Jakarta, Pintu News – Pasar crypto kembali bergejolak saat Bitcoin (BTC) merebut lagi level psikologis $73.000 di tengah meningkatnya volatilitas geopolitik. Kenaikan ini memicu perdebatan: apakah reli menandai potensi dasar harga, atau sekadar pantulan sementara sebelum koreksi lanjutan. Sejumlah indikator dan komentar analis menyorot peluang sekaligus risiko bagi investor cryptocurrency.
Bitcoin (BTC) dilaporkan melonjak 8,3% dan sempat menembus $72.000 untuk pertama kalinya dalam sebulan. Pergerakan ini terjadi setelah aksi jual yang dipicu eskalasi konflik Timur Tengah, yang menekan aset berisiko termasuk cryptocurrency. Sebelumnya, BTC sempat turun hingga $63.000 sebelum harga stabil dan berangsur pulih.
Jika dikonversi dengan kurs 1 USD = Rp16.919, level-level kunci pergerakan harian ini setara dengan kisaran rupiah berikut. Data ini membantu kamu membaca konteks volatilitas tanpa terpaku pada angka dolar semata. Ringkasnya, BTC bergerak cepat dari area Rp1,07 miliar ke area Rp1,24 miliar dalam waktu singkat.
Baca Juga: Bank Sentral Ceko Kejar Cadangan Emas 100 Ton, Bitcoin (BTC) Masih Jadi Pertimbangan
Sejak awal Februari, Bitcoin (BTC) disebut bergerak dalam rentang $63.000–$73.000 dan berkali-kali kesulitan bertahan di atas $70.000. Pola range ini relevan karena memperlihatkan pasar yang sensitif terhadap katalis eksternal, terutama saat sentimen risk-off meningkat. Dalam kerangka analisis pasar crypto, kondisi range sering menandakan tarik-menarik likuiditas sebelum arah tren berikutnya terbentuk.
Setelah menyentuh $63.000 pada akhir pekan, harga disebut cepat menstabil di area tengah rentang dan kemudian merebut kembali $68.000 di awal pekan. Dari titik terendah tersebut, BTC tercatat naik sekitar 15,87% menuju level tertinggi satu bulan. Namun, reli cepat di dalam range juga sering memunculkan risiko “false breakout” ketika arus berita berubah.
Dalam pembahasan podcast yang dikutip, ada pandangan bahwa ketahanan BTC dan tanda-tanda masuknya likuiditas dapat menjadi “setup” yang baik untuk proses pembentukan dasar harga. Di sisi lain, pasar cryptocurrency kerap membutuhkan konfirmasi berulang karena volatilitas dapat meningkat sewaktu-waktu. Karena itu, data arus modal biasanya dibaca sebagai indikasi, bukan kepastian.
Sorotan lain datang dari kinerja US spot Bitcoin ETF yang disebut mencatat arus masuk $683,34 juta dalam dua hari sejak Senin. Jika dikonversi, nilainya sekitar Rp11.561.429.460.000, yang dapat dibaca sebagai permintaan produk investasi berbasis BTC yang kembali menguat. Meski begitu, arus masuk ETF tetap perlu dibaca bersama kondisi makro, termasuk perubahan leverage institusional.
Seorang analis pasar menyebut situasi masih “terlalu rapuh” untuk mendeklarasikan bottom, karena meningkatnya volatilitas indeks saham dapat memaksa investor institusional menurunkan leverage. Dalam dinamika crypto, pengurangan leverage sering memperbesar ayunan harga dan mempercepat likuidasi saat pasar berbalik arah. Artinya, reli yang terlihat kuat tetap bisa berumur pendek jika kondisi risiko global memburuk.
Komentar lain menyebut sebagian pelaku pasar mungkin mulai melihat crypto sebagai alternatif ketika aset lain terpukul, meski narasi ini tidak selalu stabil. Dalam praktiknya, Bitcoin (BTC) bisa bergantian diperlakukan sebagai aset berisiko atau “lindung nilai” tergantung fase pasar. Karena itu, pembacaan satu hari reli sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya basis keputusan.

Seorang pengamat pasar membandingkan kondisi saat ini dengan awal 2022 ketika perang Rusia–Ukraina memicu volatilitas besar. Saat itu, BTC sempat reli sekitar 40% dalam sebulan, lalu jatuh sekitar 67% menurut perbandingan yang dikutip. Pola analogi ini digunakan untuk menekankan bahwa reli pascagejolak geopolitik bisa berbalik tajam.
Dalam skenario yang disebut, BTC berpotensi reli 20%–25% menuju area $78.000–$80.000 sebelum menghadapi penolakan kuat di area tersebut. Setelah puncak potensial, ada risiko fase turun berikutnya yang bisa membawa koreksi hingga 45% dari puncak reli. Jika angka target $40.000 dipakai sebagai ilustrasi, level tersebut setara sekitar Rp676.760.000.

Analisis lain mengutip indikator MVRV Pricing Bands yang menyatakan BTC secara historis kerap membentuk bottom di antara band 1,0 dan 0,8. Berdasarkan level yang disebut, zona itu berada pada $43.647–$54.559 atau sekitar Rp738.463.593–Rp923.083.721. Angka ini bukan prediksi pasti, tetapi rujukan probabilistik dari perilaku investor cryptocurrency selama beberapa siklus.
Dengan harga sekitar $73.255 (≈ Rp1.239.401.345) pada saat penulisan, BTC masih berada jauh di atas zona MVRV tersebut. Kondisi ini selaras dengan peringatan bahwa pasar mungkin belum menyentuh area yang sering diasosiasikan dengan “capitulation”. Bagi kamu, konteks utamanya adalah memisahkan “rebound kuat” dari “konfirmasi bottom” yang biasanya membutuhkan waktu dan validasi multi-indikator.
Baca Juga: Keperkasaan Dolar AS: De-Dolarisasi Gagal, Mata Uang Dunia Lain Tersingkir!
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.