4 Fakta Bitcoin Saat Minyak Tembus Rp1,83 Juta, Pasar Panik?

Updated
March 9, 2026
Share

Jakarta, Pintu News – Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah di tengah tekanan pasar global setelah harga minyak melonjak tajam dan futures saham Amerika Serikat turun signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar crypto dan cryptocurrency masih sangat sensitif terhadap sentimen makroekonomi, terutama ketika konflik geopolitik mulai memengaruhi energi, inflasi, dan aset berisiko. Bagi investor pemula maupun yang sudah berpengalaman, situasi ini penting dipahami karena pergerakan Bitcoin kini semakin sering bergerak seiring dengan dinamika pasar global.

1. Harga Bitcoin Turun ke Area Rp1,13 Miliar

Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran $66.456 atau sekitar Rp1,13 miliar dengan kurs 1 USD = Rp16.987. Dalam 24 jam terakhir, aset crypto terbesar di dunia itu tercatat turun sekitar 1,7%, meski secara mingguan masih menguat tipis sekitar 1,4%.

Dalam jangka waktu satu bulan, Bitcoin juga tercatat melemah sekitar 7,3%, menandakan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya hilang. Koreksi ini memperlihatkan bahwa meski Bitcoin sering disebut sebagai aset alternatif, pergerakannya tetap terpengaruh oleh sentimen global yang menekan pasar cryptocurrency secara umum.

Baca Juga: Prediksi Gila! Bitcoin Bisa Tembus Rp2,02 Miliar Maret 2026, ETH ke Rp202 Juta?

2. Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu Utama Tekanan Pasar

trader harga minyak
Unsplash

Salah satu penyebab utama pelemahan Bitcoin datang dari lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 18% ke atas $107 per barel atau sekitar Rp1,82 juta, sedangkan Brent naik sekitar 16% ke kisaran $108 per barel atau sekitar Rp1,83 juta.

Kenaikan ini penting karena minyak merupakan komponen biaya utama dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi global. Saat harga energi melonjak, pasar mulai khawatir terhadap inflasi yang lebih tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham teknologi, crypto, dan cryptocurrency cenderung mengalami tekanan jual.

Agar lebih ringkas, berikut angka penting yang menjadi sorotan pasar:

  • Bitcoin (BTC): $66.456Rp1,13 miliar
  • WTI crude: $107Rp1,82 juta per barel
  • Brent crude: $108Rp1,83 juta per barel

3. Futures Saham AS Anjlok, Sentimen Risk-Off Menguat

Tekanan di pasar tidak hanya terlihat pada Bitcoin, tetapi juga pada futures saham Amerika Serikat. Futures Dow Jones turun lebih dari 800 poin atau sekitar 1,7%, sementara futures S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing turun sekitar 1,5% sebelum sesi perdagangan dimulai.

Penurunan ini menunjukkan bahwa investor sedang mengurangi eksposur pada aset yang dianggap lebih berisiko. Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin sering ikut terkena tekanan karena banyak pelaku pasar memperlakukannya sebagai aset spekulatif, bukan sepenuhnya sebagai penyimpan nilai yang terpisah dari pasar tradisional.

Hubungan ini semakin relevan dalam beberapa tahun terakhir karena pasar crypto makin terintegrasi dengan sentimen makro. Ketika investor global menghindari risiko, pergerakan Bitcoin cenderung mengikuti arah saham, terutama saat kekhawatiran inflasi dan suku bunga kembali meningkat.

4. Bitcoin Masih Relatif Stabil, tetapi Risiko Belum Hilang

Meski berada di bawah tekanan, Bitcoin sempat menunjukkan daya tahan yang cukup baik dibanding pasar tradisional. Aset ini sempat turun di bawah $66.000 atau sekitar Rp1,12 miliar, tetapi kemudian mampu pulih sebagian, menandakan bahwa pelaku pasar mungkin sudah mulai menyerap guncangan awal dari sentimen geopolitik tersebut.

Namun, stabilitas jangka pendek itu belum berarti risiko telah berlalu. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam beberapa hari ke depan, kekhawatiran inflasi dapat meningkat dan mendorong bank sentral menunda pemangkasan suku bunga, yang pada akhirnya dapat memperketat kondisi likuiditas bagi pasar crypto.

Bagi kamu yang memantau Bitcoin, fokus utama saat ini bukan hanya konflik geopolitik, melainkan bagaimana dampaknya terhadap energi dan ekspektasi kebijakan moneter. Selama harga minyak tetap tinggi dan pasar saham masih tertekan, volatilitas Bitcoin dan aset cryptocurrency lain kemungkinan tetap akan besar.

Kesimpulan

Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa aset crypto tidak bergerak dalam ruang hampa, melainkan sangat dipengaruhi oleh minyak, inflasi, dan pasar saham global. Turunnya harga BTC ke kisaran Rp1,13 miliar, bersamaan dengan minyak yang naik hingga sekitar Rp1,83 juta per barel dan futures saham AS yang melemah, menegaskan bahwa sentimen risk-off sedang mendominasi pasar.

Bagi investor maupun pemula, kondisi ini menjadi pengingat bahwa analisis cryptocurrency tidak cukup hanya melihat chart dan sentimen komunitas. Faktor makro seperti konflik regional, gangguan pasokan energi, dan arah suku bunga global kini sama pentingnya dalam membaca arah harga Bitcoin.

Baca Juga: 5 Isu Besar Crypto Maret 2026: FOMC, Stablecoin, hingga Unlock Token Bernilai Miliaran

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoinusdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Latest News

See All News ->

© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.

pintu-icon-banner

Trade on Pintu

Buy & invest in crypto easily

Pintu feature 1
Pintu feature 2
Pintu feature 3
Pintu feature 4
Pintu feature 5
Pintu feature 6
Pintu feature 7
Pintu feature 8
pintu-icon-banner

Trade on Pintu

Buy & invest in crypto easily

Pintu feature 1
Pintu feature 2
Pintu feature 3
Pintu feature 4
Pintu feature 5
Pintu feature 6
Pintu feature 7
Pintu feature 8