Harga Bitcoin Anjlok ke $79.000 Hari Ini (8/5): Metrik On-Chain BTC Sentuh Level Terendah 4 Tahun

Updated
May 8, 2026
Share

Jakarta, Pintu News – Dilansir dari BeInCrypto, metrik on-chain Bitcoin (BTC) telah menyentuh level terendah (deep-value) yang biasanya hanya terlihat pada titik dasar sebuah siklus, meskipun harganya baru turun sekitar 40% dari level rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High). Penurunan harga ini jauh di bawah persentase anjloknya harga pada siklus bear market sebelumnya, yang biasanya berkisar antara 75% hingga 85%.

Enam indikator utama yang sering diamati kini menunjukkan arah yang sama. Indikator-indikator tersebut menggambarkan kondisi pasar yang mengalami reset tanpa melalui puncak euforia, sementara di sisi lain, para pemegang aset jangka panjang menahan diri untuk tidak menjual (distribusi).

Lalu, bagaimana pergerakan harga BTC saat ini?

Harga Bitcoin Turun 2,20% dalam Waktu 24 Jam

Pada 8 Mei 2026, harga Bitcoin tercatat berada di level $79,443 atau setara dengan Rp1.378.005.027, mengalami penurunan 2,20% dalam 24 jam terakhir. Sepanjang periode ini, BTC menyentuh level terendahnya di Rp1.378.005.027 dan harga tertingginya di Rp1.417.654.644.

Saat penulisan, kapitalisasi pasar Bitcoin berada di sekitar Rp27.662 triliun, dengan volume perdagangan dalam 24 jam terakhir yang turun 10% menjadi Rp648,41 triliun.

Baca juga: Prediksi Harga Solana: Sinyal Bullish EMA Ribbon Menyala Menjelang Pembaruan Alpenglow

Siklus Bitcoin: Kapitulasi Tanpa Keruntuhan

Tiga indikator yang mengukur tekanan pada hubungan antara harga dan tren menunjukkan kesimpulan yang seragam. Indikator Mayer Multiple Z-Score, yang membandingkan harga Bitcoin (BTC) dengan pergerakan harga rata-rata 200 harinya (200-DMA), baru-baru ini merosot ke kisaran -1,5 standar deviasi. Zona ini baru pernah tersentuh dua kali dalam sejarah baru-baru ini.

Kejadian pertama tercatat pada Maret 2020, saat harga berada di sekitar $3.000. Kejadian kedua muncul di tengah keruntuhan FTX pada akhir tahun 2022, di kisaran harga $19.000. Titik terendah indikator kali ini terjadi saat harga berada di sekitar $62.000, dan sejak saat itu BTC telah kembali naik mendekati level $80.000.

Kondisi ini turut dikonfirmasi oleh indikator Bitcoin Sharpe Ratio. Metrik tersebut telah turun ke zona “Risiko Rendah” (Low Risk). Zona ini sebelumnya menjadi penanda titik terendah pada siklus tahun 2015, 2019, dan 2022. Meskipun ukuran sampel datanya masih relatif kecil, setiap kemunculan pola ini di masa lalu selalu diikuti oleh tren kenaikan harga yang besar.

Berdasarkan data In The Cryptoverse, persentase pasokan Bitcoin yang mengalami kerugian juga naik mendekati angka 39%. Secara historis, level ini biasanya muncul pada fase akhir bear market, bukan saat harga masih bertahan di angka enam digit. Perbedaan kontras antara tingginya level harga dan tingkat kerugian yang ditanggung investor ini menjadi anomali paling menonjol pada siklus kali ini.

Pergerakan harga rata-rata 200 minggu (200WMA) Bitcoin menjadi indikator keempat yang mengonfirmasi tren ini. Garis tersebut selalu bertindak sebagai batas bawah (floor) pada setiap siklus sebelumnya.

Batas ini sempat tertembus sebentar pada tahun 2018 dan hanya tersentuh oleh sumbu lilin (wicked below) pada tahun 2020 dan 2022. Kali ini, garis 200WMA berhasil diuji dan bertahan sebagai penopang harga tanpa tertembus secara telak.

Siklus Bitcoin Tanpa Puncak

Sinyal-sinyal kapitulasi ini cukup mencolok sebagian karena tidak disertai oleh pasangannya yang wajar, yakni puncak euforia.

Indeks CBBI Bitcoin Bull Run menggabungkan berbagai metrik siklus. Selama tren kenaikan kali ini, angka kompositnya tidak pernah menyentuh zona merah di atas level 80. Padahal, setiap siklus bull market sebelumnya—termasuk pada 2013, 2017, dan 2021—berhasil menembus ambang batas tersebut dengan jelas. Grafik saat ini secara eksplisit menandai sinyal yang terlewatkan itu dengan tanda silang (X).

Baca juga: Prediksi Harga Pi Network: Pendiri Tampil di Consensus 2026 Menjelang Potensi Transisi ke AI

Data Net Unrealized Profit and Loss (NUPL) dari Glassnode juga menceritakan hal serupa. Metrik ini menggunakan zona berkode warna yang membentang dari warna biru untuk euforia hingga merah untuk kapitulasi. Ekspansi harga dari tahun 2024 hingga 2026 mencapai puncaknya hanya di zona “keyakinan” (belief) yang berwarna hijau, tanpa pernah memasuki wilayah biru.

