Nilai Tukar Rupiah 1 Juli 2026: Dolar Menguat Usai Sinyal Hawkish The Fed

Updated
July 1, 2026
Share

Jakarta, Pintu News – Memasuki paruh kedua 2026, nilai tukar rupiah langsung mendapat tekanan berat. Pada perdagangan Rabu (1/7/2026), rupiah diperkirakan bergerak melemah di kisaran Rp17.900–Rp17.950 per dolar AS, melanjutkan pelemahan dari penutupan Selasa kemarin di level Rp17.907 per dolar AS.

Salah satu pemicu utama adalah sinyal kebijakan moneter ketat (hawkish) yang kembali ditegaskan oleh Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat β€” mendorong indeks dolar AS menguat dan menekan hampir seluruh mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, 1 Juli 2026

Berdasarkan data Tradingview, pada penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,31% atau 56 poin ke level Rp17.907 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,25% ke level 101,36 β€” mendekati level tertinggi 14 bulan terakhir.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini (1/7/2026), rupiah masih akan bergerak tertekan pada rentang Rp17.900–Rp17.950. Tekanan datang dari dua sisi sekaligus: faktor eksternal berupa sinyal hawkish The Fed dan ketidakpastian geopolitik, serta faktor internal berupa pelemahan surplus neraca perdagangan Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan kumulatif Januari–April 2026 hanya sebesar US$5,64 miliar β€” jauh di bawah periode yang sama tahun 2025 yang mencapai lebih dari US$10 miliar. Kondisi ini mempersempit bantalan ketahanan eksternal Indonesia dan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Sepanjang 2026, rupiah telah melemah lebih dari 6,86% atau lebih dari 1.000 poin terhadap dolar AS. Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level terlemah di Rp18.022 per dolar AS.

Baca juga: β€œNilai Tukar Rupiah Hari Ini 26 Juni 2026: Melemah ke Rp17.990 Tertekan Hawkish The Fedβ€œ

Sinyal Hawkish The Fed dan Dampaknya ke Pasar Global

Pada rapat FOMC Juni 2026 yang dipimpin oleh Gubernur Fed Kevin Warsh, bank sentral AS memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%. Namun yang lebih penting bagi pasar adalah perubahan nada pernyataan resmi FOMC: bias pelonggaran (easing bias) dihapus, dan sembilan dari 18 anggota FOMC memproyeksikan kenaikan suku bunga setidaknya satu kali lagi sepanjang 2026.

Sinyal ini mendorong ekspektasi pasar secara signifikan. Data CME FedWatch per 24 Juni 2026 menunjukkan probabilitas 37,4% untuk kenaikan 25 basis poin di rapat Juli mendatang β€” naik tajam dari sebelumnya. Suku bunga pun diproyeksikan baru turun pada 2027–2028, jauh lebih lama dari perkiraan awal.

Faktor pendukung lainnya bagi dolar AS mencakup: revisi final PDB AS kuartal I-2026 yang lebih baik dari estimasi, penurunan klaim pengangguran mingguan, serta inflasi inti yang masih menunjukkan tekanan harga. Semua data ini memperkuat narasi bahwa ekonomi AS cukup kuat untuk menanggung suku bunga tinggi lebih lama.

Ketidakpastian geopolitik juga turut bermain. Negosiasi AS-Iran di Doha sempat diharapkan dapat menstabilkan pasar minyak, namun juru bicara Kemenlu Iran menegaskan tidak ada pertemuan di tingkat mana pun dalam waktu dekat β€” menjaga ketidakpastian atas aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Uang kertas dolar AS sebagai simbol penguatan dolar di tengah kebijakan hawkish The Fed Juli 2026
Lembaran uang kertas dolar AS mencerminkan tren penguatan mata uang AS yang menekan rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya. Sumber: Ibrahim Boran via Unsplash / Unsplash License

Perbandingan Rupiah vs Mata Uang Asia Lainnya

Tidak hanya rupiah yang menghadapi tekanan, sejumlah mata uang Asia juga bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026). Berikut ringkasannya:

  • Yen Jepang: melemah 0,26% terhadap dolar AS
  • Won Korea Selatan: melemah 0,80% β€” pelemahan paling dalam di Asia
  • Dolar Singapura: melemah 0,20%
  • Ringgit Malaysia: melemah 0,14%
  • Baht Thailand: menguat tipis 0,13%
  • Yuan China: menguat 0,11%

Tren yang lebih panjang menunjukkan polarisasi di kawasan ASEAN. Mata uang negara-negara seperti Malaysia dan Thailand yang mendapat manfaat dari pergeseran aliran perdagangan dan investasi cenderung lebih tahan, sementara rupiah Indonesia dan peso Filipina mengalami tekanan lebih dalam. Faktor geopolitik domestik dan defisit fiskal yang melebar turut menyumbang sentimen negatif terhadap rupiah.

Baca juga: β€œNilai Tukar Rupiah Hari Ini, Kamis 18 Juni 2026: Dua Tekanan Sekaligus, Rupiah Kian Tertekanβ€œ

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer:

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Latest News

See All News ->

Β© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.