Definisi Nilai Residu dan Rumus Nilai Residu

Updated
December 1, 2023
• Waktu baca 5 Menit
Gambar Definisi Nilai Residu dan Rumus Nilai Residu
Reading Time: 5 minutes

Nilai residu atau disebut juga nilai sisa adalah perkiraan nilai aset tetap pada akhir usia pakai. Penggunaan nilai residu pada satu jenis industri  berbeda dengan industri lainnya. Misalkan pada industri penyewaan atau leasing, nilai residu digunakan oleh penyewa sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi besaran biaya yang harus dibayar oleh penyewa. Sedangkan pada industri dengan penggunaan umum, semakin panjang usia pakai atau masa sewa, semakin kecil nilai residu yang dimiliki.

Nilai residu memiliki banyak manfaat bagi manajemen perusahaan, calon investor, dan pihak lainnya. Dengan mengetahui nilai residu, pemegang kepentingan dapat mengambil keputusan yang tepat saat memasuki akhir usia pakai pada suatu aset. Melalui artikel ini, Pintu akan menjelaskan apa itu nilai residu, apa saja manfaatnya, hingga bagaimana cara menghitungnya. Simak penjelasannya di bawah ini!

Apa itu Nilai Residu?

Dalam akuntansi, nilai residu adalah acuan pada nilai aset yang tersisa setelah disusutkan sepenuhnya. Nilai residu suatu aset harus diperiksa setidaknya setahun sekali pada saat tutup buku akuntansi. Jika estimasi nilai residu berubah saat proses pemeriksaan nilainya, perubahan tersebut harus dicatat sebagai perubahan estimasi akuntansi.

Nilai residu adalah hal yang sulit diramalkan secara tepat untuk perusahaan yang membeli aset tetap, seperti mesin dan peralatan. Semakin mahal nilai suatu aset, semakin sulit untuk menentukan nilai residu karena sulit untuk mengetahui berapa banyak keuntungan yang didapat saat menggunakan aset dalam beberapa tahun.

Selain itu, aset berupa teknologi atau perangkat lunak dapat kehilangan nilai dengan sangat cepat karena mengalami keusangan mode. Akibatnya, beberapa perusahaan membeli asuransi nilai residu untuk melindungi aset terdepresiasi terlalu besar dari nilai yang diperkirakan sebelumnya.

Nilai residu suatu aset bergantung pada berapa pendapatan yang diharapkan oleh perusahaan pada akhir usia pakainya. Industri pada bidang yang berbeda menggunakan penilaian yang berbeda dalam menentukan nilai residu suatu aset. Nilai residu adalah faktor yang akan mempengaruhi jumlah total yang nilai dapat disusutkan yang digunakan perusahaan dalam menentukan jadwal penyusutan. Kisaran yang baik pada nilai residu adalah pada angka 55% -65% dari harga aset semula.

Baca juga: Apa itu Pengeluaran Kas? Fungsi dan Jenis-Jenisnya

Bagaimana Cara Menghitung Nilai Residu?

Rumus nilai residu yang digunakan pada setiap industri berbeda satu sama lain, tetapi pada umumnya memiliki kesamaan yakni nilai yang tersisa pada sebuah aset sebelum dijual. Dalam aktivitas penganggaran modal, nilai residu mencerminkan seberapa banyak perusahaan dapat menjual aset setelah perusahaan selesai menggunakannya atau setelah pendapatan yang dihasilkan aset tidak lagi dapat diprediksi secara akurat.

Untuk istilah investasi, nilai residu dihitung sebagai selisih antara keuntungan dan biaya modal. Langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memperkirakan nilai residu pada suatu aset adalah:

  • Menghitung harga asli aset
  • Tentukan nilai terdepresiasi
  • Pilih metode untuk menghitung depresiasi (metode garis lurus, metode saldo menurun ganda, metode jumlah angka tahun, dan metode unit produksi)
  • Membuat Jadwal Penyusutan
  • Entri Jurnal Depresiasi

Bagaimana Menentukan Persentase Residu Pada Depresiasi?

Nilai residu adalah matriks yang juga digunakan dalam perhitungan penyusutan atau amortisasi perusahaan. Misalkan sebuah perusahaan memperoleh perangkat lunak baru untuk melacak pesanan penjualan secara internal. Perangkat lunak ini memiliki nilai awal Rp10.000.000 dengan usia pakai lima tahun. Untuk menghitung amortisasi tahunan untuk tujuan akuntansi, pemilik membutuhkan nilai residu perangkat lunak tersebut, atau berapa nilai jualnya pada usia akhir pakai selama lima tahun.

Asumsikan nilai ini nol dan perusahaan menggunakan metode garis lurus untuk penyusutan perangkat lunak. Oleh karena itu, perusahaan harus mengurangi nilai residu nol dari nilai awal Rp10.000.000 dan membaginya dengan masa pakai selama lima tahun untuk mencapai nilai penyusutan tahunan, yaitu Rp2.000.000. Jika nilai residu adalah Rp2.000.000, maka nilai penyusutan tahunan akan menjadi Rp1.600.000 (Rp10.000.000 – Rp2.000.000 dibagi 5 tahun).

