Jakarta, Pintu News – Januari 2026 menjadi periode kelam bagi industri crypto dan cryptocurrency global. Gelombang kejahatan siber meningkat tajam, bukan hanya dari sisi jumlah kasus, tetapi juga dari skala kerugian yang ditimbulkan. Data terbaru menunjukkan bahwa dalam satu bulan saja, kerugian akibat pencurian crypto mendekati USD 400,3 juta atau sekitar Rp6,72 triliun, menandai salah satu awal tahun terburuk dalam sejarah keamanan aset digital.
Sepanjang Januari, perusahaan keamanan blockchain CertiK mencatat sedikitnya 40 insiden pencurian dan eksploitasi. Total kerugian awal mencapai USD 370,3 juta atau sekitar Rp6,21 triliun, sebelum bertambah akibat insiden besar di penghujung bulan. Angka ini mencerminkan eskalasi risiko yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Kerugian tersebut melonjak setelah eksploitasi terhadap Step Finance, sebuah platform berbasis Solana (SOL), pada 31 Januari. Insiden ini menambah sekitar USD 30 juta atau Rp503,6 miliar ke total kerugian bulanan. Akumulasi kasus ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap ekosistem cryptocurrency bersifat sistemik dan berlapis.
Baca Juga: 7 Prediksi Harga Ethereum (ETH) 2026: Target Bullish, Risiko & Proyeksi
Berbeda dengan asumsi umum, Januari 2026 tidak didominasi oleh peretasan teknis yang kompleks. CertiK menilai sebagian besar kerugian justru berasal dari manipulasi psikologis atau rekayasa sosial. Pola ini menandakan pergeseran risiko dari celah kode menuju kelemahan perilaku manusia.
Satu kasus phishing menjadi sorotan utama karena nilainya jauh melampaui insiden lain. Pada 16 Januari, seorang investor dilaporkan kehilangan USD 284 juta atau sekitar Rp4,77 triliun. Angka ini setara dengan sekitar 71% dari total kerugian bulanan, menegaskan betapa destruktifnya satu titik kegagalan pada aspek keamanan pengguna.
Dalam kasus terbesar tersebut, pelaku menyamar sebagai dukungan pelanggan dompet perangkat keras Trezor. Korban tertipu untuk membocorkan frasa pemulihan, meskipun menggunakan perangkat yang secara teknis aman. Setelah akses diperoleh, aset langsung disapu tanpa hambatan berarti.
Aset yang dicuri mencakup 1.459 Bitcoin (BTC) dan sekitar 2,05 juta Litecoin (LTC). Nilai kehilangan yang sangat besar ini membuktikan bahwa keamanan tingkat perangkat keras tidak kebal terhadap serangan berbasis kepercayaan. Fokus keamanan crypto pun semakin bergeser ke edukasi pengguna dan prosedur operasional.
Dampak pencurian tidak berhenti pada hilangnya aset utama. Dana hasil kejahatan dilaporkan diputar secara agresif ke Monero (XMR), sebuah koin privasi yang dirancang untuk menyamarkan jejak transaksi. Perpindahan dana bernilai besar ini terjadi dalam waktu singkat dan menarik perhatian pasar.
Konversi masif ke Monero (XMR) bahkan disebut ikut mendorong kenaikan harga sementara. Fenomena ini menunjukkan bahwa aktivitas kriminal dapat menciptakan distorsi permintaan di pasar cryptocurrency. Di sisi lain, hal ini mempertegas tantangan regulator dalam menelusuri dan memulihkan dana ilegal.
Meski rekayasa sosial mendominasi, kerentanan smart contract tetap menyumbang kerugian signifikan. Truebit dilaporkan kehilangan USD 26,6 juta atau sekitar Rp446,6 miliar akibat celah overflow. Insiden ini menjadi serangan berbasis kode terbesar sepanjang Januari 2026.
Kasus lain juga bermunculan, termasuk Swapnet dengan kerugian USD 13 juta, serta protokol DeFi Saga dan Makina Finance yang masing-masing kehilangan USD 6,2 juta dan USD 4,2 juta. Rangkaian insiden ini menegaskan bahwa risiko crypto datang dari berbagai arah, baik teknis maupun non-teknis.
Catatan Januari 2026 menjadi alarm serius bagi ekosistem crypto dan cryptocurrency. Dominasi satu pencurian senilai Rp4,7 triliun menunjukkan betapa mahalnya dampak kebocoran frasa pemulihan. Di saat yang sama, eksploitasi teknis dan pembobolan dompet treasury memperlihatkan bahwa keamanan harus dipandang secara menyeluruh.
Ke depan, industri dituntut memperkuat edukasi pengguna, tata kelola internal, serta mitigasi teknis yang berkelanjutan. Tanpa pendekatan holistik, risiko kerugian serupa berpotensi terus berulang.
Baca Juga: 7 Prediksi Harga Emas Februari 2026: Kenaikan, Skenario & Faktor Risiko!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.