7 Alasan Bitcoin (BTC) Bisa Turun ke Rp1,17 Miliar & Inflasi AS Meningkat karena Harga Minyak Naik

Updated
March 12, 2026
Share

Jakarta, Pintu News – Pasar cryptocurrency kembali menunjukkan dinamika kuat menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) karena rebound tajam harga minyak bisa meningkatkan tekanan inflasi. Menurut analis dan data prediksi kalangan Wall Street serta pasar prediksi Kalshi, Bitcoin (BTC) terlihat berpotensi terkoreksi mendekati US$65.000 (sekitar Rp1,17 miliar) jika data Consumer Price Index (CPI) AS keluar lebih tinggi dari ekspektasi. Investor perlu memahami hubungan antara inflasi, harga minyak, dan pergerakan harga Bitcoin untuk mengantisipasi volatilitas pasar yang sedang berlangsung di 2026.

1. Prediksi Inflasi AS Bisa Lebih Tinggi karena Harga Minyak Naik

Analisis risiko pasar mengindikasikan bahwa rebound harga minyak setelah sebelumnya turun signifikan dapat mendorong inflasi AS lebih tinggi. Wall Street bersama pasar prediksi Kalshi memasang ekspektasi CPI bulanan naik 0,3%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya, sementara inflasi tahunan diperkirakan stabil sekitar 2,4–2,5%. Kenaikan harga energi cenderung menekan biaya hidup, sehingga memicu kenaikan angka inflasi yang berdampak luas ke pasar finansial termasuk crypto.

Baca Juga: Stok Minyak Indonesia Berapa Hari? Ini Fakta Cadangan BBM RI dan Tantangannya

2. Bitcoin (BTC) Diprediksi Tergelincir di Bawah US$69.000

Menjelang rilis data CPI AS, harga Bitcoin mengalami tekanan jual dan turun lebih dari 2%, diperdagangkan di bawah level US$69.500 pada awal sesi perdagangan. Data opsi pasar juga menunjukkan ekspektasi bahwa BTC bisa menjatuh di bawah level US$69.000 dalam beberapa hari jika inflasi AS benar‑benar lebih panas dari ekspektasi. Tekanan ini memperlihatkan bahwa Bitcoin sangat sensitif terhadap sentimen makro ekonomi.

3. Penguatan Harga Minyak Meningkatkan Risiko Inflasi

Harga minyak yang kembali rebound ikut menjadi faktor penting yang menopang ekspektasi inflasi AS. Harga minyak yang naik mengangkat biaya energi dan transportasi dalam ekonomi global, yang pada gilirannya memberi tekanan ke angka inflasi. Efek ini dapat memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga atau penundaan pemotongan suku bunga oleh bank sentral, kondisi yang biasanya tidak menguntungkan bagi aset berisiko seperti cryptocurrency.

4. Bitcoin & Aset Crypto Peka terhadap Sentimen Makro Ekonomi

Bitcoin dan pasar crypto secara umum sering bereaksi terhadap data ekonomi penting seperti CPI AS karena perubahan di pasar inflasi dan ekspektasi suku bunga memengaruhi preferensi risiko investor. Ketika inflasi AS diperkirakan lebih tinggi, dana investor cenderung berpindah dari aset berisiko seperti BTC ke instrumen yang lebih aman, sehingga tekanan jual meningkat. Ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga Bitcoin bukan hanya soal indikator teknikal, melainkan juga berita dan data makro.

5. Tekanan Likuiditas & Volatilitas BTC Meningkat

Selain tekanan inflasi, faktor likuiditas pasar juga ikut berperan. Penurunan volume perdagangan dan likuiditas yang lebih rendah sebelum rilis data CPI menunjukkan bahwa trader lebih berhati‑hati memasuki pasar. Kombinasi volatilitas energi, rendahnya likuiditas, dan sentimen makro membuat BTC lebih mudah mengalami koreksi tajam dalam jangka pendek, apalagi di level psikologis penting seperti US$69.000.

6. Korelasi Harga Minyak & Sentimen Risiko Investor

Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak langsung pada inflasi tetapi juga mengubah persepsi risiko investor di pasar global. Ketika harga energi naik, biaya produksi dan distribusi barang ikut meningkat, yang pada akhirnya mendorong banyak investor menilai ulang eksposur mereka terhadap aset berisiko. Ini termasuk Bitcoin, di mana volatilitas sering meningkat bersamaan tekanan makro ekonomi yang lebih luas.

7. Level Kunci yang Perlu Dipantau Investor

Investor crypto perlu memperhatikan level‑level teknikal penting di pasar: jika Bitcoin menembus level psikologis US$69.000 (sekitar Rp1,24 miliar) ke bawah, potensi turun lebih lanjut ke US$65.000 (sekitar Rp1,17 miliar) terbuka lebar. Di sisi lain, stabilisasi inflasi atau turunnya harga minyak bisa membantu memulihkan momentum bullish untuk BTC dan pasar cryptocurrency yang lebih luas.

Baca Juga: Cadangan Minyak Jepang Tembus 254 Hari: Kok Bisa Punya Stok Energi Besar?

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoinusdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.

Nikmati pengalaman trading crypto yang mudah dan aman serta investasi emas crypto dengan mengunduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Dapatkan juga pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

Pantau Harga Minyak Dunia Lewat Token Crypto di Pintu

Bayangkan kamu bisa memantau dan berpotensi mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga minyak dunia secara langsung melalui aset crypto. Salah satu caranya adalah melalui Convex Finance (CVXON) dan saham AS lainnya yang dapat kamu akses di platform Pintu, sehingga investor dapat mengikuti dinamika pasar energi global dari ekosistem cryptocurrency.

Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, kamu bisa melihat pergerakan harga, melakukan transaksi dengan mudah, serta menjelajahi peluang diversifikasi portofolio antara aset komoditas global dan crypto dalam satu aplikasi.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi:
Coingape. Will Bitcoin Retreat? Wall Street, Kalshi’s US CPI Inflation Estimate as Oil Prices Rebound.
Diakses tanggal 12 Maret 2026.

Latest News

See All News ->

© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.

The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.

pintu-icon-banner

Trade on Pintu

Buy & invest in crypto easily

Pintu feature 1
Pintu feature 2
Pintu feature 3
Pintu feature 4
Pintu feature 5
Pintu feature 6
Pintu feature 7
Pintu feature 8
pintu-icon-banner

Trade on Pintu

Buy & invest in crypto easily

Pintu feature 1
Pintu feature 2
Pintu feature 3
Pintu feature 4
Pintu feature 5
Pintu feature 6
Pintu feature 7
Pintu feature 8