ke arah yang berlawanan dengan mengalami penurunan signifikan. Fenomena ini memicu perdebatan panas mengenai apakah aset digital masih layak menyandang gelar sebagai “emas digital” di masa depan.

Logam mulia menunjukkan taringnya dengan emas melampaui angka $5.175 atau setara Rp87.090.075, sementara perak melonjak di atas $87 atau sekitar Rp1.464.123. Di sisi lain, harga Bitcoin (BTC) tergelincir lebih dari 5%, jatuh di bawah level dukungan kunci $65.000 atau sekitar Rp1.093.885.000. Bukannya bertindak sebagai penyimpan nilai yang andal saat pasar stres, aset crypto utama ini justru melemah, memicu keraguan baru tentang perannya sebagai aset aman.
Kondisi ini menyoroti bahwa dalam periode ketegangan ekonomi, investor institusional cenderung kembali ke aset fisik yang telah teruji selama ribuan tahun. Pelemahan Bitcoin (BTC) di saat emas menguat menunjukkan adanya korelasi yang lebih erat antara cryptocurrency dengan aset teknologi berisiko daripada dengan logam mulia. Para analis mengamati bahwa kepercayaan pasar terhadap narasi safe-haven digital sedang diuji secara serius oleh dinamika pasar tahun 2026 ini.
Baca Juga: Emas Terancam? 5 Faktor Kritis yang Bisa Mengakhiri Reli 7 Bulan Beruntun Emas

Ekonom kawakan dan kritikus vokal Bitcoin (BTC), Peter Schiff, kembali melontarkan kritik tajam melalui platform media sosial X mengenai kesenjangan ini. Ia berpendapat bahwa jarak yang semakin lebar antara performa logam mulia dan aset crypto bukanlah fenomena sementara melainkan pergeseran struktural. Menurut Schiff, kegagalan Bitcoin (BTC) untuk mengikuti reli emas membuktikan bahwa aset digital tidak memiliki nilai intrinsik yang stabil saat terjadi krisis.

Namun, komunitas cryptocurrency segera memberikan pembelaan dengan mengingatkan bahwa fluktuasi jangka pendek tidak merusak tren jangka panjang yang masih sangat bullish. Mereka berargumen bahwa pertumbuhan Bitcoin (BTC) selama setahun terakhir masih jauh mengungguli emas jika dilihat dari perspektif grafik tahunan yang lebih luas. Perdebatan ini mencerminkan benturan ideologi antara penganut keuangan tradisional (TradFi) dan pendukung desentralisasi yang melihat volatilitas sebagai bagian dari fase pertumbuhan aset.

Data statistik menunjukkan penurunan daya beli Bitcoin (BTC) yang cukup drastis jika diukur menggunakan satuan berat emas daripada mata uang dolar. Pada puncaknya di Desember 2024, satu Bitcoin (BTC) setara dengan sekitar 38 ons emas, namun angka tersebut jatuh ke angka 13 ons pada Februari 2026. Penurunan tajam sebesar 62% dalam waktu setahun ini mengindikasikan bahwa Bitcoin (BTC) kehilangan nilai riilnya terhadap aset fisik yang paling stabil.
Kesenjangan ini semakin nyata saat dibandingkan dengan perak, di mana nilai Bitcoin (BTC) relatif terhadap perak anjlok lebih dari 70% sejak Mei 2025. Di pasar global, emas dan perak kini menduduki peringkat pertama dan kedua sebagai aset dengan kapitalisasi pasar terbesar, sementara Bitcoin (BTC) turun ke posisi ke-13. Jika Bitcoin (BTC) ingin kembali diakui sebagai safe-haven, para pakar menilai aset ini harus mulai berperilaku sebagai penyimpan nilai yang stabil daripada sekadar mengikuti tren saham teknologi.
Baca Juga: MicroStrategy Siap Salip Bitcoin? Simak Prediksi Mengejutkan Jelang Akhir Februari!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.