Jakarta, Pintu News – Harga Bitcoin (BTC) berada di sekitar Rp1,12 miliar namun menghadapi tekanan besar dari kenaikan yield obligasi AS dan lonjakan harga minyak yang memicu inflasi global.

Bitcoin (BTC) saat ini diperdagangkan di sekitar $66.126 atau setara Rp1.123.000.000. Meskipun masih bertahan di level ini, tanda-tanda pelemahan mulai terlihat seiring perubahan sentimen pasar.
Sebelumnya, BTC sempat mencapai $76.000 atau sekitar Rp1,29 miliar, namun gagal mempertahankan momentum bullish. Hal ini menandakan bahwa tekanan makro mulai mengalahkan sentimen positif di pasar cryptocurrency.
Baca Juga: 5 Fakta Besar BVNK Crypto: Mastercard Invest Rp30 Triliun untuk Masa Depan Stablecoin?

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mendekati level 5%, yang menjadi salah satu faktor utama tekanan pasar. Kenaikan yield membuat instrumen pendapatan tetap lebih menarik dibanding aset berisiko seperti crypto.
Secara historis, kenaikan yield sering diikuti penurunan Bitcoin (BTC). Contohnya, saat yield naik dari 1,45% ke 3,90% pada 2021–2022, BTC turun drastis dari $67.000 ke $16.256.
Jika yield benar-benar menembus 5%, Bitcoin diperkirakan bisa turun ke zona $58.632 hingga $55.302. Dalam rupiah, ini setara dengan sekitar Rp995.000.000 hingga Rp939.000.000.
Zona ini dianggap sebagai area demand berikutnya jika tekanan jual berlanjut. Artinya, BTC masih memiliki potensi koreksi lebih dalam sebelum menemukan keseimbangan baru.
Sentimen institusional juga mulai melemah, terlihat dari arus keluar dana (outflow) ETF Bitcoin spot. Dalam satu minggu, sekitar $296 juta atau Rp5,02 triliun keluar dari ETF.
Sebelumnya, ETF sempat mencatat inflow besar hingga $2,12 miliar atau sekitar Rp36 triliun. Perubahan ini menunjukkan investor mulai mengambil posisi defensif di tengah ketidakpastian pasar cryptocurrency.

Harga minyak Brent naik dari $75 ke $106 atau sekitar Rp1.799.000 per barel. Sementara itu, WTI berada di sekitar $101 atau Rp1.715.000 per barel.
Kenaikan ini memicu inflasi global karena biaya energi meningkat. Dampaknya, bank sentral cenderung menahan suku bunga tinggi, yang secara tidak langsung menekan pasar crypto.
Meskipun sering disebut sebagai “digital gold”, Bitcoin (BTC) saat ini masih sangat dipengaruhi oleh likuiditas global. Dalam kondisi inflasi tinggi dan suku bunga naik, aset crypto cenderung ikut tertekan.
Hal ini menunjukkan bahwa cryptocurrency belum sepenuhnya berfungsi sebagai lindung nilai seperti emas. Pergerakannya masih erat dengan faktor makro seperti yield, inflasi, dan arus modal global.
Baca Juga: Apa itu Grok AI? AI Real-Time dari Elon Musk yang Jadi Pesaing ChatGPT di 2026
Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan informasi terkini seputar dunia crypto dan teknologi blockchain. Cek harga Bitcoin, usdt to idr dan harga saham nvidia tertokenisasi lewat Pintu Market.
Sebagai aplikasi crypto yang aman, Pintu menghadirkan pengalaman trading crypto hingga akses investasi emas crypto secara mudah dan nyaman. Kamu juga bisa melihat harga emas perhiasan hari ini dan harga emas batangan hari ini untuk mendukung aktivitas investasi dan diversifikasi portofolio-mu serta belajar crypto lewat Pintu Academy.
Unduh aplikasi crypto Pintu melalui Play Store maupun App Store sekarang juga. Nikmati pengalaman web trading dengan berbagai tools trading canggih seperti pro charting, beragam jenis tipe order, hingga portfolio tracker hanya di Pintu Pro.

Bayangkan kamu bisa memantau dan berpotensi mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga minyak dunia secara langsung melalui aset crypto. Salah satu caranya adalah melalui Chevron (CVXON) dan saham AS lainnya yang dapat kamu akses di platform Pintu, sehingga investor dapat mengikuti dinamika pasar energi global dari ekosistem cryptocurrency.
Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, kamu bisa melihat pergerakan harga, melakukan transaksi dengan mudah, serta menjelajahi peluang diversifikasi portofolio antara aset komoditas global dan crypto dalam satu aplikasi.
*Disclaimer
Konten ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Pintu mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber yang relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar. Sebagai catatan, kinerja masa lalu aset tidak menentukan proyeksi kinerja yang akan datang. Aktivitas jual beli kripto memiliki risiko dan volatilitas yang tinggi, selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli Bitcoin dan investasi aset kripto lainnya menjadi tanggung jawab pembaca.
© 2026 PT Pintu Kemana Saja. All Rights Reserved.
The trading of crypto assets is carried out by PT Pintu Kemana Saja, a licensed and regulated Digital Financial Asset Trader supervised by the Financial Services Authority (OJK), and a member of PT Central Finansial X (CFX) and PT Kliring Komoditi Indonesia (KKI). Crypto asset trading is a high-risk activity. PT Pintu Kemana Saja do not provide any investment and/or crypto asset product recommendations. Users are responsible for thoroughly understanding all aspects related to crypto asset trading (including associated risks) and the use of the application. All decisions related to crypto asset and/or crypto asset futures contract trading are made independently by the user.