5 Fakta Volume Exchange Crypto Anjlok 48%, Binance Masih Kuasai Rp17.089 Triliun

Updated
April 10, 2026
Share

Jakarta, Pintu News – Aktivitas perdagangan di centralized exchange atau exchange crypto terpusat dilaporkan turun tajam hingga 48% dari puncaknya pada Oktober 2025. Penurunan ini membuat total volume perdagangan di platform CEX menyentuh level terendah dalam 17 bulan terakhir, menandakan momentum pasar cryptocurrency sedang melambat. Meski begitu, data terbaru juga menunjukkan bahwa Binance masih menjadi pemain terbesar, sementara pasar derivatif tetap menjadi penopang utama likuiditas di tengah lesunya transaksi spot.

1. Volume Exchange Crypto Turun ke Level Terendah 17 Bulan

Menurut laporan Cryptopolitan yang mengutip data CryptoQuant, volume perdagangan di exchange crypto terpusat turun menjadi US$4,3 triliun atau sekitar Rp73.482,7 triliun. Angka ini merosot jauh dari level di atas US$8 triliun, atau sekitar Rp136.712 triliun, yang sempat tercatat pada puncak pasar Oktober 2025. Penurunan hampir 50% ini menjadi sinyal bahwa minat perdagangan jangka pendek di pasar crypto sedang melemah.

Bagi investor pemula, penurunan volume biasanya berarti aktivitas pasar menjadi lebih sepi dibanding fase bullish. Dalam kondisi seperti ini, pergerakan harga cryptocurrency bisa tetap terjadi, tetapi dorongan transaksinya tidak sekuat ketika volume sedang tinggi. Karena itu, volume sering dipakai sebagai indikator tambahan untuk membaca kekuatan tren pasar.

Baca Juga: Volume Gold, Oil, dan Silver Perpetual Meledak 65.463%: Ada Apa?

2. Derivatif Jadi Mesin Utama Likuiditas Pasar

Meski total aktivitas turun, perdagangan derivatif justru masih mendominasi pasar. Laporan tersebut menyebut volume perpetual futures mencapai US$3,5 triliun atau sekitar Rp59.811,5 triliun, sekitar empat kali lebih besar dibanding total volume spot di centralized exchange. Ini menunjukkan bahwa trader profesional dan institusi masih aktif, terutama di instrumen yang lebih kompleks seperti futures, perpetual swap, dan options.

Secara ringkas, komposisi pasar saat ini terlihat sebagai berikut:

  • Total volume CEX: US$4,3 triliun atau sekitar Rp73.482,7 triliun
  • Volume perpetual futures: US$3,5 triliun atau sekitar Rp59.811,5 triliun
  • Porsi derivatif: lebih dari 70% total aktivitas CEX

Buat kamu yang baru mengenal crypto, data ini penting karena menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih banyak digerakkan oleh pelaku yang aktif memakai leverage dan strategi trading tingkat lanjut. Artinya, pergerakan harga di pasar cryptocurrency bisa menjadi lebih sensitif terhadap likuidasi, volatilitas, dan sentimen jangka pendek. Kondisi ini juga menjelaskan kenapa pasar bisa terasa cepat berubah meski volume spot sedang melemah.

3. Spot Trading Terus Melemah Sepanjang 2026

ihsg anjlok hari ini
Generated by AI

Volume spot di exchange crypto juga memperlihatkan tren penurunan bertahap sejak awal tahun. Dari US$1,1 triliun atau sekitar Rp18.797,9 triliun pada Januari, volume spot turun menjadi US$1,01 triliun atau sekitar Rp17.260 triliun pada Februari. Pada Maret, nilainya kembali turun menjadi US$818,45 miliar atau sekitar Rp13.985,9 triliun, memperkuat indikasi bahwa minat transaksi langsung terhadap aset cryptocurrency sedang mendingin.

Penurunan spot trading biasanya menjadi perhatian karena pasar spot sering dianggap mewakili permintaan yang lebih natural dibanding derivatif. Saat volume spot turun terus, pasar cenderung lebih bergantung pada trader aktif dan pergerakan spekulatif. Bagi investor, kondisi ini patut dibaca sebagai tanda bahwa pemulihan pasar mungkin belum sepenuhnya merata.

4. Binance Tetap Dominan Meski Pasar Melambat

Di tengah pendinginan pasar, Binance masih menjadi exchange terbesar berdasarkan volume perdagangan. Laporan itu menyebut Binance mencatat volume spot bulanan sebesar US$248 miliar atau sekitar Rp4.238,1 triliun, dengan pangsa pasar sekitar 32% pada Maret. Sepanjang 2026, volume spot Binance juga dilaporkan mendekati US$1 triliun atau sekitar Rp17.089 triliun, menegaskan posisinya sebagai pemimpin pasar crypto global.

Beberapa exchange lain juga mulai mengejar, tetapi jaraknya masih cukup besar:

  • MEXC: US$77 miliar atau sekitar Rp1.315,9 triliun
  • Bybit: US$59 miliar atau sekitar Rp1.008,3 triliun
  • Gate: US$56 miliar atau sekitar Rp956,9 triliun
  • Crypto.com: US$52 miliar atau sekitar Rp888,6 triliun

Dominasi Binance juga terlihat di pasar perpetual futures, dengan volume Maret mencapai US$1,4 triliun atau sekitar Rp23.924,6 triliun. Ini menunjukkan bahwa meski pasar sedang melambat, likuiditas utama di ekosistem crypto masih sangat terkonsentrasi pada beberapa exchange besar. Untuk pemula, hal ini penting dipahami karena platform dengan likuiditas tinggi umumnya menawarkan eksekusi harga yang lebih stabil.

5. Apa Arti Penurunan Volume Ini bagi Investor?

Penurunan volume CEX sebesar 48% tidak otomatis berarti pasar crypto sedang dalam krisis, tetapi jelas menunjukkan fase cooldown setelah periode aktivitas tinggi. Menariknya, laporan itu juga mencatat bahwa kualitas eksekusi untuk pasangan utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) masih relatif stabil meski volume rendah. Hal ini antara lain didukung oleh inovasi market maker dan program insentif likuiditas yang lebih terarah.

Bagi kamu yang berinvestasi di cryptocurrency, pelajaran utamanya adalah pasar sepi tidak selalu berarti pasar rusak. Namun, saat volume menurun dan derivatif mendominasi, volatilitas bisa menjadi lebih sulit dibaca, terutama pada altcoin yang likuiditasnya tipis. Karena itu, pendekatan yang lebih hati-hati, fokus pada aset utama, dan memahami kondisi likuiditas pasar menjadi semakin penting dalam membaca arah crypto ke depan.

Baca Juga: 5 Fase Siklus BTC Menuju $215.000: Target Bitcoin Rp3,65 Miliar?

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Latest News

See All News ->

© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.