Berdasarkan ukuran tersebut, pasar tidak pernah mencapai tingkat keserakahan massal (mass-greed) yang secara historis menjadi penentu harga puncak suatu siklus. Sejak saat itu, nilai NUPL telah meluncur turun ke wilayah oranye, yakni pita yang sering dikaitkan dengan posisi pertengahan bear market atau fase menjelang titik dasar (pre-bottom).

Lintasan tersebut mencerminkan jejak NUPL pada tahun 2018 dan 2022, meskipun pergerakan harga yang mendasarinya kali ini sangat berbeda.

Kelompok yang Menolak Menjual

Sinyal yang paling tidak biasa terlihat pada perilaku para pemegang jangka panjang (long-term holder/LTH).

Glassnode mendefinisikan pemegang jangka panjang (LTH) sebagai dompet yang telah menyimpan koin setidaknya selama 155 hari. Pada setiap siklus sebelumnya, kelompok ini melakukan distribusi (penjualan) besar-besaran saat harga mendekati puncak. Kurva pasokan LTH akan menurun seiring masuknya pembeli baru yang menyerap koin-koin di pasar. Pola tersebut selalu berulang dengan jelas pada tahun 2014, 2018, dan 2021.

Siklus kali ini justru mematahkan pola tersebut. Pasokan LTH memang sempat turun sedikit pada tahun 2024, tetapi sejak saat itu angkanya kembali ke rekor tertinggi, yakni di atas 14,5 juta BTC. Para pemegang jangka panjang saat ini berada pada tingkat keyakinan yang nyaris maksimal (peak conviction), di tengah harga yang masih berada jauh di atas garis pergerakan rata-rata 200 minggunya.

Perilaku ini memunculkan dua kemungkinan interpretasi. Interpretasi bullish mengisyaratkan bahwa pemegang jangka panjang masih menunggu harga puncak yang lebih tinggi yang belum terjadi. Sementara itu, interpretasi struktural menunjuk pada komposisi LTH yang sudah berbeda. Kelompok ini sekarang mencakup cold storage milik ETF, cadangan kekayaan negara, dan perbendaharaan perusahaan yang memiliki mandat investasi non-siklikal.

Kedua interpretasi tersebut sama-sama mendukung tesis bahwa siklus historis Bitcoin telah berubah. Tidak satu pun dari keduanya yang mengindikasikan bahwa tren bear market akan terus berlanjut dari level harga saat ini.

Sebuah Setup Asimetris

Gambaran gabungan dari enam grafik on-chain ini menyajikan sebuah triangulasi yang tidak biasa. Angka-angka yang mengindikasikan tingkat kapitulasi muncul pada tiga metrik berbasis harga.

Sementara itu, tidak ada tanda-tanda euforia pada dua metrik berbasis sentimen. Tidak ada pula aktivitas distribusi (penjualan) dari kelompok investor yang secara historis menjadi penentu harga puncak.

Pasar jarang sekali menunjukkan ketiga kondisi ini secara bersamaan.

Versi paling sederhana dari tesis ini menyimpulkan bahwa Bitcoin baru saja melewati fase reset on-chain yang dalam tanpa didahului oleh puncak euforia. Di saat yang sama, para pemegang aset yang paling berpotensi untuk menjual justru menahan koin mereka. Secara historis, kombinasi semacam ini biasanya berujung pada pergerakan harga yang naik (upside).

Meski demikian, argumen sebaliknya juga patut dipertimbangkan. Jika model siklus empat tahunan ini memang benar-benar telah patah atau berubah, maka logika yang sama seharusnya juga berlaku untuk sinyal-sinyal titik dasar (bottom) dari siklus sebelumnya.

Indikator Mayer Z, Sharpe Ratio, dan metrik kapitulasi selama ini berfungsi sebagai zona beli karena indikator-indikator tersebut mencerminkan psikologi pasar yang terus berulang. Sebuah siklus yang berbeda secara struktural bisa jadi mengisyaratkan bahwa sinyal-sinyal tersebut kini memiliki bobot prediksi yang lebih lemah dibandingkan rekam jejaknya di masa lalu.

Namun bagi para pengamat jangka panjang, gambaran on-chain ini tetap memperlihatkan kecenderungan yang asimetris. Harga saat ini berada jauh di bawah titik tertinggi siklusnya, tetapi masih bertahan kokoh di atas garis pergerakan rata-rata 200 minggu (200WMA).

Keyakinan para pemegang aset tetap utuh, dan sinyal-sinyal beli yang jarang terjadi secara historis kini telah selaras. Terlepas dari apakah siklus ini akan menghasilkan lonjakan kenaikan berikutnya atau berujung pada fase konsolidasi yang lebih lama, kumpulan data saat ini terlihat sangat menonjol. Ini merupakan sinyal titik dasar on-chain paling koheren yang pernah dicetak oleh Bitcoin dalam beberapa tahun terakhir.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi:

Latest News

See All News ->

© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.