Jakarta, Pintu News – Proposal crypto bill di Amerika Serikat, yang dirancang untuk memberikan kerangka regulasi pada pasar cryptocurrency yang berkembang pesat, kini menghadapi tekanan signifikan karena pertikaian terkait imbal hasil pada stablecoin.
Argumen yang berkembang menunjukkan bahwa jika legislator memilih untuk membatasi atau melarang hasil dari stablecoin, sebagian tokoh industri lebih memilih agar RUU tersebut gagal, memperlihatkan pergeseran prioritas dalam perdebatan hukum dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi masa depan aset digital.
Diskusi krusial dalam crypto bill berfokus pada apakah hasil yang diperoleh dari stablecoin seharusnya diizinkan atau dibatasi oleh undang-undang baru. Laporan terbaru menunjukkan bahwa legislator semakin terbuka terhadap permintaan dari sektor keuangan tradisional (TradFi) untuk menghapus atau membatasi ketentuan stablecoin yield dalam RUU tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri bahwa pembatasan semacam itu bisa merugikan insentif pasar dan pertumbuhan DeFi secara keseluruhan.
CEO Galaxy Mike Novogratz mengkritik tren ini sebagai “sad state”, menyatakan bahwa fokus legislatif tampak lebih memihak margin bank dibandingkan perlindungan konsumen dan inovasi pasar. Komentar tersebut mencerminkan ketidaksepakatan tajam antara pemangku kepentingan crypto dan otoritas hukum atas jalannya regulasi.
Nic Carter, partner di firma modal ventura crypto Castle Island Ventures, menegaskan bahwa jika legislator bersikeras pada pembatasan hasil stablecoin, sektor ini mungkin akan lebih baik tanpa RUU tersebut. Pendapat ini mencerminkan kekhawatiran bahwa penghapusan insentif yield dapat mempersempit ruang inovasi dan menghambat adopsi teknologi blockchain yang lebih luas.
Beberapa tokoh lain dalam komunitas kripto memandang pembatasan tersebut sebagai pelemahan terhadap daya tarik stablecoin bagi investor ritel dan institusional, terutama dalam konteks persaingan global dengan yurisdiksi yang lebih ramah terhadap aset digital. Kritikus berargumen bahwa hal itu bisa mendorong modal keluar dari pasar AS.
Baca Juga: Prediksi Harga XRP 2026: Apakah Investasi Ini Masih Menjanjikan?
Crypto bill sedang dijadwalkan untuk markup oleh dua komite utama pada tanggal 15 Januari: Komite Perbankan Senat (Senate Banking Committee) dan Komite Pertanian (Senate Agriculture Committee). Komite Perbankan akan memfokuskan diskusi pada wewenang SEC dan isu-isu seperti hasil stablecoin dan ketentuan DeFi, sedangkan Komite Pertanian akan meninjau peran CFTC.
Untuk melewati tahapan ini dan maju ke pemungutan suara di Senat penuh, RUU tersebut membutuhkan dukungan bipartisan yang kuat, termasuk setidaknya 60 suara di Komite Perbankan. Kegagalan dalam markup dapat menunda atau menggagalkan upaya legislatif untuk tahun 2026, karena jadwal kongres yang padat dan prioritas lain.
Potensi larangan atau pembatasan hasil stablecoin dipandang bisa memengaruhi dinamika pasar cryptocurrency secara luas. Stablecoin selama ini memainkan peran penting dalam menyediakan likuiditas dan jalur masuk/keluaran modal dalam ekosistem crypto, termasuk untuk aset seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan altcoin lain. Kekhawatiran muncul bahwa pembatasan hasil dapat mengurangi daya tarik aset tersebut bagi investor.
Selain itu, perubahan aturan ini dapat mendorong investor untuk mencari peluang di luar AS, mempercepat pergeseran modal institusional ke pasar yang lebih ramah terhadap kebijakan DeFi dan aset digital.
Pendukung pembatasan hasil stablecoin sering kali menyoroti risiko konsumen dan potensi kerugian pasar yang tidak diatur. Dari perspektif tradisional, hasil tinggi dari stablecoin dapat dilihat sebagai insentif spekulatif yang kurang transparan dibanding instrumen pasar uang konvensional.
Namun, penentang pembatasan tersebut menilai bahwa insentif pasar adalah bagian integral dari inovasi keuangan digital. Mereka mengklaim bahwa melemahkan fitur ini dapat menghambat adopsi dan perkembangan teknologi dalam pasar global yang sangat kompetitif.
Beberapa pihak dalam pertemuan legislatif tetap optimis bahwa crypto bill dapat melewati hambatan ini dengan kompromi yang seimbang. Misalnya, pengacara dari Consensys, Bill Hughes, menyatakan bahwa meskipun terdapat pitfalls, proses negosiasi telah membawa RUU lebih dekat daripada sebelumnya untuk mencapai konsensus.
Pandangan semacam ini menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk pengaturan yang mendukung perlindungan konsumen tanpa menghancurkan insentif pasar yang dianggap penting oleh komunitas crypto.
Jika RUU gagal di Komite Perbankan pada 15 Januari, itu tidak akan langsung menghentikan perkembangan cryptocurrency di AS, tetapi kemungkinan akan memperburuk sentimen pasar dan menunda upaya legislasi selanjutnya. Kegagalan tersebut juga bisa memberi sinyal bahwa pendekatan legislasi yang lebih inklusif terhadap pasar digital diperlukan untuk menemukan keseimbangan antara inovasi dan perlindungan.
Perdebatan ini adalah contoh nyata dari ketegangan yang terus berlangsung antara otoritas hukum dan perkembangan teknologi baru seperti DeFi, stablecoin, dan layanan keuangan digital yang lebih luas.
Baca Juga: Prediksi Harga Raydium 2026: Potensi Kenaikan Signifikan di Ekosistem Solana
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin hari ini, harga Solana hari ini, Pepe coin dan harga aset crypto lainnya lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi kripto Pintu melalui Google Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi:
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.