Jakarta, Pintu News – Harga emas (Gold/XAU) masih berada dalam tren bullish jangka menengah meskipun sempat mengalami koreksi dari rekor tertinggi terbaru. Analisis pasar menunjukkan bahwa potensi kenaikan emas menuju $6.500 tidak hanya bergantung pada permintaan safe haven, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar minyak, dolar AS, dan yield obligasi.
Kombinasi faktor makro tersebut membentuk rantai hubungan yang dapat menahan atau mempercepat kenaikan harga emas dalam beberapa bulan ke depan.

Harga emas sempat mencapai rekor tertinggi sekitar $5.590 pada Januari 2026 sebelum mengalami koreksi lebih dari 7%. Meski demikian, harga masih bertahan di atas $5.160, yang menunjukkan tren jangka menengah tetap kuat.
Jika dikonversi menggunakan kurs Rp16.919 per dolar:
Selama harga tetap berada dalam channel bullish yang terbentuk sejak Desember 2025, bias tren emas masih mengarah naik.
Baca Juga: Bank Sentral Ceko Kejar Cadangan Emas 100 Ton, Bitcoin (BTC) Masih Jadi Pertimbangan

Analisis teknikal menunjukkan bahwa emas memiliki potensi menuju area sekitar $6.540 berdasarkan ekstensi Fibonacci. Bahkan target channel jangka panjang menunjukkan potensi hingga sekitar $6.960.
Konversi harga ke rupiah:
Target tersebut setara dengan potensi kenaikan sekitar 19% dari harga saat ini jika kondisi makro mendukung.
Namun, ada level kunci yang harus ditembus terlebih dahulu.

Level $5.440 disebut sebagai hambatan utama yang harus ditembus untuk mengonfirmasi breakout tren naik. Level ini sebelumnya menjadi titik penolakan harga pada akhir Januari.
Jika emas mampu menutup perdagangan di atas level tersebut secara konsisten, struktur pasar akan berubah dari range-bound menjadi trending bullish.
Setelah itu, target berikutnya berada di sekitar $5.730 sebelum menuju zona rekor baru.
Salah satu faktor utama yang menahan kenaikan emas adalah harga minyak. Ketegangan geopolitik, khususnya konflik AS–Iran, mendorong harga minyak naik.
Karena minyak diperdagangkan dalam dolar AS, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan ekspektasi inflasi, yang kemudian memperkuat dolar dan mendorong naik yield obligasi.
Dua faktor ini biasanya menjadi hambatan bagi emas.

Indeks dolar AS (DXY) naik dari sekitar 95,55 menjadi 99,13, sementara yield obligasi AS 10 tahun meningkat dari 3,92% ke sekitar 4,12%.
Dalam kondisi normal, kombinasi dolar kuat dan yield tinggi biasanya menekan harga emas. Namun dalam situasi ini, emas masih bertahan relatif kuat karena permintaan safe haven.
Kondisi tersebut menciptakan dua kekuatan berlawanan:
Data Commitment of Traders (COT) menunjukkan hedge fund dan manajer investasi memegang sekitar 96.000 kontrak net long pada futures emas COMEX.
Selain itu, open interest meningkat menjadi sekitar 420.182 kontrak, menandakan adanya arus modal baru ke pasar emas.
Dalam analisis pasar komoditas, kenaikan open interest yang disertai harga stabil biasanya menunjukkan kepercayaan investor institusional terhadap tren naik.
Rasio Gold-Silver (XAUXAG) juga menunjukkan pola bullish yang mendukung emas. Rasio ini diperkirakan dapat naik menuju 69 hingga 75, yang menunjukkan preferensi investor terhadap emas dibandingkan perak.
Alasannya cukup sederhana:
Jika kekhawatiran resesi meningkat, investor biasanya memilih emas sebagai aset lindung nilai.

Meskipun prospek jangka panjang masih positif, ada risiko penurunan jika emas gagal mempertahankan support penting.
Level yang perlu diperhatikan:

Penurunan di bawah $4.910 dapat mematahkan channel bullish yang sudah bertahan sejak Desember 2025.
Namun skenario ini biasanya terjadi jika dolar dan yield terus naik.
Baca Juga: Lonjakan Penarikan Crypto 700% di Iran: Bitcoin Jadi Jalur Pelarian Finansial Saat Krisis
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.