Minyak Dunia Bergejolak, Ancaman Krisis Selanjutnya Bisa Picu ‘Panic Sell’ Bitcoin (BTC)?

Updated
March 3, 2026
Share

Jakarta, Pintu News – Ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran di pasar global, termasuk pasar kripto. Lonjakan premi asuransi kapal tanker dan potensi gangguan pasokan minyak dunia menjadi sorotan utama para pelaku pasar.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada harga minyak, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek domino terhadap inflasi, suku bunga, hingga likuiditas global. Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko tinggi seperti Bitcoin (BTC) dan kripto lainnya bisa menjadi korban pertama dari gejolak pasar.

Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya pada Inflasi Global

Dilansir dari BeInCrypto, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya. Ketegangan militer di wilayah ini telah menyebabkan premi asuransi kapal melonjak lebih dari 50%, dengan biaya asuransi untuk kapal senilai $100.000.000 naik dari $250.000 menjadi $375.000 per perjalanan.

Kenaikan biaya ini menambah kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan minyak global. Beberapa analis memperkirakan harga minyak mentah bisa melonjak ke kisaran $120–$130 per barel jika terjadi gangguan berkepanjangan. Lonjakan harga minyak akan langsung berdampak pada biaya transportasi, manufaktur, dan barang konsumsi, sehingga mendorong inflasi di berbagai negara.

Kondisi ini dapat memaksa bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, untuk menunda atau mengurangi rencana pemangkasan suku bunga. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah berpotensi naik dan memperketat likuiditas global.

Baca juga: Kerugian Crypto Februari 2025 Anjlok Drastis, Apakah Era Mega-Hack Sudah Berakhir?

Efek Pengetatan Likuiditas terhadap Pasar Kripto

Kenaikan imbal hasil obligasi biasanya membuat investor mengalihkan dana dari aset berisiko tinggi ke instrumen yang lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik. Dalam situasi pengetatan likuiditas, triliunan dolar dana sensitif suku bunga di pasar obligasi dan saham bisa berpindah arah.

Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Ripple (XRP), dan aset kripto lain dikenal sebagai aset dengan beta tinggi yang sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas global. Sejarah mencatat, saat imbal hasil riil naik, aset digital cenderung melemah akibat likuidasi posisi leverage dan kenaikan biaya pendanaan.

Pasar kripto yang beroperasi 24 jam tanpa henti membuat reaksi terhadap gejolak makro bisa terjadi secara instan dan lebih volatil. Banyak analis dan pelaku pasar kini memantau pergerakan harga minyak dan obligasi sebagai indikator utama arah pasar kripto.

Baca juga: Harga 1 Pi Network (PI) di Indonesia Hari Ini (3/3/26)

Risiko Tambahan: Hashrate dan Infrastruktur Penambangan Bitcoin (BTC)

Selain tekanan dari sisi makroekonomi, terdapat risiko tambahan terkait infrastruktur penambangan Bitcoin (BTC) di Iran. Negara tersebut dikenal sebagai salah satu pusat penambangan Bitcoin (BTC) berkat biaya listrik yang sangat murah.

Jika infrastruktur energi di Iran terganggu akibat konflik, maka hashrate jaringan Bitcoin (BTC) bisa anjlok secara tiba-tiba. Hal ini berpotensi memicu guncangan pasokan Bitcoin (BTC) di pasar, baik karena penambang menjual asetnya atau perangkat penambangan yang mendadak offline.

Narasi mengenai potensi “supply shock” Bitcoin (BTC) akibat gangguan di Iran semakin memperkuat ketidakpastian di pasar. Walaupun sebagian pihak, termasuk mantan Presiden Donald Trump, menganggap situasi ini tidak perlu dikhawatirkan, pasar cenderung lebih responsif terhadap perubahan imbal hasil obligasi dan likuiditas.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoinusdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Latest News

See All News ->

© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.

pintu-icon-banner

Trade on Pintu

Buy & invest in crypto easily

Pintu feature 1
Pintu feature 2
Pintu feature 3
Pintu feature 4
Pintu feature 5
Pintu feature 6
Pintu feature 7
Pintu feature 8
pintu-icon-banner

Trade on Pintu

Buy & invest in crypto easily

Pintu feature 1
Pintu feature 2
Pintu feature 3
Pintu feature 4
Pintu feature 5
Pintu feature 6
Pintu feature 7
Pintu feature 8