Pintu Blog
/
Investasi 101
/
Short Selling: Pengertian, Contoh, dan Aturannya di Indonesia

Short Selling: Pengertian, Contoh, dan Aturannya di Indonesia

September 6, 2021
Combined Shape 2
3 Menit
Bagikan
Gambar Short Selling: Pengertian, Contoh, dan Aturannya di Indonesia
Reading Time: 3 minutes

Setiap trader memiliki strateginya sendiri untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan di dunia trading. Salah satu strategi yang banyak digunakan oleh trader saham adalah short selling. Strategi ini dikenal ampuh namun juga bisa berisiko tinggi jika tidak dilakukan secara berhati-hati. Apa itu short selling dan bagaimana cara menerapkan strategi tersebut dalam trading? Simak pengertian short selling, manfaat, dan contoh lengkapnya melalui artikel berikut ini!

Apa itu Short Selling?

perbedaan margin trading dan short selling

Pada dasarnya, short selling adalah strategi investasi di mana investor meminjam sekuritas dan menjualnya di pasar, dengan rencana membeli kembali sekuritas tersebut ketika harganya turun dan mengembalikannya dengan nilai yang lebih rendah.

Strategi investasi ini dilandaskan pada spekulasi atas penurunan harga suatu sekuritas dan biasanya hanya dilakukan oleh trader atau investor yang sudah berpengalaman.

Di Indonesia, short selling juga dikenal dengan istilah jual kosong.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Cryptocurrency Sebagai Aset Investasi Menurut CEO Ternama Dunia

Apa Manfaat Short Selling?

Setelah memahami pengertian short selling, kamu mungkin bertanya-tanya, “Kenapa trader melakukan short selling?” Berikut beberapa alasannya.

  • Memungkinkan investor mendapatkan keuntungan atas penjualan aset, bahkan di saat pasar sedang tidak dalam kondisi baik.
  • Memungkinkan investor menggunakan leverage untuk memperoleh lebih banyak peluang investasi dan keuntungan.

Contoh Short Selling

contoh short selling adalah

Lalu, bagaimana kira-kira cara kerja short selling? Simak contohnya di bawah ini.

Misalkan, terdapat seorang investor yang meminjam 1.000 saham dengan harga Rp25.000 per lembar atau seharga Rp25.000.000. Ia berspekulasi bahwa harga saham tersebut suatu saat nanti akan turun sebesar 20% atau ke angka Rp 20.000 per lembar

Setelah mendapatkan 1.000 saham senilai Rp25.000 per lembar, ia langsung menjual saham tersebut dan memperoleh Rp25.000.000 (asumsi tidak ada biaya lainnya). Namun, ia masih memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan sekuritas yang ia pinjam tersebut.

Beberapa lama kemudian, harga saham benar turun ke angka Rp 20.000 per lembar dan ia langsung membeli 1.000 saham dengan total Rp20.000.000. Saham yang memiliki harga lebih murah 20% itu pun ia kembalikan ke broker atau pihak ketiga lain.

Dengan begitu, ia memperoleh keuntungan sebesar

= harga jual saham pinjaman – harga beli saham ketika turun 20%

= Rp25.000.000 – Rp20.000.000

= Rp5.000.000.

Kesimpulannya, investor tersebut mendapatkan keuntungan sebesar Rp5.000.000 dengan melakukan short selling tersebut.

Peraturan Short Selling di Indonesia

Setelah membaca pengertian short selling dan contohnya, ini pertanyaan utamanya, “Apakah praktik short selling boleh dilakukan di Indonesia?”

Nyatanya, transaksi short selling memang sempat beberapa kali  dilarang oleh otoritas bursa yaitu tahun 2008, 2015, dan terakhir pada 2 Maret 2020 lalu. Alasan pelarangan atau pemberhentian tersebut yaitu untuk menahan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG.

Namun, kini sudah ada sinyal bahwa short selling akan kembali diperbolehkan di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan Laksono Widodo selaku Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa yang menyebutkan bahwa transaksi short selling memang belum dibuka lagi, kemungkinan hingga darurat pandemi di Indonesia dianggap selesai.

Perbedaan Margin Trading dan Short Selling

Ada beberapa kesamaan antara short selling dengan margin trading karena keduanya melibatkan proses peminjaman untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pada dasarnya, berikut adalah perbedaan margin trading dan short selling.

Bentuk Pinjaman

Short selling berarti meminjam sekuritas dari broker atau pihak ketiga lainnya, sedangkan margin trading merupakan aktivitas meminjam uang dari broker.

Cara Memperoleh Keuntungan

Keuntungan dari transaksi short selling ketika harga saham turun, sedangkan keuntungan yang didapat dari margin trading adalah ketika harga saham atau aset investasi yang dimilikinya naik.

Tingkat Risiko

Risiko short selling relatif lebih tinggi daripada margin trading karena ketika mengalami kerugian saat melakukan short selling, kamu bisa kehilangan aset tak terbatas, sedangkan ketika melakukan transaksi margin trading, kamu hanya akan kehilangan modal awalmu saja.

Itulah pembahasan terkait pengertian short selling, contohnya, hingga perbedaannya dengan margin trading.

Untuk kamu yang tertarik melakukan diversifikasi investasi ke jenis aset lain, crypto mungkin bisa menjadi salah satu pilihan. Bitcoin sebagai salah satu aset crypto dengan kapitalisasi pasar terbesar pun mengalami pertumbuhan harga yang positif tiap tahunnya. Per 3 September lalu, harga bitcoin pun meningkat hingga 350% dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk kamu yang tertarik melakukan jual beli crypto, download aplikasi Pintu sekarang! Investasi dan trading crypto bisa kamu mulai dari Rp11.000 saja, lho!

Referensi:

Adam Hayes. Short selling. Diakses tanggal: 31-08-2021

Brian Beers. Basics Short Selling. Diakses tanggal: 31-08-2021

Jeremy Bowman. What is Margin & Should You Invest on It? Diakses tanggal: 31-08-2021

Syahrizal Sidik. Soal Short Selling, Ini Penjelasan BEI Kapan Boleh Dimulai. Diakses tanggal: 31-08-2021

Author
Cornelia Lyman
Bagikan
Artikel Terkait
Mulai Investasi Sekarang
Daftar dalam hitungan menit, langsung mulai investasi.
Alamat Perusahaan
Kantor Pusat
The City Tower Lantai 27 Jalan M.H Thamrin No.81, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10310 Indonesia
Operasional & Customer Support
Rukan Permata Senayan Blok H1-H2 Jalan Tentara Pelajar, Jakarta Selatan DKI Jakarta 12210 Indonesia
Terdaftar dan Diawasi
Foundations/Reg-license/ISO27001
© 2021 PT. Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
Perdagangan aset crypto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Kinerja pada masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, expected return dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan illustrasi. Semua keputusan perdagangan aset crypto merupakan keputusan independen oleh pengguna.