Jakarta, Pintu News – Pasar cryptocurrency memasuki fase baru seiring perubahan arah pengembangan jaringan utama. Ethereum (ETH) kini mulai mengevaluasi kembali strategi rollup-first yang selama ini menjadi fondasi skalabilitasnya. Langkah ini menandai pergeseran penting dalam ekosistem crypto yang perlu dipahami oleh investor maupun pemula.
Selama beberapa tahun terakhir, Ethereum mengandalkan strategi rollup-first untuk mengatasi keterbatasan skalabilitas. Pendekatan ini menempatkan Layer 2 sebagai solusi utama untuk menurunkan biaya dan meningkatkan kapasitas transaksi. Namun, kondisi jaringan kini mulai berubah seiring peningkatan performa Layer 1.
Peningkatan gas limit dan efisiensi protokol membuat Layer 1 Ethereum mampu memproses lebih banyak transaksi secara langsung. Hal ini mengurangi ketergantungan mutlak pada rollup sebagai solusi skalabilitas. Dalam konteks cryptocurrency, perubahan ini menunjukkan evolusi desain jaringan yang lebih seimbang.
Baca Juga: 7 Dampak Kemenangan Politik Jepang Terhadap Harga BTC & Emas
Layer 1 Ethereum kini menawarkan biaya transaksi yang lebih kompetitif dibandingkan beberapa periode sebelumnya. Penurunan biaya ini membuat penggunaan langsung Layer 1 kembali menarik bagi pengguna dan pengembang aplikasi crypto. Dalam beberapa kasus, transaksi di Layer 1 menjadi lebih efisien tanpa perlu berpindah ke Layer 2.
Bagi investor crypto, peningkatan ini berdampak pada utilitas jaringan secara keseluruhan. Semakin banyak aktivitas yang dapat ditangani Layer 1, semakin kuat fundamental Ethereum sebagai infrastruktur cryptocurrency. Hal ini juga berpotensi memengaruhi distribusi likuiditas di ekosistem.
Salah satu alasan utama evaluasi strategi rollup adalah lambatnya kemajuan desentralisasi di sejumlah jaringan Layer 2. Banyak rollup masih bergantung pada struktur terpusat, yang menimbulkan risiko keamanan dan tata kelola. Kondisi ini menjadi perhatian dalam pengembangan jangka panjang Ethereum.
Dalam ekosistem crypto, desentralisasi merupakan nilai inti yang memengaruhi kepercayaan pengguna. Ketika Layer 2 belum sepenuhnya matang, perannya sebagai perpanjangan Layer 1 menjadi kurang ideal. Hal ini mendorong Ethereum untuk meninjau ulang posisi strategis rollup.
Alih-alih hanya fokus pada skalabilitas, Layer 2 kini dipertimbangkan untuk memiliki peran yang lebih spesifik. Beberapa jaringan Layer 2 diarahkan pada use case tertentu, seperti aplikasi DeFi, gaming, atau privasi. Pendekatan ini menempatkan Layer 2 sebagai produk mandiri, bukan sekadar solusi teknis.
Perubahan ini mencerminkan kematangan ekosistem cryptocurrency. Setiap lapisan jaringan mulai menyesuaikan fungsi berdasarkan kebutuhan pasar. Bagi investor, pemahaman peran baru Layer 2 membantu menilai potensi proyek secara lebih objektif.
Evaluasi strategi rollup-first membawa implikasi penting bagi investor crypto. Dengan Layer 1 yang semakin kuat, biaya dan kompleksitas penggunaan Ethereum dapat berkurang. Hal ini berpotensi meningkatkan adopsi cryptocurrency di kalangan pengguna umum.
Namun, perubahan arsitektur juga berarti dinamika baru dalam ekosistem. Investor pemula perlu memahami bahwa evolusi teknologi sering berjalan bertahap dan tidak selalu berdampak instan pada harga. Pendekatan rasional dan pemahaman fundamental tetap menjadi kunci dalam menavigasi pasar crypto.
Baca Juga: 5 Fakta Robert Kiyosaki Siap Beli Bitcoin Jika Jatuh ke Level Rp101 Juta
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, USDT to IDR dan harga saham Nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.