Jakarta, Pintu News – Menjelang akhir Februari, pasar kripto, khususnya Bitcoin (BTC), tengah berada dalam posisi rentan akibat tekanan dari sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat. Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kini sangat dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi, terutama menjelang pertemuan Federal Reserve pada pertengahan Maret.
Setelah pekan lalu diwarnai data inflasi PCE yang melandai, klaim pengangguran yang tetap rendah di angka 206.000, serta notulen FOMC yang cenderung hati-hati, pelaku pasar masih ragu terkait kecepatan pemangkasan suku bunga. Empat agenda ekonomi utama di pekan terakhir Februari ini diprediksi akan menjadi pemicu volatilitas besar di pasar kripto.

Sejumlah pejabat Federal Reserve dijadwalkan memberikan pidato mulai Senin hingga Rabu, termasuk Gubernur Christopher Waller, Lisa Cook, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee, dan Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic. Setiap pernyataan mereka sangat dinantikan karena dapat mengubah ekspektasi pasar terkait arah kebijakan suku bunga.

Waller dan Bostic dikenal cenderung hawkish, sering menekankan pentingnya kehati-hatian terhadap inflasi dan ketergantungan pada data ekonomi terbaru. Jika mereka kembali menyoroti risiko inflasi atau menyarankan agar pemangkasan suku bunga ditunda, imbal hasil obligasi AS dan nilai dolar bisa menguat, sehingga menekan harga Bitcoin (BTC).
Di sisi lain, jika nada pidato mereka lebih dovish dengan menyoroti perlambatan pertumbuhan ekonomi atau pelemahan pasar tenaga kerja, dolar AS berpotensi melemah dan memicu reli aset berisiko seperti Bitcoin (BTC). Banyaknya jadwal pidato dalam waktu berdekatan juga meningkatkan risiko volatilitas intraday, terutama jika pesan yang disampaikan tidak konsisten.
Indeks Kepercayaan Konsumen dari Conference Board untuk Februari menjadi sorotan setelah pada Januari hanya mencatat angka 84,5, jauh di bawah ekspektasi dan mengindikasikan potensi resesi. Proyeksi untuk Februari sedikit membaik ke level 87,5, namun sentimen masyarakat masih tertekan akibat biaya hidup yang tinggi dan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Data inflasi PCE terbaru menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,7% dan inflasi inti di 3,0%, menandakan tekanan harga masih terasa. Jika data kepercayaan konsumen Februari melampaui 90, narasi konsumen tangguh akan semakin kuat, memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS tidak akan mengalami resesi dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut dapat menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, menguatkan dolar AS, dan memberikan tekanan pada Bitcoin (BTC). Sebaliknya, jika data kepercayaan konsumen kembali turun di bawah 85, hal ini akan menyoroti kerentanan ekonomi dan meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga, yang biasanya menjadi sentimen positif bagi Bitcoin (BTC).
Baca juga: Apa itu Emas Putih?
Sejarah mencatat, kejutan pada data kepercayaan konsumen mampu memicu pergerakan harga Bitcoin (BTC) sebesar 1–2%, terutama jika sejalan dengan tren makroekonomi global. Oleh karena itu, pelaku pasar kripto sangat memperhatikan rilis data ini sebagai indikator utama arah pasar.
Data klaim pengangguran mingguan menjadi indikator tercepat untuk memantau kondisi pasar tenaga kerja AS. Pekan lalu, klaim turun ke 206.000, lebih rendah dari perkiraan dan menandakan pasar tenaga kerja yang masih sangat ketat, sehingga membuat The Fed tetap berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan.
Konsensus untuk pekan ini berada di angka 215.000, dan jika data aktual kembali di bawah 210.000, kekuatan pasar tenaga kerja akan semakin menekan peluang pemangkasan suku bunga. Kondisi ini biasanya berdampak negatif pada Bitcoin (BTC) karena mengurangi likuiditas di pasar aset berisiko.
Baca juga: Apa itu Silver Bullion dan Kenapa Harganya Mahal?
Selain itu, data Indeks Harga Produsen (PPI) untuk Januari juga menjadi perhatian utama karena memberikan gambaran awal tekanan inflasi sebelum sampai ke konsumen. Jika PPI inti melampaui 3,2%, kekhawatiran inflasi akan kembali meningkat dan ekspektasi pemangkasan suku bunga akan menurun, sehingga menekan Bitcoin (BTC) melalui penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil riil.
Namun, jika PPI lebih rendah dari 2,8%, momentum disinflasi akan semakin kuat, mendorong pasar untuk memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter yang lebih agresif dan berpotensi mengangkat harga Bitcoin (BTC) mendekati $70.000. Kombinasi data klaim pengangguran dan PPI di akhir pekan ini diprediksi mampu memicu volatilitas Bitcoin (BTC) hingga 2–3% jika hasilnya jauh dari ekspektasi pasar.
Dengan korelasi Bitcoin (BTC) terhadap Nasdaq dan dolar AS yang berada di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, sentimen makroekonomi tetap menjadi penggerak utama pasar kripto. Jika data ekonomi pekan ini cenderung dovish, Bitcoin (BTC) berpotensi menguat hingga 3–5%. Namun, jika nada hawkish mendominasi, koreksi harga dengan besaran serupa sangat mungkin terjadi. Pada akhirnya, ekspektasi likuiditas dan kebijakan moneter tetap menjadi faktor penentu utama, sementara fundamental kripto masih berada di posisi kedua.
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Referensi
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.