Untuk aset berwujud, seperti mobil, komputer, dan mesin, pemilik bisnis akan menggunakan perhitungan yang sama, hanya saja alih-alih mengamortisasi aset selama masa manfaatnya, ia akan mem depresiasinya. Harga aset dikurangi nilai residu juga disebut sebagai  nilai yang dapat disusutkan.

Contoh Perhitungan Nilai Residu

nilai residu adalah

Jika kamu membeli mobil selama tiga tahun secara kredit, nilai residu yang dimiliki mobil tersebut adalah berapa harga jualnya setelah digunakan selama tiga tahun. Nilai residu adalah nilai yang ditentukan oleh bank atau lembaga keuangan yang memberi pinjaman kredit. Seiring dengan tingkat bunga dan pajak, nilai residu adalah faktor penting dalam menentukan pembayaran cicilan kredit bulanan mobil.

Contoh lainnya penerapan nilai residu adalah pada perusahaan yang memiliki aset tetap dengan usia pakai tujuh tahun. Nilai aset tersebut pada akhir usia pakai adalah nilai residu, juga dikenal sebagai nilai sisa. Nilai ini ditentukan oleh juru lelang atau hasil persetujuan dengan pihak pembeli. Untuk mengurangi risiko nilai aset yang menyusut, perusahaan dapat membeli asuransi nilai residu untuk menjamin nilai aset tetap tinggi  pada akhir masa manfaatnya.

Dalam menentukan nilai residu tidak ada rumus pasti yang dapat digunakan karena nilai residu adalah perkiraan nilai saat aset tersebut tidak lagi digunakan. Contohnya saja ketika kamu membeli mobil berusia tiga tahun seharga Rp100.000.000, itu berarti mobil tersebut memiliki nilai residu sebesar Rp100.000.000. Padahal harga awal mobil tersebut adalah Rp160.000.000, itu berarti nilai mobil tersebut telah menyusut sebanyak Rp60.000.000 setelah tiga tahun masa pakai. Angka tersebut sejatinya hanya perkiraan dan persetujuan kedua pihak yang melakukan transaksi mobil bekas.

Karena mobil yang kamu beli tadi digunakan selama tiga tahun, maka setiap tahunnya mobil tersebut mengalami penyusutan sebesar Rp20.000.000. Perhitungan ini disebut metode garis lurus atau metode straight line.

Baca juga: Pengertian Akuntansi Keuangan dan Tujuan Utamanya

Dampak Nilai Residu pada Akuntansi

Nilai residu berfungsi untuk melakukan pelacakan arus kas perusahaan dengan mengikuti jangka waktu yang digunakan untuk prediksi. Dengan begitu arus kas akan dikurangi untuk menentukan nilai aktiva bersih yang dimiliki. Sehingga nilai residu menjadi elemen akuntansi yang penting saat perusahaan ingin menjual aset, saham, atau melikuidasi perusahaan

Definisi Nilai Residu, Scrap Value, dan Salvage Value

Nilai residu adalah perkiraan nilai yang tersisa pada suatu aset disaat akhir masa pakainya. Nilai residu akan mempengaruhi jumlah total yang dapat disusutkan yang digunakan perusahaan dalam jadwal penyusutannya.

Salvage value adalah perkiraan nilai buku suatu aset setelah penyusutan selesai, berdasarkan apa yang diharapkan akan diterima perusahaan sebagai imbalan atas aset tersebut pada akhir masa manfaatnya. Perusahaan dapat mendepresiasi aset mereka sepenuhnya menjadi nol karena nilai residunya sangat minim.

Scrap value adalah nilai aset fisik ketika aset itu sendiri dianggap tidak lagi dapat digunakan. Setelah aset melalui masa manfaatnya, aset tersebut dapat dibuang atau dihapus dari buku akuntansi. Scrap value juga dikenal sebagai nilai putus.

Kesimpulan

Nilai residu adalah nilai sisa yang dimiliki suatu aset pada akhir masa manfaatnya.

Bidang industri yang berbeda menggunakan metode penghitungan nilai residu secara berbeda.

Nilai residu berpengaruh pada total nilai yang dapat disusutkan untuk digunakan sebagai acuan oleh perusahaan dalam jadwal penyusutannya.

Sebagai pemilik bisnis, kamu dapat berinvestasi dalam aset lain seperti kripto untuk melakukan diversifikasi aset. Sehingga aset yang kamu miliki akan terus menunjukkan performa yang baik disaat aset yang lain mengalami penurunan performa.

Kamu bisa gunakan Pintu sebagai aplikasi investasi kripto dengan puluhan jenis aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, Tether, dan kripto unggulan lainnya. Hanya dengan Rp11.000 kamu sudah bisa trading kripto lewat aplikasi Pintu.

Referensi: 

Alicia Touvila, Residual Value, diakses tanggal 15 Juni 2022 

Accounting tools, Residual value definition, diakses tanggal 15 Juni 2022

Go cardless, Residual Value: What is it and how to calculate it, diakses tanggal 15 Juni 2022

Bagikan

Artikel Terkait

Artikel Blog Terbaru

Lihat Semua Artikel ->