Jakarta, Pintu News – Bitcoin (BTC) kembali menembus area $70.000, tetapi data arus dana ETF menunjukkan sentimen institusional belum sepenuhnya pulih. Laporan menyorot bahwa pemegang spot Bitcoin ETF secara agregat masih berada di bawah estimasi harga rata-rata realisasi, sehingga sebagian investor ETF masih memegang posisi rugi. Dalam pasar crypto dan cryptocurrency, kondisi “di bawah cost basis” sering membuat minat beli baru melambat karena pelaku pasar menunggu konfirmasi tren.
Di sisi lain, arus keluar (outflow) ETF yang besar juga dapat menambah tekanan jual di pasar spot. Ketika investor menarik dana dari ETF, pengelola dana dapat perlu melakukan penebusan Bitcoin untuk memenuhi redemptions, sehingga suplai BTC ke pasar meningkat. Karena itu, pemulihan harga BTC tidak selalu langsung diikuti pemulihan selera risiko Wall Street.
Menurut laporan yang dikutip, estimasi rata-rata harga realisasi pemegang spot Bitcoin ETF berada di sekitar $79.000. Artinya, secara agregat, investor ETF masuk pada level yang lebih tinggi daripada harga BTC saat koreksi berlangsung.
Dengan kurs 1 USD = Rp16.919, angka $79.000 setara sekitar Rp1.336.601.000. Selisih antara harga pasar dan cost basis ini disebut sebagai “defisit” yang menahan minat beli baru.
Perlu dicatat, metrik ini diposisikan sebagai pendekatan agregat, bukan cerminan setiap individu investor. Namun, sebagai indikator perilaku modal, ia memberi gambaran titik masuk rata-rata dari arus dana ETF.
Baca Juga: Bank Sentral Ceko Kejar Cadangan Emas 100 Ton, Bitcoin (BTC) Masih Jadi Pertimbangan

Laporan menyebut lebih dari $8,9 miliar keluar dari ekosistem spot Bitcoin ETF selama periode penurunan, menjadikannya drawdown terbesar dari rekor puncak nilai yang diinvestasikan. Outflow seperti ini umumnya terjadi ketika investor mengurangi eksposur saat volatilitas meningkat.
Jika dikonversi, $8,9 miliar setara sekitar Rp150.579.100.000.000 atau sekitar Rp150,6 triliun. Dalam konteks crypto, skala arus keluar sebesar ini dapat memengaruhi likuiditas pasar spot.
Dampaknya bukan hanya psikologis, tetapi juga mekanis, karena redemption dapat memaksa penjualan BTC oleh produk ETF.
Tekanan outflow terlihat jelas pada produk terbesar yang disebut dalam laporan, yaitu iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock. Pada puncaknya, IBIT disebut pernah memegang lebih dari 806.000 BTC, lalu mengalami arus keluar kumulatif lebih dari 42.000 BTC.
Ketika porsi sebesar itu ditarik, implikasinya adalah potensi penambahan suplai ke pasar jika penebusan membutuhkan pelepasan BTC. Ini bisa memperkuat tren turun, terutama ketika harga sudah berada dalam fase koreksi.
Bagi kamu yang memantau pasar cryptocurrency, data semacam ini sering dipakai untuk membaca apakah tekanan jual bersumber dari investor ritel, institusi, atau kombinasi keduanya.
Meski masih negatif, laporan menyebut drawdown kumulatif dari puncak membaik dari sekitar −$8,9 miliar menjadi sekitar −$7,8 miliar. Ini mengindikasikan laju outflow melambat, meskipun belum berbalik menjadi inflow bersih.
Konversi ke rupiah menunjukkan pergeseran dari sekitar Rp150,6 triliun menjadi sekitar Rp131.968.200.000.000 atau Rp132,0 triliun. Perbaikan ini dapat dibaca sebagai sinyal stabilisasi awal, bukan pemulihan penuh selera risiko.
Dalam pasar crypto, perubahan laju arus dana sering sama pentingnya dengan arah arus dana itu sendiri.

Secara teknikal, BTC disebut merebut kembali moving average 50-periode dan menguji moving average 100-periode pada grafik 4 jam. Pergerakan ini memberi sinyal perbaikan momentum jangka pendek setelah berminggu-minggu konsolidasi dan pola lower highs.
Namun BTC masih berada di bawah moving average 200-periode yang disebut berada di area pertengahan $70.000-an. Level ini diposisikan sebagai resistensi kunci untuk mengonfirmasi pembalikan tren yang lebih kuat.
Intinya, kenaikan di atas $70.000 memperbaiki struktur jangka pendek, tetapi belum cukup untuk menghapus kehati-hatian institusional yang tercermin dari data ETF.
Laporan menekankan bahwa bertahan di atas $69.000 dinilai krusial untuk menjaga momentum. Jika level tersebut berubah menjadi support, BTC berpotensi menguji area $73.000–$75.000.
Sebaliknya, jika gagal bertahan di atas $69.000, harga berisiko kembali ke area konsolidasi $66.000–$67.000. Dengan kurs 1 USD = Rp16.919, kisaran level ini setara sekitar Rp1,12 miliar hingga Rp1,27 miliar.
Bagi kamu yang ingin membaca pasar crypto secara praktis, poinnya adalah menggabungkan data ETF (arus dana dan cost basis) dengan level teknikal jangka pendek untuk menilai apakah reli memiliki dukungan struktural.
Baca Juga: Lonjakan Penarikan Crypto 700% di Iran: Bitcoin Jadi Jalur Pelarian Finansial Saat Krisis
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin (BTC) dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.