Jakarta, Pintu News – Harga dan peredaran Ripple (XRP) kembali menjadi sorotan setelah analisis data on-chain mengungkap skala distribusi token sejak peluncurannya. Sejak diperkenalkan pada 2012, sekitar 58,515 miliar XRP diketahui telah dijual atau didistribusikan oleh Ripple Labs dan para eksekutifnya.
Temuan ini memicu diskusi baru di kalangan pelaku crypto dan cryptocurrency mengenai transparansi suplai serta dampaknya terhadap pasar. Meski demikian, XRP tetap menjadi salah satu aset digital terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.
Ripple (XRP) diluncurkan pada 2012 dengan suplai tetap sebesar 100 miliar token yang seluruhnya dicetak sekaligus di XRP Ledger. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 miliar XRP dialokasikan ke perusahaan yang kemudian dikenal sebagai Ripple Labs, sementara 20 miliar sisanya diberikan kepada para pendiri dan partisipan awal.
Tidak seperti Bitcoin (BTC) yang menggunakan mekanisme mining, XRP tidak memiliki proses penambangan maupun inflasi. Struktur ini menjadikan distribusi awal sebagai faktor kunci dalam analisis ekosistemnya.
Tokoh-tokoh utama di balik peluncuran XRP antara lain Jed McCaleb, Arthur Britto, dan David Schwartz. Ketiganya memainkan peran penting dalam pengembangan teknologi dan arah awal jaringan. Seiring waktu, kepemilikan token mereka mengalami perubahan signifikan akibat penjualan dan distribusi. Proses ini berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan ekosistem dan meningkatnya adopsi crypto secara global.
Baca juga: Vitalik Buterin: Media Sosial Crypto Gagal Berkembang, Dampak Ban X Jadi Alarm Keras?
Berdasarkan perbandingan antara alokasi awal dan kepemilikan saat ini, total XRP yang masih berada di bawah kendali Ripple dan eksekutifnya tercatat sekitar 41,485 miliar token. Artinya, sekitar 58,515 miliar XRP telah dilepas ke pasar atau didistribusikan selama lebih dari 13 tahun. Dari jumlah yang masih tersisa, Ripple Labs memegang sekitar 37,685 miliar XRP. Kepemilikan ini terbagi antara dompet yang dapat diakses langsung dan token yang dikunci dalam sistem escrow.
Data pelacakan dompet menunjukkan rincian kepemilikan para eksekutif utama. Chris Larsen, chairman Ripple, diketahui menguasai sekitar 2,5 miliar XRP yang tersebar di delapan dompet. Arthur Britto mengendalikan sekitar 1,3 miliar XRP di tujuh dompet berbeda. Sementara itu, David Schwartz memiliki jumlah yang jauh lebih kecil, dengan kepemilikan historis tertinggi sekitar 26 juta XRP.
Baca juga: Harga 1 Pi Network (PI) di Indonesia Hari Ini (28/1/26)
Pada 2017, Ripple memperkenalkan sistem escrow untuk meningkatkan prediktabilitas suplai XRP. Melalui mekanisme ini, 55 miliar XRP dikunci dengan ketentuan maksimal 1 miliar XRP dapat dilepas setiap bulan. Token yang tidak digunakan akan dikembalikan ke escrow, sehingga menekan potensi banjir suplai di pasar. Hingga 2025, sekitar 34,185 miliar XRP masih tercatat terkunci dalam sistem ini.
Menariknya, XRP telah diperdagangkan sejak Agustus 2013 dan mengalami apresiasi harga meskipun miliaran token masuk ke sirkulasi. Distribusi token berlangsung bersamaan dengan berbagai siklus pasar crypto, mulai dari bull market hingga koreksi tajam. Selain itu, Ripple juga menghadapi tantangan hukum, termasuk gugatan dari otoritas Amerika Serikat terkait status regulasi XRP. Faktor-faktor ini menjadikan XRP sebagai salah satu cryptocurrency yang paling banyak dianalisis dari sisi fundamental dan regulasi.
Sebagai penutup, temuan mengenai penjualan 58,5 miliar XRP memberikan gambaran lebih jelas tentang dinamika suplai Ripple sejak awal. Meski angka tersebut terlihat besar, distribusi berlangsung dalam jangka panjang dan disertai mekanisme pengendalian seperti escrow. Bagi investor dan pelaku crypto, transparansi data on-chain menjadi alat penting untuk menilai risiko dan potensi aset. Ke depan, arah harga dan adopsi XRP akan tetap dipengaruhi oleh kombinasi suplai, utilitas, dan perkembangan regulasi global.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi:
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.