Bitcoin (BTC) Terancam Dua Bom Waktu: Eks Insinyur Meta dan Google Ungkap Ancaman Besar

Updated
July 14, 2026
Share

Dunia kripto kembali diguncang oleh peringatan keras dari Patrick Shyu, mantan insinyur di Meta dan Google. Ia menyoroti dua ancaman besar yang mengintai masa depan Bitcoin (BTC), yaitu kemajuan komputasi kuantum dan menurunnya insentif bagi para penambang.

Shyu bahkan mengaku telah menjual seluruh kepemilikan Bitcoin (BTC)-nya setelah mengalami kerugian finansial yang signifikan. Peringatan ini memicu diskusi hangat di kalangan investor dan pengamat kripto mengenai masa depan aset digital terbesar di dunia tersebut.

Insentif Penambang yang Terus Menyusut, Ancaman Perlahan bagi Keamanan Bitcoin (BTC)

Patrick Shyu menegaskan bahwa bom waktu pertama yang mengancam Bitcoin (BTC) adalah menurunnya insentif bagi para penambang seiring berjalannya waktu. Hal ini dipicu oleh mekanisme halving yang terjadi setiap empat tahun, di mana reward blok kini hanya sebesar 3,125 BTC. Dengan lebih dari 95% Bitcoin (BTC) telah ditambang, pendapatan utama penambang kini sangat bergantung pada biaya transaksi yang justru belum mampu menutupi kekurangan dari reward blok yang terus menipis.

Shyu menilai, ekosistem biaya transaksi yang diharapkan menjadi penopang utama justru tidak pernah benar-benar terwujud. Situasi ini berpotensi memicu efek domino yang berbahaya. Ketika biaya transaksi menurun, banyak penambang yang memilih mematikan mesin mereka karena tidak lagi menguntungkan. Akibatnya, tingkat keamanan jaringan Bitcoin (BTC) ikut menurun, membuka celah bagi potensi serangan.

Jika tren ini terus berlanjut, Shyu memperingatkan adanya risiko spiral kematian yang perlahan namun pasti dapat mengancam eksistensi Bitcoin (BTC) itu sendiri. Data terbaru turut memperkuat kekhawatiran ini. Hashprice, indikator pendapatan penambang per unit daya komputasi, sempat anjlok hingga 18% pada akhir Juni dan kini bertahan di kisaran $30 per PH/s.

Kondisi ini menambah tekanan pada para penambang yang sudah menghadapi tantangan berat akibat reward blok yang semakin kecil. Shyu menilai, mimpi Bitcoin (BTC) sebagai uang kedaulatan bisa jadi terlalu idealis dan bahkan berbahaya jika masalah insentif ini tidak segera diatasi.

Ancaman Komputasi Kuantum, Bom Waktu Kedua yang Mengintai Kriptografi Bitcoin (BTC)

Selain masalah insentif penambang, Shyu juga menyoroti kemajuan pesat di bidang komputasi kuantum sebagai ancaman serius berikutnya. Komputer kuantum yang cukup kuat berpotensi membobol sistem kriptografi Bitcoin (BTC) dengan menggunakan algoritma Shor, sehingga dapat mengungkap kunci privat dari alamat publik yang sudah terekspos.

Beberapa ahli memperkirakan “Q-Day” atau hari di mana komputer kuantum mampu menyerang Bitcoin (BTC) bisa terjadi sekitar tahun 2035, namun riset terbaru bahkan mempercepat prediksi tersebut ke tahun 2030. Shyu mengaku terkejut karena hingga kini belum ada rencana matang dari komunitas pengembang Bitcoin (BTC) untuk mengantisipasi ancaman ini.

Ia menilai, koordinasi untuk migrasi jaringan secara besar-besaran sangat sulit dilakukan, apalagi dengan nilai Bitcoin (BTC) yang mencapai ratusan miliar dolar. Meski demikian, beberapa proposal mulai bermunculan, seperti BIP-361 yang mengusulkan soft fork tiga tahap untuk membekukan koin sebelum migrasi ke alamat yang lebih aman. Selain itu, Starkware juga menawarkan skema transaksi quantum-safe berbasis aturan yang sudah ada. Namun, tidak semua pihak sepakat dengan tingkat ancaman ini.

Sejumlah akademisi menyimpulkan bahwa menyerang proses mining Bitcoin (BTC) dengan komputer kuantum akan membutuhkan energi sebesar satu bintang. Meski demikian, Shyu tetap menilai kurangnya kesiapan komunitas sebagai celah besar yang bisa dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab di masa depan.

Pengalaman Pribadi Shyu dan Pelajaran Berharga bagi Investor Kripto

Patrick Shyu tidak hanya berbicara berdasarkan teori, namun juga pengalaman pahit yang dialaminya sendiri. Ia mengaku telah menjual seluruh kepemilikan Bitcoin (BTC) setelah mengalami kerugian besar akibat penggunaan leverage yang berlebihan. Ketika harga Bitcoin (BTC) anjlok sekitar 50% dari puncaknya di Oktober 2025 yang hampir mencapai $126.000, posisi leverage miliknya langsung terlikuidasi secara otomatis.

Pengalaman ini menjadi peringatan keras bagi para investor untuk lebih berhati-hati dalam mengelola risiko di pasar kripto yang sangat volatil. Shyu menekankan bahwa risiko di dunia kripto tidak hanya berasal dari fluktuasi harga, namun juga dari aspek teknis dan fundamental jaringan. Ia berharap para investor dan pengembang dapat lebih waspada terhadap dua bom waktu yang telah ia paparkan.

Menurutnya, masa depan Bitcoin (BTC) sangat bergantung pada kemampuan komunitas untuk beradaptasi dan mengantisipasi perubahan teknologi. Jika tidak, bukan tidak mungkin Bitcoin (BTC) akan menghadapi tantangan eksistensial yang jauh lebih besar di masa mendatang.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoinusdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.

Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

*Disclaimer:

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi

Latest News

See All News ->

© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.